Berita Medan
Pempek Setiabudi, Usaha Kuliner Asli Palembang yang Bertahan Sejak 1999 di Medan
Sejak awal berdiri, lokasi berjualan memang kerap berpindah, namun tidak pernah keluar dari kawasan Setiabudi.
Penulis: Joy Silvana Aritonang | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Usaha kuliner Pempek Setiabudi masih eksis hingga kini dan menjadi salah satu pilihan pecinta pempek di Kota Medan.
Usaha ini telah berdiri sejak tahun 1999 dan resep diwariskan dari keluarga asli Palembang.
Pemilik Pempek Setiabudi, Safitri (42), mengatakan usaha tersebut awalnya dirintis oleh mertuanya.
Sejak awal berdiri, lokasi berjualan memang kerap berpindah, namun tidak pernah keluar dari kawasan Setiabudi.
“Awalnya itu dari mertua, sudah berdiri dari 1999, kita berpindah-pindah tapi selalu di Setia Budi,” ujar Safitri.
Ia menjelaskan, resep pempek yang digunakan merupakan resep asli Palembang yang diturunkan langsung dari mertua.
Hal ini menjadi salah satu kunci cita rasa yang tetap terjaga hingga sekarang.
“Kebetulan mertua memang asli Palembang. Resepnya ya diturunkan asli dari orang Palembang,” katanya.
Saat ini, Pempek Setiabudi beralamat di Ruko NCC, Jalan Setia Budi Nomor 1 Blok A, Tanjung Rejo, Sumatera Utara , tepat di samping tembok Bank BRI.
Usaha tersebut buka setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 23.00 WIB.
Selain itu, Pempek Setiabudi juga rutin membuka booth di Car Free Day (CFD) Kota Medan setiap hari Minggu.
Dalam proses produksinya, Safitri menegaskan bahwa pempek dibuat menggunakan bahan berkualitas, yakni Ikan Tenggiri asli yang diolah sendiri di rumah.
“Pempek yang kita produksi dari Ikan Tenggiri asli. Kita olah sendiri di rumah, pakai tepung kanji, telur, dan garam,” jelasnya.
Produksi pempek dilakukan setiap hari dan juga tersedia dalam bentuk frozen. Pempek beku tersebut dapat bertahan hingga satu bulan jika disimpan di freezer, dan tiga hingga empat hari jika disimpan di chiller.
“Kita produksi setiap hari, dan tersedia untuk frozen. Kalau disimpan di freezer bisa bertahan satu bulan. Kalau di chiller 3–4 hari,” ungkap Safitri.
| Sambangi Medan, J&T Connect Preneur Goes to Campus Dukung Bisnis Mahasiswa Scale-Up ke Nasional |
|
|---|
| Warisan Tari Melayu 1957 Diangkat Kembali Melalui Kajian dan Digitalisasi |
|
|---|
| Jaksa Tuntut Geng Motor Bunuh Pencari Pakan Babi di Medan 20 Tahun Penjara |
|
|---|
| Bertemu Komisi IX DPR RI, Rico Waas Ungkap Kasus TB-HIV Menurun dan Transformasi Kesehatan Medan |
|
|---|
| Pengedar Sabu di Gang Jati Dibuat Lemas Setelah Bergumul Dengan Kanit Reskrim Polsek Medan Area |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Safitri-atau-yang-lebih-akrab-disapa-Pipit-membuka-booth.jpg)