Berkunjung ke Kampung Terapung di Belawan
Kampung Terapung ini berdiri sejak 1958 dan dimulai hanya oleh sekitar 5-10 kepala keluarga.
Laporan wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pemandangan perkampungan sangat kental di Kampung Terapung atau juga yang sering disebut warga sekitar Kampung Nelayan, Belawan.
Rumah-rumah yang terbuat dari kayu, penyangganya pun kebanyakan juga kayu untuk berdiri dari permukaan laut yang sedalam dua meter.
Aktifitas warga membenahi kapal dan jala hingga menjemur ikan dan udang. Ya, mayoritas penduduk kampung ini adalah nelayan, karena itu disebut warga sekitar kampung nelayan.
Anak-anak di sana pun masih bisa bermain memanfaatkan ruang yang ada seperti bermain layang-layang dan lompat tinggi untuk cebur ke laut. Permainan yang tentu kini sudah jarang dimainkan anak kota.
Bukannya sedikit, jumlah penduduk di sana bahkan mencapai 565 kepala keluarga (KK). Sehingga berwisata jelajah kampung unik akan cukup membuat anda penasaran, alasan penduduk bisa menetap dan terus bertambah dan bertahan dengan profesi nelayan di kehidupan modern ini.

Safaruddin, Kepala Lingkungan Kampung Terapung, menuturkan Kampung Terapung ini berdiri sejak 1958 dan dimulai hanya oleh sekitar 5-10 kepala keluarga, tapi melihat pendapatan nelayan yang menetap di tengah laut dibandingkan nelayan yang bolak-balik rumah di kota dan balik ke laut, lebih tinggi menetap, warga pun berbondong kemari dan tahun ke tahun terus bertambah.
"Alhamdulillah-nya, peningkatan jumlah warga menarik perhatian orang kota, dan banyak yang peduli terhadap belajar-mengajar anak-anak penduduk, alat sumur bor untuk warga mendapatkan air bersih, dan sumbangan alat proses strerilisasi air minum agar warga tidak perlu menyeberang lagi kalau ingin mendapatkan air minum," jelasnya. (sil/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kampung_nelayan_belawan2_20151127_092718.jpg)