Breaking News:

Balai Kota Pematangsiantar akan Dikembalikan ke Bentuk Aslinya

"Warisan sejarah ini potensial dan ekonomis di kota Pematangsiantar, sehingga harus dikelola secara maksimal guna meningkatkan pendapatan masyarakat,"

Tribun Medan/ Royandi Hutasoit
Balai Kota Pematangsiantar 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Royandi Hutasoit

TRIBUN-MEDAN.com, PEMATANGSIANTAR - Penjabat Wali Kota Pematangsiantar, Jumsadi Damanik meninjau keadaan kantor Wali Kota Siantar. Ia menyampaikan bahwa pemko Pematangsiantar akan memelihara kantor Wali Kota Siantar sebagai kawasan heritage (warisan budaya) pada tahun 2016.

“Kantor Wali Kota Pematangsiantar ini adalah salah satu peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1920. Gedung ini pernah menjadi Kantor Gubernur Sumatera, era Mr. Teuku Muhammad Hasan, sejak 6 Pebruari sampai 29 Juli 1947. Kita akan mengembalikan bangunan heritage ini sesuai dengan aslinya, agar lebih terlihat bermakna historis dan memiliki daya tarik wisata,” ujarnya di Kantor Wali Kota Pematangsiatar, Jumat (11/12/2015).

Pj Wali Kota Pematangsiantar menuturkan pemugaran dilakukan secara hati-hati dengan berpedoman kepada gambar aslinya dahulu. Dengan demikian, bangunan ini nantinya dapat menggugah memori kolektif setiap orang yang melihatnya bahwa Kota Pematangsiantar ini sudah modern di zaman Hindia Belanda.

“Kita beruntung memiliki bangunan heritage seperti ini yang daerah lain tak memilikinya. Karena itu, sangat disayangkan jika kita sebagai generasi penerus tidak melestarikan warisan sejarah bangsa kita,” paparnya seraya memberi petunjuk bagian-bagian bangunan yang perlu segera direhab.

Ia menyampaikan bahwa selain kantor Wali Kota Siantar, terdapat gedung-gedung yang merupakan peninggalan jaman belanda yang bisa menjadi pemikat bagi para wisatawan.

"Tak jauh dari Kantor Wali Kota, ada Siantar Hotel yang juga warisan zaman Belanda yang dibangun tahun 1913, serta Persis di belakang Siantar Hotel, Belanda juga membangun Stasiun Kereta Api yang dibangun tahun 1915. Potensi ini bisa kita manfaatkan sebagai ikon kota kita," sebutnya.

Selain kedua bagunan tersebut sebut Pj Wali Kota, Belanda juga membangun Taman Hewan Pematang Siantar yang sekarang terletak di Jalan Gunung Simanuk-manuk, Kelurahan Teladan Kecamatan Siantar Barat, pada tahun 1936 dengan lahan seluas 4,5 hektare yang bisa dimanfaatkan.

"Warisan sejarah ini potensial dan ekonomis di kota Pematangsiantar, sehingga harus dikelola secara maksimal guna meningkatkan pendapatan masyarakat," tuturnya.

Sekaitan dengan pelestarian kawasan heritage tersebut, Jumsadi menyampaikan bahwa jalur kereta warisan kolonial Belanda yang menghubungkan Pematang Siantar ke Medan ini perlu dikembangkan.

“Harus kita pikirkan bersama, bagaimana caranya agar secepatnya ada jalur khusus kereta api dari Pematangsiantar menuju Bandara Kuala Namu. Jika ini bisa direalisasikan dengan bantuan Kementrian Perhubungan, tentu sangat berpeluang mendulang devisa bagi Pematangsiantar sebagai gerbang masuk menuju Parapat dan Danau Toba. Tentu akan banyak pengusaha maupun masyarakat yang mendapat manfaat dari program ini,” tandasnya.

(cr7/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved