Mau Berwisata ke Pulau Mursala, Hati-hati Penebang Hutan Liar!

Pulau Mursala merupakan pulau dengan benteng tinggi berupa tebing dan bebatuan granit di tiap sudut pulau.

Tribun Medan/Silfa Humairah
Wisatawan berenang di pinggiran Pulau Mursala. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah

TRIBUN-MEDAN.com-Fenomenal hingga mancanegara, bahkan menjadi lokasi syuting film Kingkong di tahun 2005, Pulau Mursala atau Mansalaar Island, Barus, Tapanuli Tengah, menjadi destinasi traveler yang tidak boleh dilewatkan jika menyambangi Sumatera Utara.

Pulau Mursala merupakan pulau terbesar yang dimiliki Kabupaten Tapanuli Tengah, terletak di sebelah barat daya kota Sibolga dan masuk dalam wilayah Kecamatan Tapian Nauli.

Pulau ini berada di antara Pulau Sumatera dan Pulau Nias. Luas Pulau Mursala sendiri menjadi satu-satunya pulau raksasa yang luas sendiri pun mencapai 8.000 hektare.

Tapi, jangan harap anda bisa melihat hamparan pasir nan luas, pemukiman penduduk hingga aktifitas kehidupan manusia di pulau tersebut. Pasalnya, walaupun paling luas diantara pulau lainnya, Pulau Mursala merupakan pulau dengan benteng tinggi berupa tebing dan bebatuan granit di tiap sudut pulau.

Pepohonon rimbun pun tumbuh hingga ke atas bukit-bukit tinggi di tanah pulau Mursala, sehingga tidak tampak celah kehidupan manusia di dalamnya.

Hanya simpang siur adanya masyarakat suku dalam yang berada di dalam pulau dan tidak pernah keluar atau menampakkan diri.

Menurut Aman, awak kapal, ada yang bilang di dalam pulau ada suku asli yang tidak pernah keluar dari pulau.

"Tapi, seringnya kami ketemu dengan para pelaku illegal logging di dalam. Kalau lagi bawa wisatawan ke dalam pulau untuk lihat hutan mangrove di dalam, dan alam batu granit pulau Mursala, biasanya sampai pinggiran pulau saja. Karena pelaku illegal logging bisa panik lihat ada yang datang dan bisa asal menembak, takutnya mereka pikir ada polisi atau penyusup," katanya.

Jadi, bagi wisatawan pendatang, jangan nekat menjelajah ke dalam pulau tanpa sepengetahuan penduduk sekitar pulau, apalagi tidak membawa pemandu dari kalangan tokoh sekitar.

"Kalau urgent sekali ini meneliti atau jelajah alam, sebaiknya didiskusikan dengan penduduk sekitar pulau, atau hanya sampai pinggiran pulau saja." jelasnya. (sil/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved