Kolom Bahasa
Tentang Si Kembar "Di" dan "Di-" yang Kian Identik
Sebaliknya, kegagalan demi kegagalan dalam mempergunakannya semakin ke kini malah menjadi semakin kelewat plastis.
"Hei, Di," panggil X kepada Di-.
Di lain waktu, "Hei, Di-," sapa X kepada Di.
Menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan baik memang tak mudah. Sebaliknya, kegagalan demi kegagalan dalam mempergunakannya semakin ke kini malah menjadi semakin kelewat plastis. Mereka bisa dijumpai dengan begitu mudah seperti kita melihat tali body home (BH) dari balik punggung wanita-wanita yang memakai pakaian bening yang banyak memajang diri di mal-mal kelas satu.
Satu di antara penggunaan bahasa yang sering ditemui salah adalah perihal membedakan "di" (kata depan) dengan "di-" (imbuhan). Pelakunya tak terkecuali pula kaum intelektual, bukan?
Beberapa contoh kegagalan yang saya dapatkan secara langsung dari berbagai sumber yang tak perlu disebutkan, seperti: "Ditulis" ditulis dengan "di tulis", "di sana" ditulis "disana", "di depan" ditulis "didepan", "di antara" ditulis "diantara", "diatasi" ditulis "di atasi", "ditempati" ditulis "di tempati", dan masih banyak lagi.
"Di" dan "Di-" jadinya seperti anak kembar yang sangat identik, sehingga untuk orang-orang yang gagal mengenalinya dengan baik, akan sangat sulit dibedakan.
Maka, baik "Di" maupun "Di-", seandainya manusia kembar, mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal kepada X karena kerap salah membedakan mereka.
Apa boleh buat, sudah menjadi takdir bahwa "Di" dan "Di-" diciptakan dan terdaftar dalam khazanah bahasa Indonesia sebagai dua partikel berbeda (katakanlah demikian, untuk tidak menyebutkannya satu per satu secara spesifik) yang sangat mirip, baik secara wajah maupun secara panggilan.
Tak bisa pula kita menuntut agar salah satu di antara mereka dihapuskan saja, lantas digantikan dengan suatu bentuk lain yang tidak lagi identik, agar X tak lagi salah membedakan mereka. Misalnya: "Di" diganti dengan "At" atau "In" atau "On"; atau "Di-" diganti dengan "-Ed" dan diletakkan di bagian belakang kata, seperti yang kita temui dalam bahasa Inggris.
Penyamaran wajah "Di-" dan "Di" ini saya kira fenomenal dan perlu diseriusi. Andai diadakan daftar kasus berbahasa fenomenal yang ada di zaman ini - zaman di mana hampir-hampir tak ada lagi orang yang menulis dengan pena dan kertas - maka ia akan menjadi salah satu pengisi daftar tersebut.
Kenapa ketersamaran - dalam bentuk tindakan penyamaan atau kegagalan membedakan - itu bisa terjadi sedemikian sering?
Jikalah "Di" dan "Di-" tersamarkan oleh bunyi, bisakah keduanya kemudian masuk juga dalam daftar kata-kata yang homonim?
Homonim, sebagaimana juga halnya homofon dan homograf, memang kerap menciptakan kegalauan berbahasa. Seperti halnya "berubah" yang lebih sering dan bahkan hampir selalu terdengar dan terucap sebagai "be-rubah" ketimbang "ber-ubah", seperti dalam ulasan Kang Seno Gumira Ajidarma beberapa waktu lalu.
Tetapi "spesies homonim" yang satu ini saya kira bukan homonim biasa. Ia homonim yang ruwet terutama karena tak hanya sekadar kata yang statusnya sama - yakni sama-sama kata benda, misalnya. Keruwetannya jelas berada satu tingkat di atas homofon dan homograf.
Homofon, misalnya, masih bisa diuraikan dalam tulisan (contoh: "bank" dengan "bang"). Begitu juga dengan homograf, yang bisa dijelaskan dengan pelafalan (contoh: "memerah" (dalam arti memeras) dan "memerah" (dalam arti berubah jadi merah)). Sedangkan homonim manalah bisa demikian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/gadget_20151208_121959.jpg)