Kolom Bahasa

Event Wirid, Event Pengajian

Kata "event" hampir selalu dituliskan tanpa dimiringkan, seakan merupakan kata serapan yang telah dikukuhkan.

Tiap kali membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), saya selalu takjub. Betapa manusia diciptakan dengan anugerah yang sempurna, yakni dengan akal, yang tak dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Dengan akal itu, manusia kemudian menciptakan huruf-huruf, lalu kata-kata. Lalu jadilah kamus yang begitu tebal yang isinya tak akan mungkin dapat dikuasai bahkan hingga sampai mati.

Tapi rupanya, kamus setebal itu belum lagi apa-apa, ketika bahasa Indonesia dan para penggunanya menggunakan kata-kata yang tak ada di dalamnya. Yang paling sering adalah penggunaan kata-kata bahasa asing yang dilakukan dengan sering hingga kata-kata itu seakan sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia.

Salah satunya yang saya tangkap adalah kata "event". Bukan perkara baru bahwa banyak orang Indonesia, terutama mereka yang hidup di kota, atau pernah ke kota dan berinteraksi dengan segala sesuatu yang menandakan kekotaan, menggunakan kata ini dengan mudah dan mudah pula pendengarnya menangkap apa maksudnya.

"Anda tidak akan kecewa, pasalnya event bookfair yang diselenggarakan oleh Kompas Gramedia grup ini menyediakan lebih dari 20.000 buku yang bisa didapat dengan harga yang lebih murah dari biasanya." (Sumber: Kompas.com, "Ada 20.000 Buku Murah di KG Fair")

"Diakui oleh Daswar, sampai saat ini untuk kalender penyelenggaraan event Dyandra di 2015 sebagian besar masih dijadwalkan di luar ICE BSD." (Sumber: Kontan.co.id, "Event Besar Jadi Pembuka ICE BSD di Awal 2015")

Sebagian orang ada pula yang mengubah (atau menggubah?) kata "event" menjadi "even", dengan bayangan (mungkin) bahwa "even" adalah bahasa Indonesia dari "event". Untuk yang disebutkan terakhir ini, jika benar demikian alasannya, maka akan menjadi suatu kengawuran berbahasa yang kelewat menggelikan.

Dalam koridor pinjam-meminjam kata dari bahasa asing, tentu saja tak ada yang salah dengan penggunaan kata "event", sebagaimana kita juga sering meminjam kata "driver", "bully", dan lainnya, asalkan tetap ditulis dengan huruf kursif.

Namun masalahnya, kata "event" hampir selalu dituliskan tanpa dimiringkan, seakan merupakan kata serapan yang telah dikukuhkan.

Itu baru satu perkara. Selanjutnya, pemilihan kata "event" sendiri, jika dimaksudkan sebagai pengganti kata "acara" (ini yang paling sering dijumpai), agaknya perlu dikaji ulang. Sebab, saya kira, tak semua "acara" dapat dibahasakan dengan kata "event".

Dalam Oxford Dictionaries, kata "event" berarti "a thing that happens or takes place, especially one of importance; a planned public or social occasion; each of several particular contests making up a sports competition; a single occurrence of a process".

Dalam Kamus Inggris-Indonesia yang disusun oleh John M Echols dan Hassan Shadily, "event" berarti: 1. kejadian, peristiwa; 2. Pertandingan, perlombaan.

Maka, jika dilihat dari banyaknya orang yang sangat gandrung memakai kata "event", ada baiknya kata itu segera diserap dan dikukuhkan ke dalam KBBI. Entah itu diserap bulat-bulat, atau agak diubah sedikit, misalnya menjadi "iven" atau "ivent". Seperti yang sudah dilakukan pada kata "icon", yang kini sudah tersedia dalam KBBI dengan bentuk "ikon".

Sebab toh sulit memaksakan orang-orang untuk menggunakan kata-kata asli bahasa Indonesia, yang barangkali dianggap tidak keren.

Dan jangan-jangan, tak lama lagi, ibu-ibu dan bapak-bapak di kampung pun, untuk membilangkan "wirid", "pengajian", atau "tahlilan", juga akan memakai kata "event". Hehehe! 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved