Sungai Jawi, Alternatif Sumber Air Bersih Kota Pontianak
Kebutuhan akan air baku PDAM untuk didistribusikan kepada masyarakat Kota Pontianak semakin meningkat.
TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Kebutuhan akan air baku PDAM untuk didistribusikan kepada masyarakat Kota Pontianak semakin meningkat.
Sungai Kapuas yang menjadi salah satu sumber air baku saat ini dinilai masih belum cukup memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan pada saat musim kemarau, air yang bersumber dari Sungai Kapuas terintrusi dengan air laut sehingga menyebabkan air yang disuplai terasa asin.
Untuk itulah, Pemerintah Kota Pontianak berupaya mencari alternatif sumber air baku, salah satunya air yang berasal dari Sungai Jawi.
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji meyakini, Sungai Jawi layak menjadi sumber air baku PDAM sebagai alternatif dikala air Sungai Kapuas terinterusi air laut. Hal itu diungkapkannya setelah menerima hasil penelitian awal oleh Oasen, perusahaan air minum dari Belanda.
Oasen melakukan penelitian terhadap Sungai Jawi sepanjang 6 kilometer terkait kelayakan sungai itu sebagai sumber air baku PDAM saat musim kemarau. Dari penelitian berbagai aspek yang dilakukan Oasen, hasilnya, Sungai Jawi bisa menjadi sumber air baku dengan kemampuan produksi sebanyak 60 hingga 100 liter per detik. Jumlah itu mampu menyuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat untuk beberapa hari.
“Saya yakin Sungai Jawi itu layak sebagai alternatif air baku PDAM disaat kemarau,” ujar Sutarmidji, Sabtu (27/2/2016).
Penelitian yang dilakukan tersebut merupakan penelitian awal dan Oasen akan membantu Pemkot untuk melakukan penelitian lanjutan. Penelitian tersebut juga baru dilakukan sepanjang 6 kilometer, sedangkan Sungai Jawi hingga ke Sungai Kakap panjangnya sekitar 20 kilometer.
Apabila Sungai Jawi sepanjang 20 kilometer dilakukan normalisasi, dibuat pintu air sejumlah empat titik dan limbah yang berasal dari rumah tangga ke Sungai Jawi dikurangi, maka dirinya yakin PDAM sangat layak untuk mengolah air Sungai Jawi sebagai air baku pada musim kemarau.
“Kita akan sampaikan ke Kementerian PU. Saya berharap, mudah-mudahan Bapak Gubernur Kalbar bisa mengusulkan sebuah waduk air dari sejumlah waduk yang diprogramkan pemerintah pusat,” ungkapnya.
Menurut Sutarmidji, Oasen sudah beberapa kali melakukan penelitian di Pontianak. Sama seperti di Pontianak, di negeri kincir angin juga terdapat beberapa wilayah gambut. Wilayah gambut tidak layak dibangun waduk sebab menelan biaya yang tidak sedikit.
Dari penelitian itu, wilayah yang layak dibangun waduk adalah daerah Punggur di mana struktur tanahnya adalah tanah liat.
“Airnya masih terjaga kebersihannya dan dilindungi pohon-pohon sehingga air masih jernih,” ungkap Sutarmidji.
Semestinya ruang terbuka hijau dibangun waduk terutama di lokasi batas kota. Terlebih jarak Kabupaten Kubu Raya hanya 4 kilometer dari Kota Pontianak, sedangkan saat ini, sumber air baku PDAM Kota Pontianak masih mengandalkan air dari Penepat yang jaraknya sekitar 25 kilometer.
“Ada suatu sungai di Punggur, saya pernah telusuri sungai itu aksesnya ke Sungai Jawi dan airnya bagus, nanti akan kita kaji,” jelasnya.
Sementara itu, Jeroen Schmaal, Director Customers and Overseas Oasen, mengatakan, pihaknya diminta Pemkot Pontianak untuk melakukan kajian di Sungai Jawi dengan tujuan untuk meneliti kelayakan apakah sungai tersebut bisa dijadikan sebagai air baku PDAM ketika musim kemarau atau saat terjadi intrusi air laut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/sungai-jawi_20160227_131442.jpg)