Kolom Bahasa

Perkenalkan! Risak, Pengganti Kata Bully

Fakta bahwa "bully" adalah kata bahasa Inggris tak lagi menjadi soal. Yang penting "bully" enak diucap dan mem-bully itu asyik.

Thinkstock
ilustrasi 

JIKA ada satu kata yang menengarai keributan di media sosial pekan ini, itu adalah "bully". Tak perlulah saya menunjuk pada hal yang membuat kata itu melambung. Saya khawatir akan banyak resultan, terutama bila tanggapan terhadap tulisan ini akan malah melebar entah ke mana-mana.

Kata "bully", seingat saya kalau tak salah ingat dan tak salah tanggap, mulai populer seiring dengan majunya teknologi dan penggunaan internet. Perkara sejak kapan, saya tak tahu pasti. Yang pasti, kata itu semakin hari semakin dikenal, hingga anak kecil dan wong ndeso pun tahu apa maksudnya.

Kemudahan orang-orang kita mencerna kata "bully" sepertinya berbanding lurus dengan kelincahan penerapannya dalam bentuk tindakan. Fakta bahwa "bully" adalah kata bahasa Inggris tak lagi menjadi soal. Yang penting "bully" enak diucap dan mem-bully itu asyik.

Dalam Oxford English Dictionary, "bully" berarti: (noun) a person who uses strength or influence to harm or intimidate those who are weaker; (verb) use superior strength or influence to intimidate (someone), typically to force them to do something.

Diterangkan dalam kamus terbitan Oxford University Press itu, kata "bully" awalnya masuk ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-16, berasal dari kata bahasa Belanda, "boele", yang artinya "yang terkasih" atau "yang tersayang", kurang lebih sama halnya dengan "sweetheart" atau "darling". Namun, seiring waktu, maknanya perlahan bergeser hingga menjadi seperti sekarang.

Bahasa Indonesia sebenarnya punya beberapa kata yang makna dan artinya kurang lebih sama dengan "bully". Jika "bully" kita letakkan sebagai verba, kata-kata yang sepadan itu adalah "mengejek", "mengolok-olok", "meledek", "mencemeeh", "mengecimus", atau "mengintimidasi".

Namun, meski demikian, tetap saja "bully" tak tergantikan. Orang-orang (terutama orang Indonesia, mungkin) tetap lebih menyukai "bully".

Jika alasannya adalah bahwa "bully" lebih enak diucap dan sedang mengetren pula, tentu itu perkara lain. Namun ternyata, tak sedikit alasan yang berpangkal pada pendapat bahwa kata-kata seperti "mengejek", "mengolok-olok", "meledek", "mencemeeh", "mengecimus", atau "mengintimidasi" itu tak benar-benar pas untuk disepadankan dengan "bully".

Ada penilaian, bahwa ada "sesuatu yang khas" dari kata "bully" yang tak terkandung dalam kata-kata tersebut.

Terhadap alasan ini, tentu saja diperlukan penelusuran yang lebih mendalam ke dalam khazanah kata bahasa Indonesia. Barangkali yang dimaksud "sesuatu yang khas" dalam kata "bully" itu adalah bahwa ia dilakukan secara massal, bertubi-tubi, atau berkelanjutan dan kadang kala tak berkesudahan, dan seringkali (entah benar atau tidak) dilakukan melalui media elektronik dalam jaringan internet.

Dari situ, sejumlah pakar bahasa kemudian mengajukan kata "rundung" (merundung) dan "risak" (merisak). Di beberapa media massa nasional, dua kata ini mulai diperkenalkan dalam beberapa waktu belakangan, walaupun kita tak benar-benar yakin adakah kata-kata ini dapat diterima dengan baik sebagai pengganti "bully".

Tetapi, yakin tak yakin, saya kira kata-kata bahasa Indonesia tetap harus diperkenalkan, disebarluaskan, dengan cara dipergunakan, demi kelestarian --dan bila mungkin juga demi perkembangan.

Jikapun kita harus memilih satu dari dua kata tersebut sebagai sintesis akhir, kita harus memeriksa kamus kebanggaan kita, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI, "rundung" berarti: 1) mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan; 2) menimpa (tentang kecelakaan, bencana, kesusahan, dan sebagainya). Sedangkan "risak" memiliki arti mengusik; mengganggu.

Lalu yang mana yang harus dipilih untuk menggantikan "bully" yang asing itu? Saya sendiri memilih "risak". Tentu dengan berbagai alasan.

Dari keterangan KBBI, kata "rundung" memang lebih tepat untuk disepadankan dengan "bully" ketimbang "risak". Namun, dalam penggunaannya sehari-hari, "rundung" cenderung dan hampir selalu dimaknai sebagai "menimpa" (tentang kecelakaan, bencana, kesusahan, dan sebagainya), sehingga akan terasa ganjil apabila dipaksa untuk menggantikan "bully". Sama halnya dengan kata "keturunan" yang terlanjur selalu dimaknai sebagai "anak atau generasi penerus" ketimbang "keadaan atau sesuatu yang merupakan hasil dari penurunan".

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved