Kolom Bahasa
Harapan di Balik Kata "Akhirnya"
Saya menatap mata bocah itu. Dia menatap saya balik. Bibirnya menyungging, tapi bukan tersenyum, melainkan merengek.
MENGENANG Riska Amanda
Senin, 11 April 2016, saya menengok seorang balita asal Kabupaten Batubara, penderita tumor teratoma yang tumbuh ganas di pangkal pahanya, di Rumah Sakit Umum Daerah dr Pirngadi, Medan.
Hati saya bergetar dan meringis kala itu. Saya menatap mata bocah itu. Dia menatap saya balik. Bibirnya menyungging, tapi bukan tersenyum, melainkan merengek. Ia menghentikan sejenak tangis saat saya memberinya cokelat berbentuk payung.
Balita itu bernama Riska Amanda. Saya masih ingat jelas bagaimana ia menangis di tengah-tengah keriuhan dan desak-desakan orang-orang yang berlalu-lalang di rumah sakit yang mirip pasar ramai itu. Ia, waktu itu, terpaksa harus menunggu berjam-jam karena pelayanan yang minim empati dari pihak rumah sakit. Sekadar saya sampaikan, ia sudah tiba di rumah sakit itu pada pukul 05.00 dan baru dilayani oleh dokter pada pukul 12.30 WIB. Itupun pihak rumah sakit enggan merawat inap Riska lantaran rumah sakit yang merujuknya, RS Kuala Gunung, menuliskan status rujukan Riska sebagai pasien rawat jalan.
Meski kemudian, pada keesokan harinya --setelah terdesak oleh pemberitaan media massa-- Riska dirawat inap di rumah sakit Pemerintah Kota Medan itu, tumornya tak lantas dapat diangkut (dioperasi). Komplikasi penyakit dalam tubuhnya menyebabkan ia harus menjalani perawatan yang lain terlebih dahulu.
Satu masalah lain yang harus diselesaikan lebih dahulu itu adalah adanya cairan di paru-paru Riska. Karena itu, dari RSUD Pirngadi karena alasan keterbatasan alat, ia dirujuk ke RSUP Adam Malik, Medan.
Di RSUP Adam Malik, setelah lebih dari dua pekan dirawat dan tumornya belum lagi diangkut, Jumat malam, 29 April 2016 sekira pukul 19.00 WIB, balita satu setengah tahun itu mengembuskan napas terakhir, meninggalkan dunia. Kabar yang sontak tanpa meminta izin mengedutkan mata saya.
Kabar meninggalnya Riska Amanda berikut ungkapan belasungkawa kemudian disebarluaskan oleh orang-orang melalui media sosial. Rata-rata mereka menulis dengan kalimat "Innalillahi/turut berduka, bayi/balita penderita tumor ganas asal Batubara itu akhirnya meninggal dunia". Banyak orang berkomentar, menyatakan rasa duka dan mendoakan balita tersebut.
Sepintas, tak ada yang salah dari kalimat yang disebarluaskan itu. Tetapi jika dicermati secara saksama, penggunaan kata "akhirnya" dalam kalimat tersebut jelas tak bisa dianggap biasa. Dalam hal ini, tercipta pertentangan yang barangkali tak tertandai dalam konteks kespontanan ungkapan belasungkawa --pertentangan yang hanya dapat tertangkap oleh konteks kebahasaan.
Dalam konteks kebahasaan, kita telah "menyepakati" bahwa kata "akhirnya" dalam sebuah ungkapan, secara implisit, selalu mengandung semacam harapan atau keinginan, bahwa sesuatu yang diungkapkan itu memang telah lama dinantikan atau diinginkan oleh orang-orang.
Maka, penggunaan kata "akhirnya" dalam kalimat tersebut, (dapat) menciptakan kesan seakan-akan yang menuliskan ungkapan selama ini berharap Riska Amanda segera meninggal dunia --meskipun belum tentu atau sama sekali tidak bermaksud demikian.
Penyisipan kata "akhirnya" yang tidak pas dalam sebuah ungkapan tentu saja akan dianggap kejam dan karenanya dapat membahayakan. Andai saja pihak keluarga atau siapa saja yang selama ini memerhatikan dan mengikuti perkembangan kabar tentang Riska tergolong orang yang memiliki kesadaran berbahasa, maka sudah barang tentu mereka akan tidak senang dan mengutuk penulisnya.
Alangkah bajiknya memang jika kata "akhirnya" hanya dipergunakan untuk menyatakan ungkapan atas sesuatu (yang baik) yang memang diharap-harapkan atau diinginkan, seperti, misalnya, "Pembunuh anak kandung sendiri itu akhirnya diringkus polisi" atau "Upah minimum Kota Medan akhirnya dinaikkan menjadi Rp 3 juta."
Lalu, bagaimana dengan keberadaan kata/frasa "innalillahi" atau "turut berduka" di sana? Bukankah itu sudah menunjukkan rasa belasungkawa? Memang.
Ini juga menarik karena ternyata, secara tidak sadar, orang sering menceploskan dua ekspresi yang bertentangan sekaligus dalam waktu yang bersamaan --sesuatu yang biasanya hanya dilakukan dalam ungkapan yang bernada candaan atau tidak serius, semisal "Brengsek, bagus sekali suara anak itu!".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/riska-amanda-penderita-tumor-ganas_20160430_160217.jpg)