Kolom Bahasa
"Saya" yang Kini Sudah Naik Kasta
Pada kata "saya" yang entah kelima entah keenam, seorang dari tiga kawan yang lain, mengatakan, "udah saya-saya aja ya sekarang".
SEKALI lagi tentang perselisihan antara "saya" dan "aku": ada pergeseran budaya yang tak sekadar perkara pertuturan yang begitu terasa, terutama kurun satu dasawarsa ini, tentang dua kata ganti orang pertama tunggal ini--pergeseran yang sungguh tidak terbantahkan lagi.
Ceritanya, beberapa waktu lalu, saya bertemu kawan lama saya, kawan saya waktu SD. Mereka ada empat orang. Kami, berlima, kemudian duduk di satu warung yang menjual aneka makanan dan minuman. Kami mengobrol banyak hal.
Seorang dari kawan saya, A namanya, yang kebetulan bernasib lebih beruntung dari kami, bertutur sangat sopan sekali (bagi kebanyakan orang dianggap formal sekali). Dia menggunakan kata "saya" untuk membilangkan dirinya.
Saya sudah was-was sejak kata "saya" pertama kali meluncur dari mulutnya. "Wah, si kawan pakai saya-saya," batin saya sambil memerhatikan tiga kawan yang lain; mata mereka menatap ke arah si A agak serius, bibir mereka cengar-cengir, dan dugaan saya, tak lama lagi si A pasti ditegur.
Dan benar saja. Pada kata "saya" yang entah kelima entah keenam, seorang dari tiga kawan yang lain, mengatakan, "udah saya-saya aja ya sekarang". Lalu yang dua lagi menambahi, "namanya orang sukses, ya, gitulah," dan, "segan awak (saya) jadinya."
Si A cuma tersenyum kecil, tak merasa bersalah ataupun malu karena mendapatkan reaksi demikian; faktanya memang kami sudah lama sekali tidak bertemu dia karena dia bekerja di luar kota dan menjadi manager sebuah perusahaan. Akan berbeda halnya barangkali jika saya yang mengucapkan demikian. Di samping saya memang belum punya nyali yang kuat untuk menyebut diri dengan kata "saya" kepada sejawat, saya juga sepenuhnya sadar akan konsekuensi yang akan timbul bila saya melakukannya. Apalagi kami berempat, kecuali si A, cukup rutin berkongko-kongko.
Bagaimana bisa saya sadar? Barangkali jawaban atas pertanyaan ini yang ingin saya uraikan di sini.
Saya masih ingat, dulu, waktu saya kecil, orangtua saya akan sangat marah jika saya mengucap "aku", terutama kepada orang yang lebih tua atau orang yang tidak dikenal. Sekali saja saya terdengar membilang "aku", saya akan dibentak kalau bukan dicubit. Begitu juga di sekolah. Guru saya waktu itu sangat menganjurkan kami untuk menggunakan kata "saya". Pendeknya, mengucapkan kata "aku" berarti tidak sopan dan karena itu jangan dilakukan.
Kata "aku", dulu seingat saya, hanya digunakan di saat-saat tertentu dan oleh orang-orang tertentu. Misalnya oleh orang yang sedang marah, oleh orangtua kepada anaknya atau kepada orang yang lebih muda, oleh orang yang tidak dididik dengan baik atau oleh anak yang nakal.
Di kesempatan lain di tempat lain, kata "aku" digunakan oleh pihak yang punya kuasa atas yang lain, misalnya dalam nubuat yang disampaikan Tuhan, seperti, "...Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu..." (Kejadian, 1:7).
Sementara kata "saya", secara etimologi pun, sudah menunjukkan bentuk kesantunan yang mendalam (kata "saya" berasal dari kata "hamba sahaya" yang berarti hamba atau budak).
Lalu kita ingat bagaimana Chairil Anwar menuliskan puisi "Aku" yang legendaris itu. Kata "aku" dipilih Chairil sebagai bentuk perlawanan diri terhadap apa yang selama masa itu menjajah. "Aku"-nya Chairil adalah "aku" yang melawan; "aku" yang mencoba menghapus adanya "hubungan yang vertikal" pada masa itu. Intinya, "aku", pada masa Chairil Anwar hidup hingga masa saya masih duduk di bangku sekolah dasar (sampai tahun 1990-an), masih berupa tabu.
Sekarang keadaannya telah berubah dan bahkan--semoga saya salah--terbalik. Setidaknya di banyak daerah urban dan suburban di Indonesia, kata "saya" sekarang berada pada posisi "aku" dan "aku" pada posisi "saya". Dan orang-orang tua sekarang tidak lagi memarahi anaknya bila mengucap "aku".
Saya tak tahu apakah "horizontalisasi" hubungan (peniadaan derajat) itu ada dengan "meng-aku-aku". Saya juga tak tak yakin, atas pergeseran ini, apakah unggah-ungguh yang dirindukan oleh Sapardi Djoko Damono itu telah benar-benar hilang (baca Kolom Bahasa Majalah Tempo edisi 7 September 2015 berjudul 'Saya, Aku').
Yang pasti, menyebut diri dengan kata "saya" sekarang menjadi hal yang cenderung dihindari banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah saling mengenal. Sebaliknya, menggunakan kata "aku" dianggap lebih "bersahaja" dan "merakyat", dan karenanya menjadi hal yang sangat lazim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/bahasa-aku_20160507_201508.jpg)