Penganut Parmalim Tidak Konsumsi Daging Babi
Pada perayaan upacara Sipaha Lima oleh kepercayaan Parmalim yang berlangsung selama tiga hari di Huta Tinggi, Kabupaten Tobasa, daging
Laporan Wartawan Tribun Medan / Royandi Hutasoit
TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Pada perayaan upacara Sipaha Lima oleh kepercayaan Parmalim yang berlangsung selama tiga hari di Huta Tinggi, Kabupaten Tobasa, daging yang dihidangkan untuk dikonsumsi oleh umat Parmalim adalah daging kerbau.
"Daging kerbau yang kami hidangkan ini untuk dikonsumsi. Kami tidak mengkonsumi daging babi," ujar Sophian Silalahi, salah seorang umat Parmalim yang mempersiapkan konsumsi umat parmalim, Senin (18/7/2016).
Kata Sophian untuk bersantap siang pada perayaan Sipaha Lima terdapat tiga kali tahap makan siang, tahap pertama yang bersantap siang adalah kaum perempuan setelah kaum perempuan, kaum laki-laki melakukan santap siang dan yang terakhir adalah giliran yang mempersiapkan makanan yang sering disebut parhobas.
"Perempuan dahulu, baru laki-laki, terakhir kami para parhobaslah," ujarnya.
Kata Sophian para parhobas pada perayaan Sipaha Lima ini adalah anak-anak muda baik perempuan dan laki-laki. "Anak muda para parhobasnya, kalau ada pun orangtua, untuk mengkordinirlah," ujarnya.
Katanya menentukan seseorang itu apakah sudah berkeluarga atau tidak bisa dilihat dari pakaian yang dikenakannya pada perayaan Sipaha Lima ini.
"Kalau pakai tali-tali (ikat kepala) berwarna putih, berarti laki-laki tersebut sudah menikah dan membentuk keluarga. Kalau perempuan yang mengenakan kebaya yang sudah menikah," ujarnya.
Kepercayan parmalim adalah kepercayaan asli orang batak. Menurut seorang umat Parmalim bermarga Sirait, upacara Sipaha Lima ini merupakan ritual tahunan yang mereka lakukan untuk menyampaikan rasa syukurnya.
"Upacara Persembahan Sipaha Lima adalah upacara sebagai tanda rasa syukur atas anugerah dari yang kami percayai, dan ritual ini kami lakukan setiap tahun," ujarnya.
Ia menuturkan bahwa upacara persembahan ini adalah upacara yang bersumber dari adat batak.
"Ugamo Parmalim ini adalah kepercaayan asli orang batak, segala aturan maupun ritual yang kami lakukan ini adalah ritual adat batak," ujarnya.
(ryd/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/umat-parmalim-melakukan-peletakan-persembahan-tribun_20160718_145105.jpg)