Monumen Sisingamangaraja Jadi Ikon Kebebasan dari Penindasan
Pada saat usianya baru 19 tahun ia dinobatkan menjadi raja. Ia pun dikenal sebagai sosok raja yang muda tapi bijaksana dan pemberani.
Laporan wartawan Tribun Medan/ Silfa Humairah
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Monumen Sisingamangaraja XII di Jalan Sisingamangaraja merupakan satu di antara beberapa ikon kota Medan.
Kini monumen tersebut tampak lebih menarik perhatian. Monumen yang selalu tampak kusam dan kotor ini baru saja disulap.

Rumah adat Batak yang berada di area monumen Sisingamangaraja. (Tribun-Medan.com/ Silfa Humairah)
Lapisan cat baru dilumuri di seluruh bagian patung. Keindahan kian menyeruak dengan penambahan aneka bunga dan difungsikannya kembali area kolam.
Monumen patung Sisingamangaraja dibangun tinggi dengan pijakan seekor kuda, khas Raja Sisingamangaraja.
Ikon yang mengisahkan tentang perjuangan seorang Raja Sisingamangaraja saat mempertahankan tanah leluhur di masa penjajahan.

Pintu gerbang digembok dan tidak tampak petugas berada di sekitar, pengunjung hanya dapat mengambil foto dari luar pagar, Selasa (1/11/2016. (Tribun-Medan.com/ Silfa Humairah)
Monumen tersebut berada di area taman dengan rumah Batak yang dipagari tinggi.
Uniknya, untuk masuk ke monumen tersebut harus seizin petugas.
Tidak sembarangan masuk sebab pagar selalu dikunci.
Tapi wisatawan bisa mengambil foto dari luar pagar. Monumen dan rumah Batak tersebut tampak jelas dari luar pagar.
Jika anda hidup di era 1980-an hingga 2000 an, mungkin sempat melihat wajahnya menghiasi uang kertas Rp 1.000.
Sosok ini dikenal dengan wajahnya yang berjambang tersambung dengan janggut, serta dengan pakaian adat setengah badan dan ikat kepala khas Batak.
Sisingamangaraja XII lahir pada tahun 1849 di Bakkara.
Nama "Sisingamangaraja XII sendiri berasal dari bahasa sanskerta yaitu "Singa" dan "Mangaraja".
Pada saat usianya baru 19 tahun ia dinobatkan menjadi raja. Ia pun dikenal sebagai sosok raja yang muda tapi bijaksana dan pemberani.
Untuk melawan Belanda, Sisingamangaraja XII menjalin kerja sama dengan beberapa suku di Aceh dan kerajaan Aceh serta dengan kerajaan Minangkabau.
Berkat jalinan kerjasama persekutuan ini lah yang menyebabkan Aceh dan tanah Batak sulit ditaklukkan Belanda.
Sisingamangaraja XII dikenal sebagai sosok yang anti perbudakan dan penindasan.
Ia sangat menghargai hak kemerdekaan hidup. Maka dari itu ia berjuang menentang penindasan Belanda di Indonesia.
Untuk menghormati perjuangan Raja Sisingamangaraja XII, tahun 1979 dibangun Monumen Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Kota Medan.
Sejarawan Kota Medan, Ichwan Azhari, menuturkan Sisingamangaraja memiliki peran dan jasa yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan di Sumatera Utara.
"Sisingamangaraja merupakan pahlawan dari Sumut. Jadi sudah selayaknya monumen tersebut menjadi ikon dan daya tarik bagi wisatawan. Tentunya harus dirawat pula," katanya.
(sil/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tugu-sisingamangaraja_20161101_205700.jpg)