Ngopi Sore

Amerika di Tangan Paman Donald

Donald Trump memang memunculkan keresahan global. Banyak yang tidak habis pikir. Tak mengerti. Bagaimana mungkin rakyat Amerika yang katanya..

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Muhammad Tazli
YAHOO.COM
Donald Trump dan Melania Trump 

SEORANG kawan menuliskan kalimat yang tak bersemangat di dinding akun Facebook miliknya. Saya membayangkan, jika saya berhadap-hadapan dengan dia dan menyaksikannya menuturkan kalimat tersebut, saya kira saya akan mendapati wajah dengan air muka yang masygul.

Kawan itu menulis tentang Donald Trump, multi milyuner dan politisi Amerika Serikat, yang sampai saat dia menuliskan kalimat tadi sedang unggul jauh atas Hillary Clinton, saingannya menuju kursi empuk di ruang oval satu di antara gedung paling penting di muka bumi, The White House.

Donald Trump memang memunculkan keresahan global. Banyak yang tidak habis pikir. Tak mengerti. Bagaimana mungkin rakyat Amerika yang katanya berpikiran maju dapat menerima seorang seperti Trump sebagai kandidat presiden.

Trump yang kerap kali diolok-oleh sebagai Uncle Donald --sapaan bagi karakter sohor ciptaan Disney, Donald Duck atawa Donald Bebek-- lantaran "kepandirannya".

Paman Donald yang tahun ini berusia 70 tidak pernah sungguh-sungguh berupaya menutupi pandangan-pandangannya yang rasis. Ia juga berulangkali terlibat (langsung maupun tak langsung) skandal. Baik skandal terkaitpaut bisnis, dalam hal ini terutama pajak, maupun asmara.

Di saat proses pemilihan Presiden Amerika Serikat berjalan, tak kurang 12 perempuan mengakui pernah menjadi bagian dari skandal Trump. Beberapa dari mereka bilang sempat mengalami pelecehan-pelecehan.

Tapi dibanding skandal-skandalnya, sikap rasis Trump lebih banyak mendapatkan sorotan. Kebenciannya terhadap Hispanik dan sikap-sikapnya yang kontroversial dan "kurang ramah" terhadap Islam, membuat Trump tidak populer di negara-negara muslim, terutama di kawasan teluk.

Satu nilai minus yang diperkirakan sangat menggangu mengingat sejumlah negara besar dan kaya raya di kawasan teluk merupakan sekutu dekat Amerika Serikat.

Cibiran terhadap Melania juga diperkirakan dapat menjatuhkan Donald Trump. Melania adalah mantan model yang pernah berpose panas untuk sejumlah majalah lelaki dewasa. Dia bukan Warga Amerika Asli. Dia berkebangsaan Slovenia, lahir di Slovenia, dan baru menjadi Warga Amerika Serikat pada tahun 2001.

Saat menyampaikan pidato kampanye dengan bahasa Inggrisnya yang beraksen "aneh", Melania ketahuan membajak pidato Michelle Obama di tahun 2004. Bayangkan, seorang perempuan Slovenia, mantan model panas dan plagiat pula, akan menjadi Ibu Negara Amerika Serikat. Ini sebuah bencana besar.

Namun seluruh amunisi keburukan ini ternyata tak cukup kuat untuk menghempang langkah Donald Trump ke Washington, ke White House. Pada pemilu yang digelar hari ini, Trump mengalahkan Hillary Clinton yang memiliki rekam jejak politik jauh lebih mentereng.

Kemenangan Trump sedikit banyak mirip kemenangan Joko Widodo (Jokowi) atas Prabowo Subiyanto dalam Pemilu Indonesia dua tahun lalu. Bedanya, Jokowi rada kurang kontroversial.

Jika pun ada kontroversi, kebanyakan merupakan "isu yang dipaksakan" atau bahkan "hasil imajinasi" lawan-lawan politiknya (beberapa tudingan sampai hari ini kebenarannya tak terbukti). Bedanya lagi, Trump sebagai politisi justru lebih mirip Prabowo. Telah berulangkali mencoba dan selalu gagal.

Sampai di sini, satu pertanyaan yang penting mencuat. Tentu, tentu bukan tentang 'bagaimana bisa'. Donald Trump seorang multi milyuner. Terlepas dari sikap-sikap dan pernyataannya yang sering ngawur, dia adalah politisi karatan Partai Republik.

Dengan kata lain, dia memenuhi syarat untuk maju sebagai kandidat presiden dan memenuhi syarat pula untuk memenangkannya. Amerika Serikat pernah punya presiden petani kacang dan aktor film koboi kelas dua, seorang multi milyuner bermulut tajam tentunya sedikit lebih baik.

Jika bukan 'bagaimana bisa', lalu apa pertanyaan penting itu? Ke mana! Iya, di tangan Paman Donald, ke arah mana Amerika Serikat akan menuju? Atau lebih jauh, dengan posisinya sebagai negara adidaya, ke mana Donald Trump akan membawa dunia?

Kawan saya tadi mengaku ngeri. Beberapa kawan lain juga mengakui hal senada.

Trump punya acara televisi yang laris. Satu reality show bertajuk The Apprentice. Semacam acara bursa lapangan kerja yang dikemas dengan drama yang canggih.

Trump memilih belasan orang dari berbagai penjuru Amerika Serikat, melatih mereka ilmu dagang dan marketing, untuk memilih satu orang yang nantinya ditempatkan sebagai pegawai di salah satu perusahaan miliknya.

Trump demikian dingin dan kejam. Tanpa berkedip dia memecat orang yang dia tahu sudah memberikan segenap kemampuannya.

Mudah-mudahan Paman Donald tidak menganggap pekerjaan sebagai Presiden Amerika Serikat tak ubahnya peran dalam The Apprentice. Sebab jika itu yang terjadi, alamat kacaulah dunia kita yang terkasih ini.

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved