Breaking News:

Ngopi Sore

Iwan Fals yang Ternistakan

Sepanjang 41 tahun berkarier, tidak sekalipun Iwan Fals pernah tergoda untuk terlibat dalam politik praktis. Dia mengambil jarak dari politik.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
AKSI PANGGUNG - Iwan Fals tampil pada konser bertajuk 'Perayaan Karya Iwan Fals' di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (3/9/2016). Konser ini merupakan perayaan ulang tahun Iwan Fals yang ke-55. 

Karier Iwan Fals terbentang panjang dari tahun 1975 sampai sekarang. Karier yang jika politik diambil sebagai batasan dapat dicacah-cacah menjadi setidaknya tiga periode: 1980-1990, 1990-1997, dan 2000-sekarang.

fales2

Baca: Iwan Fals: Lo Ganggu Indonesia, Gue Lawan Lo

Periode pertama adalah periode yang ganas. Iwan Fals yang masih sangat muda dan tak kenal takut menghantam siapa saja yang menurutnya brengsek. Menghantam tanpa tedeng aling-aling. Bahkan nyaris tanpa perhitungan. Demokrasi Nasi dan Pola Hidup Sederhana (yang memiliki judul lain 'Anak Cendana'), contohnya. Atau lagu Mbak Tini dan Oh Indonesia.

Gara-gara empat lagu yang batal diedarkan ini, Iwan Fals harus terus-menerus berurusan dengan polisi. Kenapa? Karena meski sudah dilarang dia tetap saja menyanyikan lagu-lagu ini di setiap kesempatan naik panggung. Lagu Oh Indonesia (yang juga memiliki judul lain Suksesi) yang ditulis tahun 1987 paling diwanti-wanti karena liriknya yang waktu itu dinilai sangat kurang ajar.

Sebelum pemilu orang-orang sudah pada ribut/politisi, polisi dan tentara kalang kabut/penguasa, pengusaha dan semua pasang kuda-kuda/sementara gosip yang beredar/Soeharto adalah bos mafia.

Lantas aku berpikir kalau Soeharto mati/Apa jadinya republik atau kerajaan ini?/Pasti orang berkelahi untuk menjadi pengganti/Lebih baik Soeharto dijadikan mumi dan didudukkan di kursi.

Ini jelas-jelas lagu "bunuh diri". Kala itu, Soeharto adalah kebenaran. Tiap kata dan perbuatannya adalah kebenaran, yang sahih dan hakiki. Jangan coba-coba membangkang jika tak ingin kena gebuk. Tapi Iwan Fals malah menyebutnya sebagai mafia dan mumi.

Periode kedua, 1990-1997, adalah periode politik dewasa. Iwan Fals tidak lagi hantam kromo. Tidak lagi sarkastis. Dia mulai bermain diksi. Mulai memasukkan simbol-simbol. Mulai berpuisi. Paman Doblang dan Coretan Dinding, juga Nyanyian Jiwa, Kesaksian, Kebaya Merah, atau Menunggu Ditimbang Malah Muntah.

fales3

Baca: Iwan Fals: Saya Enggak Mungkin Tolak Zaman

Periode ini terhenti karena kematian Galang Rambu Anarki. Iwan Fals yang tenggelam dalam kesedihan menghilang dari panggung. Tidak ada lagi lagu maupun album sampai tahun 2000 dia muncul lagi dengan kompilasi berisi lagu-lagu cinta.

Tentu saja lagu-lagu cinta Iwan Fals bukan lagu cinta menye-menye. Lagu cinta yang manja mendayu-dayu. Lagu-lagu cinta Iwan Fals adalah lagu cinta yang gagah, nyeleneh, kadang-kadang malah sangat nakal. Pendeknya, jantan.

Meski begitu, pascakemunculan kembali ini Iwan Fals dipandang bukan lagi Iwan Fals yang sama. Dia berubah jadi Iwan Fals yang masih sedih dan tak lagi bersemangat menjadi pemrotes, menjadi penyambung dan pelantang protes.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved