Ngopi Sore
Iwan Fals yang Ternistakan
Sepanjang 41 tahun berkarier, tidak sekalipun Iwan Fals pernah tergoda untuk terlibat dalam politik praktis. Dia mengambil jarak dari politik.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Ini jelas-jelas lagu "bunuh diri". Kala itu, Soeharto adalah kebenaran. Tiap kata dan perbuatannya adalah kebenaran, yang sahih dan hakiki. Jangan coba-coba membangkang jika tak ingin kena gebuk. Tapi Iwan Fals malah menyebutnya sebagai mafia dan mumi.
Periode kedua, 1990-1997, adalah periode politik dewasa. Iwan Fals tidak lagi hantam kromo. Tidak lagi sarkastis. Dia mulai bermain diksi. Mulai memasukkan simbol-simbol. Mulai berpuisi. Paman Doblang dan Coretan Dinding, juga Nyanyian Jiwa, Kesaksian, Kebaya Merah, atau Menunggu Ditimbang Malah Muntah.
Baca: Iwan Fals: Saya Enggak Mungkin Tolak Zaman
Periode ini terhenti karena kematian Galang Rambu Anarki. Iwan Fals yang tenggelam dalam kesedihan menghilang dari panggung. Tidak ada lagi lagu maupun album sampai tahun 2000 dia muncul lagi dengan kompilasi berisi lagu-lagu cinta.
Tentu saja lagu-lagu cinta Iwan Fals bukan lagu cinta menye-menye. Lagu cinta yang manja mendayu-dayu. Lagu-lagu cinta Iwan Fals adalah lagu cinta yang gagah, nyeleneh, kadang-kadang malah sangat nakal. Pendeknya, jantan.
Meski begitu, pascakemunculan kembali ini Iwan Fals dipandang bukan lagi Iwan Fals yang sama. Dia berubah jadi Iwan Fals yang masih sedih dan tak lagi bersemangat menjadi pemrotes, menjadi penyambung dan pelantang protes.
Iwan Fals tetap menulis lagu-lagu politik. Tapi lagu-lagu itu tidak lagi sarkastis dan tidak lagi berat dengan kata-kata bersayap dan puitik di sana-sini. Lagu-lagu politik Iwan Fals pada periode ketiga adalah lagu-lagu satire. Sebagian besar kembali ke bentuk periode pertama, namun dengan pilihan kata yang lebih berhati-hati.
September lalu Iwan Fals berusia 55. Usia seorang tua. Dia panggung, dia tak lagi garang. Tak bisa lagi bernyanyi bertelanjang dada sembari berlarian dan jejingkrakan. Rambutnya yang dulu gondrong sekarang dipotong pendek lantaran sudah banyak rontok.
Tapi apakah orang tua ini memang sudah menjadi seorang pengkhianat nurani? Apakah dia sudah menjual jiwa dan kepalanya kepada penguasa, demi uang? Saya ragu. Benar-benar ragu.
Barangkali benar Iwan Fals sekarang lebih banyak muncul di ruang-ruang konsumtif. Dia membintangi iklan berbagai produk. Namun memilih menjadi populer di jalan populer bukan berarti telah menggadaikan jiwa dan nurani, bukan?
Sepanjang 41 tahun berkarier, tidak sekalipun Iwan Fals pernah tergoda untuk terlibat dalam politik praktis. Dia mengambil jarak dari politik. Dari partai-partai politik. Tidak pernah menyambut tawaran untuk dicalonkan menjadi bupati, wali kota, gubernur, anggota DPR, dirjen, atau pejabat BUMN. Tatkala foto profilnya dimunculkan para pecintanya di media sosial dan digadang sebagai calon presiden, Iwan Fals tertawa ngakak, lalu bilang bahwa keisengan ini benar-benar menghiburnya.
Lalu kenapa sekarang Iwan Fals cenderung berpihak pada Jokowi? Kenapa Iwan Fals tidak mengecam Ahok dan bahkan mengambil sikap berseberangan?

JOKO Widodo menyambangi kediaman musisi Iwan Fals, di Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, jelang pelaksanaan Pemilu Presiden 2014
Politik dalam kesenian sering kali lebih cair untuk tidak bisa dibilang absurd. Jelas namun sesungguhnya tak pernah sebenar-benarnya jelas. Berpihak dan berseberangan adalah bukan sikap-sikap yang tabu. Bukan sikap yang diharamkan.
Bob Dylan melakukannya. John Lennon melakukannya. Jim Morrison, Bono, Johnny Rotten, bahkan Frank Sinatra juga melakukannya. Pun Iwan Fals. Mereka melakukannya dengan cara masing-masing dan didasari berbagai pertimbangan, entah pertimbangan yang berat-berat macam ideologi atau yang remeh seperti kesamaan kesukaan.
Dan oleh sebab itu, berpihak atau berseberangan, tentu saja, tidak dapat disimpulkan sebagai bentuk pengkhianatan.
Terlebih-lebih apabila kesimpulan tersebut lahir dari sekadar nafsu untuk memuaskan renjana kebencian, serta syak wasangka, bahwa yang tidak sepihak, siapapun dia, adalah musuh yang wajib ditumpas.(t agus khaidir)