Taruna Tewas
Sekolah Pelayaran STIP Harus Ditutup, Mengingat Pesan yang Dipajang di Setiap Ruangan
"Ingat! Sekolah Ini Akan Ditutup Jika Terjadi Kekerasan," bunyi sebuah pesan yang dipasang di salah satu dinding asrama putra
1. 12 Mei 2008
Taruna Agung Bastian Gultom meninggal dunia.
Kematian Agung sempat disebut kelelahan karena mengikuti latihan pedang pora oleh pihak STIP menyambut Agustusan.
Namun, polisi melihat ada kejanggalan dan mendesak keluarga memperbolehkan jenazah Agung untuk diotopsi.
Selain itu, ada taruna lain yang mengaku bahwa dianiaya bersama Agung.
Pihak keluarga mengizinkan makam Agung di Mabad Jerawat, Tandes, Surabaya, Jawa Timur, dibongkar polisi.
Jenazah Agung diotopsi tim dokter Rumah Sakit Dokter Soetomo, Surabaya.
Hasilnya, ada luka memar di dada dan muka.
Kepala bagian belakang mengalami pendarahan. Levernya rusak.
Korban lainnya antara lain, P, T, D, E, dan V. Para pelaku yang diduga menganiaya Agung adalah Las, Nug, Ant, Ang, Put, Ha, Ma, Kar, Rif, dan Har.
Polisi menetapkan empat tersangka, tiga di antaranya divonis bersalah oleh pengadilan.
2. Di tahun 2008
Tepatnya bulan November, kekerasan di STIP kembali terulang. Jegos (19), taruna tingkat pertama, dianiaya oleh taruna senior hingga gegar otak. Kekerasan ini dilatari Jegos tak kunjung mencukur rambut setelah diingatkan.
3. Di tahun 2014
Kekerasan di STIP terjadi lagi pada tahun 2014. Kali ini nyawa taruna pertama, Dimas Dikita Handoko, melayang sia-sia di tangan para senior.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/amirullah-adityas-putra-saat-bersama-kembarannya-amarullah-adityas-putra_20170112_115609.jpg)