Breaking News

Preview Manchester United vs Liverpool

Uji Kesaktian Petuah Mourinho

Beberapa pemain mereka bermasalah. Beberapa pemain kami pun bermasalah. Tapi kami akan bermain di rumah yang akhir-akhir ini kembali ramah.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/Oli SCARFF
JOSE Mourinho 

SEPULUH laga terakhir dilewati Manchester United tanpa sekalipun disentuh kekalahan. Tujuh kemenangan dan tiga imbang.

Bahkan jika dihitung sejak dikalahkan Fenerbahce pada 3 November 2016, mereka memperpanjang rekor dengan tambahan kemenangan 4-0 atas Feyenoord (Europa League, 24 November), 4-1 atas West Ham United (EFL Cup, 30 November), 2-0 atas FC Zorya Luhansk (Europa League, 8 Desember), 4-0 atas Reading (FA Cup, 7 Januari 2017), dan 2-0 atas Hull City (EFL Cup, 10 Januari 2017).

Total 15 laga tanpa kalah. Satu pencapaian yang terbilang istimewa untuk ukuran Manchester United sepeninggal Sir Alex Ferguson. Apalagi jika melongok ke performa di awal musim yang memprihatinkan. Manchester United yang tertatih- tatih kepayahan bahkan untuk sekadar meraih hasil imbang.

Bagaimana tranformasi performa ini bisa terjadi? Banyak faktor. Akan tetapi, jika harus memilih satu saja, petuah Jose Mourinho adalah jawabannya. Petuah yang disampaikannya di ruang ganti kepada para pemain saat turun minum. Petuah yang singkat saja, sebab rata-rata, seorang pelatih hanya berbicara di depan pemain selama maksimal 10 menit dari 15 menit waktu yang disediakan.

Kata lainnya motivasi. Dan Jose Mourinho memang seorang "master" untuk urusan ini. Dalam satu wawancara dengan Daily Mail terkait bukunya yang kontroversial, I am Zlatan Ibrahimovic, Zlatan mengatakan dia dilatih oleh banyak pelatih hebat. Namun untuk yang terhebat, dia memilih dua nama, Fabio Capello dan Jose Mourinho.

"He would become a guy I was basically willing to die for," katanya. Pengakuan yang menggetarkan, terutama karena datang dari seorang Zlatan Ibrahimovich, satu di antara pemain paling pongah di kolong langit.

Kenapa Zlatan sampai rela mati demi Mourinho? Di buku itu Zlatan menjelaskan semuanya. Dia menghubung-hubungkan, atau lebih tepatnya membanding-membandingkan, Mourinho dengan Josep Guardiola. Tentang bagaimana kedua pelatih hebat ini memperlakukan pemain. Bagaimana pendekatan-pendekatannya.

ZLATAN Ibrahimovic dan Jose Mourinho
ZLATAN Ibrahimovic dan Jose Mourinho

Mourinho seperti seorang dengan wajah batu, kata Zlatan. Dia bisa tidak menunjukkan ekspresi apa-apa saat pasukannya melesakkan gol. Bahkan tetap dingin dan nyaris tanpa ekspresi tatkala kemenangan telah pasti diraih. Namun di saat lain, dia bisa meloncat-loncat seperti anak kecil, tertawa-tawa ngakak, untuk hal yang kadangkala tidak masuk akal.

"Cerita mengenai Mario (Balloteli) sudah menjadi klasik. Mario dengan kartu merahnya yang konyol. Dan atasnya (kartu merah) Jose justru terpingkal-pingkal," sebut Zlatan.

Aneh di satu sisi, menakjubkan di sisi yang lain. Mourinho secara rutin mengirimkan teks (ketika itu lewat SMS) kepada tiap-tiap pemain. Baik pemain yang tampil bagus maupun yang buruk. Kata-katanya tidak lazim.

"Jose bilang, saya menonton ulang pertandingan dan melihat pemain yang asing. Apakah itu dirimu? Saya mengira itu bukan. Saya mengira itu saudaramu yang lemah. Tapi itu memang dirimu dan ini sangat menyedihkan. Saya ingin melihat dirimu yang lain, dirimu yang sebenarnya di pertandingan berikutnya. Bersiap- siaplah," tulis Zlatan.

Motivasi-motivasi seperti ini lebih sering lagi melesat-lesat di kamar ganti. Pemain baru Manchester United, Henrikh Mkhitaryan, jatuh ke dalam pesona. "Caranya memuji dan mengeritik pemain belum pernah saya temukan sebelumnya. Sangat tidak biasa. Sering kami merasa kesulitan di paruh pertama pertandingan, namun seperti mendapatkan kekuatan di paruh berikutnya. Hanya karena mendengar dia berbicara," kata Mkhitaryan.

Hampir separuh dari 15 laga tak terkalahkan Manchester United diperoleh lewat jalan yang genting. Gagal berkembang di babak pertama, bahkan tertinggal, lalu berbalik unggul di babak kedua. Gol-gol di penghujung waktu, sedikit banyak juga memantik nostalgia kejayaan di era Ferguson. The Fergie Time yang melegenda.

Modal inilah yang dibawa Mourinho dan Manchester United untuk bentrok kontra Liverpool di Old Trafford, Minggu (15/1) malam nanti. Pertanyaannya, apakah cukup?

Liverpool musim ini jauh lebih lumayan (dibanding musim lalu). Gaya dan filosofi bermain yang dibawa Jurgen Klopp dari Jerman sudah menyatu dengan baik. Tidak ada lagi kegagapan dan kegugupan. Bola lebih lancar mengalir, dan tajam ke depan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved