Baca Edisi Eksklusif Tribun Medan
Kisah Pembunuhan Kuna, Anak Rawi Kerap Mengigau saat Tidur
"Mayat abang kami itu kotor sekali. Waktu saya lihat di rumah sakit, tubuhnya penuh pasir. Saat akan kami makamkan, kepala belakangnya hancur,"
- Sebut Nama Ayahnya
- Polisi Masih Dalami Motif Penembakan Kuna
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tewasnya Rawindra alias Rawi, setelah ditembak polisi lantaran dituding terlibat penembakan Indra Gunawan alias Kuna, meninggalkan duka mendalam bagi pihak keluarga.
Terutama bagi tiga anak Rawi, yang masih kecil-kecil.
Keluarga Rawi kehilangan sosok yang selama ini menjadi tulang punggung.
Sejak pria yang menjabat sebagai ketua organisasi pemuda itu meninggal, anak-anaknya kerap mengigau pada malam hari.
Terutama, Viriel (11), anak pertama Rawi.
Saat Tribun menyambangi rumah Rawi di Jalan Sekip/Waru, Kelurahan Sekip, Kecamatan Medan Petisah, Viriel, yang awalnya sibuk bermain masuk ke dalam rumah.
Ia kemudian duduk di pangkuan Reka, adik kandung Rawi, yang berbincang bersama Tribun di ruang tengah.
Ketika ditanya mengenai sosok ayahnya, wajah Viriel mendadak muram.
Dahinya berkerut, dan kedua matanya mulai berkaca-kaca, karena tak bisa lagi melihat sosok ayah, yang selama ini ia banggakan.
Viriel sempat terdiam sembari menahan tangis, dan kedua tangannya mulai mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Saya rindu bapak. Sekarang bapak sudah enggak ada," katanya kemudian terisak-isak, Kamis (26/1) siang. Viriel mengatakan, ayahnya baik. Ia pun masih tak percaya ayahnya kini sudah tiada.
"Rindu kali saya," katanya kembali menangis.
Di sela tangisan Viriel, ibunya bernama Lia mengatakan, anak pertamanya itu sempat beberapa kali mengigau setelah kepergian Rawi. Pascajasad ayahnya dikremasi, Viriel kerap menyebut nama Rawi ketika tidur.
"Setelah kremasi kemarin, Viriel panggil-panggil nama abang (Rawi). Dia bolak-balik mengigau saat tidur," ungkap Lia, yang kemudian ikut menangis.
Dalam mimpinya, Viriel mengaku didatangi sang ayah dan menyuruhnya mandi.
"Selama hidup, abang itu orangnya pembersih. Kalau pagi, semua anak-anak disuruh mandi. Kalau enggak mau, biasa abang marahi anak-anak," kata Lia sesenggukan. Saat tersentak dari tidur, Viriel langsung bangkit dari tempat tidur. Ia kemudian mencari ayahnya.
"Gimana kami enggak sedih. Begitu anak-anak ini terbangun, mereka tanya di mana bapaknya. Apa yang mau saya jawab lagi. Bapak anak-anak sudah enggak ada," ungkap Lia. Hal serupa juga ditunjukkan Verun. Anak ketiga
Rawi tersebut sempat demam tinggi, ketika ayahnya meninggal dunia.
"Bang Rawi ini paling sayang sama anak yang paling kecil ini (Verun). Tiap pagi, setelah mandi, dia selalu kasih teh sama Verun. Sejak bapaknya enggak ada, Verun ini nangis terus," ungkap Lia.
Saking rindunya, Verun yang masih berusia satu tahun delapan bulan ini minta berlama-lama di depan foto ayahnya, yang dikalungi bunga. Verun yang belum mengerti apa-apa ini mengira sang ayah masih ada.
"Karena abang biasa nyulangi Verun teh, sekarang Verun ini yang nyodorkan teh ke foto ayahnya. Dia sibuk nyuruh kasih teh ke foto bapaknya," ungkap Lia dengan suara parau dan terisak-isak.
Pascakepergian Rawi, Lia pun bingung harus bagaimana membiayai ketiga anaknya. Tak ada harta yang ditinggalkan Rawi, selain kenangan.
"Ini yang terus saya pikirkan. Gimanalah saya cari uang untuk makan dan sekolah anak-anak. Apapun enggak ada sekarang ini," kata Lia.
Bangun Malam
Selain dirindukan anak-anaknya, Rawi juga dirindukan sang ibu, Licemi. Sangkin rindunya terhadap sang anak, Licemi kerap terbangun di malam hari.
"Mamak kami pun nangis terus sejak abang enggak ada. Jam dua atau jam tiga pagi, mamak terbangun panggil-panggil nama bang Rawi," ungkap Reka. Ia mengatakan, Rawi adalah sosok kakak yang paling baik di keluarga.
Rawi adalah tempat mengadu adik-adiknya apabila kesusahan.
"Abang kami ini memang enggak punya apa-apa. Tapi kalau untuk keluarga, apapun dibuatnya. Hanya sama dialah kami mengadu kalau punya masalah," ungkap Reka.
Menurut Reka, sebelum menjabat sebagai ketua organisasi, Rawi pernah bekerja sebagai debt collector.
"Kami ini dulunya sangat-sangat susah. Mau makan saja pun kami payah. Itulah, abang kenal sama Pak Ungkap. Dari sanalah dia dapat uang selama bekerja. Semua uang yang didapatnya, itulah yang dikasihkan sama kami," ujar Reka kemudian menangis.
Sejak perkenalan Rawi dengan Ungkap, ekonomi keluarga mulai membaik. Yang tadinya untuk makan pun susah, belakangan Rawi sudah bisa memberikan uang kepada ibu dan adik-adiknya.
"Setelah beberapa tahun bekerja dengan Pak Ungkap, abang akhirnya berhenti. Kebetulan, Pak Ungkap itu sudah meninggal dunia," kata Reka.
Namun, beberapa tahun lalu, Rawi sempat berkenalan dengan Siwaji Raja alias Raja Kalimas, terduga otak pelaku penembakan Kuna, saat mendiang Ungkap membuat acara. Daris analah Rawi berteman dengan Raja Kalimas, meskipun pihak keluarga menyebut antara Rawi dan Raja tidak ada kaitannya dengan kasus penembakan Kuna.
"Abang kenalan sama Pak Raja itu sebelum Pak Ungkap meninggal. Kalau soal penembakan itu, saya rasa enggak ada hubungannya, meskipun abang kenal sama Pak Raja," kata Reka.
Meski Rawi sudah tiada, pihak keluarga tetap keberatan dengan perlakuan polisi. Sebab, ketika mati pun, jenazah Rawi cukup memprihatinkan.
Dari keterangan keluarga, ada beberapa luka di tubuh Rawi. Di antaranya di bagian leher seperti bekas sayatan, dan di kepala belakang.
"Mayat abang kami itu kotor sekali. Waktu saya lihat di rumah sakit, tubuhnya penuh pasir. Kemudian, saat akan kami makamkan, kepala belakangnya itu terasa lembek. Seperti hancur," ungkap Reka.
Ia juga sangat menyesalkan tindakan polisi, yang menembak Rawi. Seharusnya, jika pun Rawi memang benar melawan saat ditangkap, polisi cukup menembak di bagian kaki. Kalaulah Rawi membawa senjata tajam seperti yang diklaim polisi, harusnya polisi menembak bagian tangannya saja.
"Kan enggak harus ditembak di bagian dada. Kan bisa disidang dulu," ungkap Reka.
Jikapun di persidangan Rawi dinyatakan bersalah dan dijatuhi vonis hukuman mati, pihak keluarga mengaku terima.
Sebab, kasus yang diduga melibatkan Rawi bisa bisa dengan jelas di persidangan.
Kemudian, di persidangan pula akan terungkap siapa-siapa saja yang terlibat, termasuk adanya dugaan oknum lain dalam kasus ini.
"Kalau mau dihukum mati, kan ada pengadilan. Jadi, untuk apa ada hukum ini. Setidaknya keluarga tahu apa pesan terakhirnya. Ini enggak, abang kami langsung ditembak mati kayak gitu," kata Reka sembari menyeka air matanya.
Reka sembari menyebut tubuh abangnya itu dibelah mulai dari dada hingga ke bagian perut dekat kemaluan.
Meski semua sudah berlalu, keluarga berharap apa yang telah dialami ini tidak terjadi pada masyarakat lain.
Mereka juga meminta, agar adik Rawi bernama Rakesh tidak diganggu, karena dia juga tidak tahu menahu soal penembakan ini.
"Abang kami si Rakesh ini sempat bantu-bantu mendiang Kuna. Kami mohon, dia ini jangan diapa-apain lagi. Karena dia enggak ada hubungannya sama kasus ini," ungkap Reka.
Ia berkata demikian karena Rakesh sempat dicurigai oleh pihak keluarga Kuna sebagai mata-mata. Ketika Kuna tewas ditembak, Rakesh yang mengenal Kuna sempat berkunjung ke rumah duka.
Namun, belakangan, ketika Rawi ditangkap, Rakesh pun dianggap bersekongkol dengan kakaknya itu.
"Bang Rakesh ini di bawah bang Rawi. Jadi mohon dia jangan diapa-apakan lagi. Cukuplah kami kehilangan bang Rawi. Jangan sampai adalagi anggota keluarga kami yang terluka, apalagi sampai meninggal dunia," pungkas Reka.
Bagaimana kelanjutan proses kasus yang sedang diselidiki secara detail Polrestabes Medan ini?. Benarkah para pelaku merupakan pembunuh bayaran sebagaimana disebutkan sebelumnya? Simak selengkapnya di edisi cetak Tribun Medan, Selasa (31/1/2017).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kuna_20170129_214719.jpg)