Isu Lintah dan Langkanya Spesies Ikan Diduga Dampak Pencemaran Limbah Perusahaan
Dulu ada ikan bilibi atau orang bilang ikan porapora, tapi tiga tahun belakangan sudah berhenti dihasilkan.
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Randy P.F Hutagaol
Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan
TRIBUN-MEDAN.com, RAYA - Warga setempat Danau Toba meminta pemerintah bertindak cepat dalam menangani isu adanya hewan sejenis lintah dan mulai punahnya spesies ikan di Danau Toba. Kondisi ini diduga akibat terjadinya pencemaran air skala besar yang berasal dari limbah perusahaan ternak ikan dan ternak babi.
Holmes Lerry Hutapea warga sekitar yang tengah berjuang bersama Aktivis Pejuang Danau Toba, saat ini terus menyuarakan keprihatinannya terhadap Danau Toba. Terutama soal pencemaran perairan karena limbah perusahaan, yang disebutnya penyebab utama munculnya spesies lintah dan langkanya ragam spesies ikan di Danau Toba.
Baca: Video: Berhati-hatilah Berenang di Danau Toba, Begini Penampakan Lintah yang Serang Wisatawan
"Pernah ada tamu pengunjung pada tahun 2015 dikerubungi lintah. Ini menunjukkan ada pencemaran dugaan munculnya habitat yang merupakan bioindikator, adanya gulma yang diproduksi polutan dari perusahaan. Saya dan kawan-kawan asli sini, dulu gak perrnah ada lintah kami berenang dan main di danau. Tapi 2015 muncul itu sejenis lintah. Saya ini juga penyelam danau toba, kadi saya sudah lihat bagaiaman dasar danau. Ada videonya dan foto di Facebook saya Larry Hutapea," kata Holmes di tepi Danau Toba, Minggu (19/2/2017)
Baca: Jawab Isu Lintah dan Kutu, Ini yang Dilakukan Resman Saragih
Terkait dampak spesies lintah ini, Holmes belum dapat memastikan apakah menghisap darah atau hanya memberi efek gatalg-gatal seperti yang pernah dialami seorang wisatawan berna Mangasi belum lama ini.
"Kalau menghisap darah kami belum tahu, tapi menyebabkan gatal-gatal. Jadi sudah ada kami kasih sample lintah satu botol sama BLH untuk diuji, namun sampai saat ini belum ada jawaban mereka untuk mempublikasi terkait muncullah lintah yang kami duga hasil limbah ternak perusahaan-perusahaan di sekitar danau.
Baca: Wisatawan Dihinggapi Lintah usai Mandi Air Danau Toba, Dilarikan ke Unit Gawat Darurat
Lanjut Holmes, tidak cuma isu lintah yang butuh perhatian, beberapa spesies ikan juga mulai langkah dan hampir punah.
Dulu ada ikan bilibi atau orang bilang ikan porapora, tapi tiga tahun belakangan sudah berhenti dihasilkan, karena diduga ada faktor ikan tidak mau berkembang biak.
"Akibat pencemaram ikan kami duga tidak bisa berkembang biak. Gak cuma porapora, tapi juga ikan Jahir sering kena kutu di danau dan sudah mulai menghilang. Padahal ikan ini merupakan sumber pendapat rakyat yang buat sejahtera," kata Holmes.
Sementara Sehat Priono yang juga Aktivis Pejuang Danau Toba meminta pemerintah memberi perhatian lebih untuk kebersihan air Danau Toba, apalagi disebut-sebut ada dana 40 miliar untuk memperindah Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Nasional.
"Kami cuma ingin ada tindakan pemerintah. Berilah perhatian juga untuk perairan. Apalagi Danau Toba kan destinasi wisata air. Jalan dan sarana memang perlu. Tapi airnya juga yang utama selain kultur masyarakat," tegasnya.
(dyk/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pejuang-danau-toba_20170217_164320.jpg)