Barcelona vs PSG
Menampik Deja Vu
Dinihari nanti adalah deja vu juga. Bukan Muenchen tetapi PSG. Di Paris, 14 Februari 2017, Barcelona nelangsa dan PSG berpesta-pora.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
ADA satu kosakata dalam Bahasa Perancis yang maknanya sungguh ajaib. Deja vu. Orang-orang Perancis mengucapkannya tiap kali mendapati atau mengalami peristiwa yang mereka rasakan atau mereka ingat pernah terjadi, entah itu sekadar mirip atau nyaris persis.
Lantaran sifatnya berulang, maka tentu saja deja vu bisa baik dan bisa buruk. Bisa mencuatkan kebahagiaan bisa juga sebaliknya, menikamkan kesedihan, kemurungan, bahkan derai air mata.
Sepakbola sering menghadirkan deja vu. Perulangan yang memungkinkan bagi termunculkannya hitung-hitungan yang serba unik, ganjil, mencengangkan, yang tak jarang pula berujung pada hal-hal yang hakikatnya mustahil.
Di Camp Nou, Kamis, 9 Maret 2017, adalah deja vu juga. Tepatnya, potensi deja vu, yang bagi Barcelona sama sekali tidak menyenangkan dan lantaran itu ingin mereka tampik.
Tahun 2013, tanggal 1 Mei, Barcelona menghadapi Bayern Muenchen di putaran kedua semifinal Liga Champions. Bola bergulir dari titik kickoff dengan margin empat gol. Muenchen yang awalnya tidak terlalu diperhitungkan secara menakjubkan mampu meluluhlantakkan pasukan super Barcelona di Alianz Arena.
Meski tertinggal jauh, Josep Guardiola, pelatih Barcelona saat itu, tak lantas menyerah. Kami akan merangsek sejak detik pertama dan membuat gol cepat, katanya. Jika bisa mencetak dua gol apalagi tiga gol di babak pertama, kata Guardiola pula, peluang akan terbuka.
Guardiola menjadikan Deportivo La Coruna sebagai tolok ukur. Kalah 1-4 dari AC Milan di putaran pertama babak perempat final Liga Champions 2003-2004, La Coruna mampu membalikkan ketertinggalan saat ganti menjadi tuan rumah. La Coruna melesakkan tiga gol di babak pertama lewat Walter Pandiani, Juan Carlos Valeron, dan Albert Luque, sebelum Fran membuat Milan terkapar lewat cocorannya yang menggetarkan jala gawang Dida.
Pilihan strategi yang kita tahu pada akhirnya hanya membuat Barcelona mendapatkan tambahan malu. Barcelona bukan Deportivo La Coruna. Bayern Munchen bukan AC Milan. Jupp Heynckes, pelatih Muenchen, memilih jalan yang berbeda dari Carlo Ancelotti yang secara sadar tetap mengusung pola offensif.
Heynckes tidak. Muenchen cenderung lebih bertahan walau tidak total. Dia menyiapkan pelari-pelari cepat dan penanduk-penanduk bola yang jitu. Paling hebat, dia berani menerapkan permainan posisi, yang berarti, secara langsung "menantang" konsep Tiki Taka Barcelona.
Guardiola salah perhitungan. Barcelona ambruk. Alih-alih menggulung Bayern Muenchen, justru mereka yang dibikin babak belur. Tambahan tiga gol membuat agregat ketertinggalan membengkak jadi tujuh. Agregat kekalahan terbesar yang pernah dialami Barcelona sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di kompetisi regional Eropa.
Dinihari nanti adalah deja vu juga. Bukan Bayern Muenchen tetapi Paris Saint Germain (PSG). Di Paris, 14 Februari 2017, Barcelona nelangsa dan PSG berpesta pora. Dua gol Angel Di Maria ditambah masing-masing satu lesakan Julian Draxler dan Edinson Cavani, membuat seisi Stadion Parc des Princes histeris. Mereka tenggelam dalam pesona yang nyaris tidak dapat dipercaya. Apakah ini benar-benar terjadi? Empat gol ke gawang Barcelona! Dari stadion, pesta berlanjut ke jalan-jalan Kota Paris, kafe, bar, taman-taman, dan media sosial.
Berbeda dari Guardiola yang segera menunjukkan keoptimistisan usai ditelan Munchen, Luis Enrique cenderung lebih menahan diri untuk sesumbar. Kepada goal yang mewawancarainya beberapa jam pascalaga, Enrique cuma bilang, laga di Paris akan dicatatnya sebagai satu di antara yang paling buruk di lembaran buku kariernya sebagai pelatih.
"Segala sesuatunya seperti tidak berjalan malam ini. Paris bermain sangat bagus. Unai Emery menerapkan strategi yang luar biasa," ucapnya.
Sebelum laga itu sebenarnya Emery terposisikan inferior. Di hadapan Barcelona dia memang tidak lebih dari kurcaci. Memulai karier kepelatihannya sejak 2004, Unai Emery mulai menangani klub La Liga pada 2006. Hingga pindah ke Paris, dia menangani tiga klub, plus Spartak Moscow di Liga Rusia, dan selama itu dia menghadapi Barcelona sebanyak 23 kali dan hanya menang satu kali.
Lalu bagaimana dia bisa meracik strategi yang demikian ampuh? Lini tengah Barcelona lumpuh total dan membuat barisan penyerang mati kutu. Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar, sepanjang 90 menit hanya bisa berlari-lari di lapangan dan tak pernah mencatat satu pun tendangan tepat sasaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/barca3_20170308_145009.jpg)