Sekolah Parulian 1 Aplikasikan Gerakan Literasi Sekolah

Tujuannya agar siswa benar-benar memahami isi buku yang dibacanya. Selain itu mereka terbiasa berpendapat dan lebih percaya diri.

Tribun Medan/Silfa
Siswa Parulian 1 Medan tampak membaca mengaplikasikan wajib membaca 15 menit setiap hari. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan literasi 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Silfa humairah

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Yayasan Pendidikan (YP) Parulian 1 Medan memiliki program khusus agar siswanya memiliki keterampilan dan mengikuti perkembangan dunia modern abad 21.

Program itu disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sekolah pertama yang mendeklarasikan diri kepada publik sebagai sekolah literasi di Sumatera Utara. 

Yakni mengaplikasikannya dengan menyediakan rak buku di tiap lorong dan kelas di sekolah hingga target-target yang harus dicapai seluruh siswa untuk mengaplikasikan literasi

Baca: Selama Dua Hari, Sudah 80 Orangtua Siswa Diperiksa soal Pungli di Sekolah

Baca: Kejati Kantongi Dua Nama Tersangka Korupsi Komputer Sekolah, Kasi Penkum: Nama Masih Rahasia

Literasi merupakan keterampilan mencari informasi, memahami isinya, mengkomunikasikan dan memanfaatkannya dengan bijak. Keterampilan ini merupakan salah satu keterampilan terpenting di abad 21.

“Siapa yang bisa menguasai dan memanfaatkan informasi dengan baik dan benar, maka Ia yang menguasai dunia,” ujar Kepala Sekolah SMA Parulian 1, Tropinus Tambunan S Pd, MM.

Ada tiga langkah yang dilakukan Parulian dalam menjalankan GLS. Pertama, pembiasaan. Setiap hari siswa Parulian diwajibkan membaca selama 15 menit.

Aksi membaca ini merupakan jawaban Parulian atas hasil penelitian UNESCO tahun 2011, yang menyebut dari 1000 orang Indonesia hanya satu orang saja yang memiliki minat membaca serius. Membaca kini menjadi gaya hidup baru siswa YP Parulian.

Kedua, pengembangan. Setelah membaca buku siswa diminta menuliskan resensi. Mereka juga diminta untuk menceritakan ulang isi buku yang dibaca. Bahkan mereka harus mempresentasikannya dihadapan teman-temanya.

Tujuannya agar siswa benar-benar memahami isi buku yang dibacanya. Selain itu mereka terbiasa berpendapat dan lebih percaya diri.

Tahapan ketiga adalah pembelajaran. Keterampilan literasi diintegrasikan melalui pembelajaran aktif (active learning).

Ketua YP Parulian Sopar Siburian mengatakan proses pembelajaran di Parulian tidak lagi berbeda dengan sekolah-sekolah di negara maju. Penilaian itu didasarkan kepada implementasi active learning yang konsisten dilakukan Parulian.

“Sehingga pembelajaran di Parulian tidak lagi berbeda dengan model pembelajaran di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura,” terangnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved