Perpaduan Sastra dan Kearifan Lokal Berbahaya Bagi Paham Radikal, Ini Alasannya

"Sastra memiliki keampuhan melumpuhkan radikalisme. Sebab, sastra dapat mengembangkan rasa empati seseorang dalam proses pendewasaan diri,"

Penulis: Arjuna Bakkara |
Tribun Medan / Arjuna
Sastrawan Joko Pinurbo (Tengah), memberi paparan pada dialog Pelibatan Komunitas Seni Budaya dalam pencegahan Terorisme bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Kamis (30/3/2017). (Tribun Medan/Arjuna Bakkara) 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Karya Sastra dan Kearifan lokal bagian tak terpisahkan.

Oleh karenanya, Dua orang ini, yakni Sastrawan Joko Pinurbo, dan M Raudah Jambak dan pada dialog Pelibatan Komunitas Seni Budaya dalam pencegahan Terorisme bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Kamis (30/3/2017) di Hotel Polonia Medan.

"Sastra memiliki keampuhan melumpuhkan radikalisme. Sebab, sastra dapat mengembangkan rasa empati seseorang dalam proses pendewasaan diri,"ujar Sastrawan Joko Pinurbo di hadapan para Audiens.

Menurut Pria yang memakai baju kotak-kotak itu, karya sastra seperti puisi dapat mengembangkan daya imajinasi dan empati seseorang.

Baca: Ini Pengalihan Arus Lalu Lintas Saat Aksi 313 Besok

Baca: Tak Bisa Hadiri Pemakaman Ayahnya, Ketegaran yang Ditunjukkan Artis Cantik Ini Bikin Kagum

Sehingga dapat membuka nalar agar tidak melakukan tindakan yang memojokkan satu komunitas di luar komunitasnya.

Lebih lanjut, Sastrawan kelahiran Sukabumi ini menjelaskan, sastra dapat menembus sekat-sekat, termasuk sekat keagamaan. Oleh karenanya, budaya silaturahmi itu baginya penting.

"Saya tidak pernah melihat di kalangan seniman itu ada konflik. Apalagi sampai mempersoalkan latar belakang agama dan suku,"sebutnya.

Pria penerima anugerah dari Khatulistiwa Literary Awards, membuktikan Karya Sastra dapat membunuh bibit paham radikal.

Seperti karya Sastrawan Sitor Situmorang Sang penulis “berbahaya” yang ditakuti rezim Orde Baru dan Chairil Anwar.

"Saya bilang, sastra bisa mencegah berkembangnya radikalisme. Kalau saya membaca karya-karya Sitor Situmorang dan Chairil Anwar, jawabnya jelas bisa. Karena, ditunjukkan disana, watak sastra dapat menembus sekat-sekat, baik sekat keagamaan,"sebut pria lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Sedangkan Seniman Taman Budaya Sumut, M Raudah Jambak, dalam paparanya, mengatakan, di dalam kearifan lokal banyak ajaran tentang kesadaran diri untuk menangkal paham radikal.

Seniman asli Medan ini memaparkan, penghidupan nilai-nilai, legenda-legenda, nyanyian, ritual-ritual dan adat istiadat Indonesia sangat baik bila difungsikan menantang paham radikal. Namun, untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah, haruslah memahami nilai-nilai budaya yang baik di lingkungan tersebut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved