Liga Champions Juventus vs Barcelona

Laju Kencang Nyonya Tua

Di Serie A, Juventus adalah skuat untouchable. Tak tersentuh. Namun melawan Barcelona, apakah Juventus akan tetap menyerang?

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/MARCO BERTORELLO/JOSEP LAGO

BERMAIN bertahan melawan Barcelona adalah tindakan bodoh. Contohnya masih sangat segar dalam ingatan. Paris Saint Germain (PSG) datang ke Camp Nou membawa modal kemenangan 4-0 dan bermain bertahan dan kita tahu malapetaka macam apa yang menimpa mereka.

Bukankah Malaga juga bertahan dan menang? Benar, akan tetapi cara dan kondisinya tidak sama. PSG bertahan dengan rasa takut, Malaga tidak. Mereka bertahan seperti Muhammad Ali bertahan dari tiap gempuran dahsyat George Foreman dalam pertarungan legendaris di Zaire. Bertahan, mengintip peluang, lantas memukul balik dan membuat Barcelona terkapar. Sama sekali tak ada ketakutan.

Pendekatan yang serupa tapi tak sama ini agaknya jadi pelajaran bagi Juventus. Dinihari nanti di Juventus Stadium, Turin, mereka akan bentrok dengan Barcelona di pertandingan putaran pertama babak perempat final Liga Champions 2016-2017. Juventus tidak akan bertahan.

"Akan ada lebih dari 40 ribu penonton datang ke stadion. Lebih separuhnya adalah suporter Juventus, dan mereka, saya tahu, tidak senang melihat kami berada di bawah tekanan," kata striker Juventus, Gonzalo Higuain.

Juventus tentu saja sangat kuat dalam bertahan. Hingga pekan ke 31 Serie A, mereka baru kebobolan 20 gol. Terbaik kedua dari seluruh kontestan liga-liga besar Eropa, setelah penguasa Bundesliga, Bayer Munchen. Memainkan 28 laga, Munchen hanya kebobolan 15 gol.

Namun di Liga Champions, Juventus unggul jauh. Tujuh laga, mereka kebobolan dua gol sedangkan Munchen delapan gol.

Massimiliano Allegri bukan pelatih yang mewarisi ramuan catenaccio, sistem pertahanan gerendel bikinan Nereo Rocco yang bertahun lalu menjadi sensasi lantaran kelewat dibenci. Sepakbola Allegri cenderung ofensif. Belakangan dia sering menurunkan formasi 4-2-3-1.

Kata-kata Higuain menegaskan bahwa Juventus akan tetap bermain "seperti biasa". Di Serie A, Juventus adalah skuat untouchable. Nyaris tak tersentuh dalam lima musim terakhir. Kontestan lain boleh dibilang beradu cepat untuk sekadar posisi kedua. Kecenderungan yang membuat julukan La Vecchia Signora, Nyonya Tua, tak lagi relevan. Bagaimana mungkin perempuan tua bisa sedemikian perkasa sehingga berkali-kali mengangkangi setan-setan merah dan kawanan serigala?

Bagaimana mungkin perempuan tua bisa melaju begitu kencang? Tiziano Crudeli, komentator sepakbola terkemuka Italia yang juga dikenal luas sebagai suporter kelas berat AC Milan, pernah secara berseloroh meminta julukan ini diganti.

Namun melawan Barcelona, apakah Juventus akan tetap menyerang? Reporter televisi Mediaset Premium mencecar pertanyaan ini dan wajah Allegri yang jarang berhias senyum itu jadi semakin ketat. Dia bilang, kekalahan Barcelona atas Malaga tidak dapat dijadikan pembanding untuk mengukur potensi peluang Juventus.

"Itu pertandingan berbeda di kompetisi yang lain. Atmosfernya berbeda. Tapi Anda tahu bahwa kami bisa melakukannya (mengalahkan Barcelona). Kami punya cukup modal. Saya kira Anda tidak lupa kami klub terbaik di Italia," ucapnya.

BEK Juventus Giorgio Chiellini
BEK Juventus Giorgio Chiellini (AFP PHOTO/MARCO BERTORELLO)

Allegri, setidaknya dari kalimat ini, terkesan berupaya menunjukkan betapa dia percaya diri. Padahal mungkin saja tidak. Barangkali sebaliknya, Allegri menyimpan kekhawatiran. Dan ini jelas bukan kabar bagus.

Sekali lagi, Malaga memilih bertahan dan mereka ternyata menang lantaran pilihan itu diambil bukan atas dasar ketakutan. Berbeda dengan Unai Emery. Bahkan pascamenjungkalkan Barcelona di Paris pun dia masih tetap takut.

Emery mirip Allegri. Rekor mereka saat bentrok dengan Barcelona buruk sekali. Tidak seburuk Emery, memang. Akan tetapi tetap tak bisa dikatakan melegakan. Dalam empat tahun terakhir, Allegri delapan kali bertemu Barcelona. Semuanya saat dia membesut AC Milan. Delapan pertandingan, Allegri hanya menang sekali, tiga kali imbang dan sisanya kalah. Satu-satunya kemenangan datang di musim 2012-2013. Putaran kedua babak 16 besar, 12 Maret 2013, di San Siro. Milan menang 2-0 namun tetap gagal lolos karena pada putaran pertama di Camp Nou dibantai empat gol tanpa balas.

"Kami melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Mungkin benar waktu itu ada ketakutan yang berlebih. Satu hal yang wajar terutama jika melihat kekuatan Barcelona yang hampir sempurna," ucapnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved