Romauli Silalahi Bidan Peduli Masyarakat Pinggiran Karena Penyakit Lupus
"Tahun 2005 saya tinggal di Bali, karena profesi suami yang seorang pemain bola di kontrak di sana. Dapat kabar adik saya terkena lupus, hingga..."
Laporan Wartawan Tribun Medan / Mustaqim Indra Jaya
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Romauli Silalahi hanyalah seorang perempuan berlatar belakang pendidikan bidan.
Namun, siapa sangka seorang bidan muda memiliki kepedulian yang luar biasa terhadap masyarakat berpenghasilan rendah.
Kepedulian itu berawal dari kisah dari adik kandungnya, Tia Odora yang menderita penyakit lupus pada tahun 2015 lalu.
Romauli yang beprofesi di bidang medis merasa sangat bersalah atas kematian adiknya tanpa mampu memberikan perawatan maksimal.
"Tahun 2005 saya tinggal di Bali, karena profesi suami yang seorang pemain bola di kontrak di sana. Dapat kabar adik saya terkena lupus, hingga akhirnya kembali ke Medan kondisi adik semakin memburuk dan akhirnya meninggal," ungkap Romauli di kliniknya Jalan Titi Pahlawan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Sabtu (22/4/2017).
Baca: Kenapa Selama 6 Jam Julia Perez Berada di Luar Kamar?

Mulai dari kejadian itu, Romauli bertekad untuk mampu berbuat untuk masyarakat yang membutuhkan, mulai dari pengobatan dan penyuluhan gratis, mendirikan PAUD hingga memiliki komitmen untuk merehabilitasi masyarakat di wilayahnya yang terjerumus narkoba.
"Sepulang dari pemakaman adik itu, saya berjanji harus bisa berbuat untuk orang banyak. Mulai dari mendirikan klinik di daerah pinggiran sungai hingga dipercaya menjadi Posyandu untuk memberikan imunisasi kepada bayi," ujar istri dari mantan pemain PSMS Medan, Zulkarnain Zulri ini.
Awalnya masyarakat berpandangan negatif tentang pemberian imunisasi ini. Sebab, stigma di masyarakat saat itu imunisasi justru menyebabkan bayi sakit.
Baca: Sebelum Ditembak di Tempat, Ini Pesan Kapolrestabes Kepada Buronan yang Main Hakim Sendiri

"Karena baru satu, dua masyarakat saja yang datang, akhirnya kita jemput bola dengan mendatangi masyarakat. Kita beri penyuluhan juga manfaat ke masyarakat hingga akhirnya imunisasi tidak menimbulkan ketakutan lagi di masyarakat," terangnya.
Seiring berjalan waktu, akhirnya Romauli mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Salsabilah kepada anak-anak pinggir sungai daerah Marelan. PAUD itu didirikan untuk memberikan pendidikan kepada anak yang keluarganya berperekonomian kurang mampu.
"PAUD ini benar-benar merintis, di buat digarasi klinik, kami sediakan buku tulis, diajari nyanyi, bermain di outdoor hingga lama-lama kita urus izinnya. Pengajarnya awalnya juga teman-teman yang mau jadi relawan," kata wanita berjibab tersebut.
Hingga akhirnya di tahun 2012, mampu mendirikan gedung PAUD Salsabilah dengan menggunakan dana subsidi silang klinik yang dikelolanya.
(cr8/tribun-medan.com)