Baca Edisi Cetak Tribun Medan
Kinara, Bocah Korban Pembantaian Satu Keluarga, Masih Sering Cari Ibunya
Ayah dan ibunya, bersama dua saudara kandung dan neneknya meregang nyawa akibat kebengisan Andi Matalatta alias Andi Lala (34 tahun).
MEDAN, TRIBUN-Kinara, bocah 4 tahun, kini hidup sebatangkara. Genap dua pekan ia berstatus yatim-piatu.
Ayah dan ibunya, bersama dua saudara kandung dan neneknya meregang nyawa akibat kebengisan Andi Matalatta alias Andi Lala (34 tahun). Hingga dua minggu berselang dari kejadian, ia sering mencari keluarga dan belum tahu meninggal semua.
Kondisi kesehatan bayi usia di bawah lima tahun itu mulai membaik, meski masih dalam perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumatera Utara. Ia masih dalam pengawasan dan penjagaan polisi.
Selama dua minggu ini, Kinara sering dijaga dua nenek-nenek, yakni Murtini (ibu Riyanto) dan Susiana, adik dari almarhumah Sumarni, ibu Sri atau mertua Riyanto yang meninggal dalam kejadian.
Susiana mengatakan Kinara sering bertanya tentang keluarganya ketika terbangun pada pada malam hari.
"Kalau dia cari ibu sama kakaknya, kami lebih sering alihkan pembicaraan. Kalau pun dia tetap cari, kami bilang saja ibunya sedang di luar. Kami belum tahu kapan akan memberitahu kejadian ini kepada Kinara, tapi kita lihatlah nanti seperti apa pemeriksaan dokter dan psikolognya," ujar Susiana berharap.
Secara umum kata Susiana, kondisi Kinara sudah lebih baik dari hari-hari sebelumnya, namun Kinara masih membutuhkan keluarga untuk menghiburnya. Ia mengutarakan mereka bergantian di rumah sakit demi menghibur Kinara.
Kinara saat ini tidak lagi menggigau sesering pada pertama kali masuk rumah sakit, pun demikian Kinara kerap kali terbangun dan langsung mencari ibu, ayah dan kakaknya. "Perkembangannya uda bagus dan uda sehat, ya nggak pernah mengigau lagi. Kalau masih ngigau pasti tidak seperti ini keadaannya," katanya sambil menunjukkan wajah bahagia Kinara.
Menurut perawat Widiyawanti, kondisi Kinara semakin hari kian membaik. Sebelumnya sempat menjalani operasi bedah saraf di bagian kepalanya dilakukan di Rumah Sakit Adam Malik Medan. Luka di bagian kepala mendapat hantaman benda tumpul besi yang dipukulkan pelaku kejahatan.
Ketika Tribun Medan meminta izin kepada perawat untuk mewawancarai, Murtini, ibu almarhum Riyanto, terkait perkembangan kondisi Kinara, tidak mendapat restu dari petugas kepolisian itu.
"Nggak diperbolehkan sama polisinya," kata perawat Rumah Sakit Bhayangkara yang berjaga, Widiyawanti, Senin (24/4).
Ruang tempat Kinara dirawat masih terus dijaga personel kepolisian yang berpakaian preman. Polisi tersebut tidak mengizinkan siapa pun penjenguk, selain keluarga dan perawat, memasuki ruang perawatan.
Peristiwa pembunuhan sadistis yang menewaskan satu keluarga, genap dua minggu berlalu. Andi Lala membantai lima orang dalam satu keluarga, yakni pasangan suami istri Riyanto (40) - Sri Aryani (35); dua anak mereka, Syifa Fadilla Inaya (13) dan Gilang Dwi Laksono (8), serta Sumarni (60), ibu Sri atau mertua Riyanto. Isri Andi masih kerabat dengan Sri. Tempat kejadian di rumah Riyanto, di Jalan Kayu Putih, Lingkungan XI, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli.
Lincah Bermain
Pengamatan Tribun Medan/Tribun-Medan.com, kemarin, dari luar Ruang Teratai II, Lantai II RS Bhayangkara Medan, Kinara sudah mulai lincah bermain. Kemarin, ia bercanda dengan keluarga yang datang khusus menjenguknya.
Senyuman terus-menerus terpancar dari wajah Kinara. Ia berulang kali berlarian atau sekadar berjalan mondar-mandir untuk mendatangi saudara-saudaranya yang berada di dalam kamar tempat perawatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kinara-bayi-selamat_20170410_103805.jpg)