Edisi Cetak Tribun Medan

Peras Pejabat Tiongkok dan Taiwan, Interpol Minta Bantuan Polri Tangkap WNA di Tanjung Morawa

Para korban melaporkan kejadian yang menimpa mereka ke kepolisian negara setempat dan ditindaklanjuti Interpol Taiwan, untuk mengetahui lokasi operasi

Tribun Medan/Indra
Polisi mengawasi puluhan wanita yang berasal dari negara Tiongkok dan Taiwan di lokasi penggerebekan di Tanjung Morawa, Deliserdang, Sumatera Utara, Selasa, (16/5/2017). 

TRIBUN-MEDAN.COM, PAKAM - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditrskrimsus) Polda Sumut bekerja sama dengan Interpol Taiwan menggrebek gudang di Jalan Sultan Serdang, Gang Sopoyono, Desa Tegalsari, Kelurahan Tanjungmorawa, Deliserdang, Senin (15/5/2017) siang.

Pasalnya, polisi mendapat informasi ada aktivitas pemerasan, yang dilakukan secara online terhadap sejumlah pejabat di Tiongkok dan Taiwan sejak beberapa pekan terakhir, dari gudang itu.

Para korban melaporkan kejadian yang menimpa mereka ke kepolisian negara setempat dan ditindaklanjuti Interpol Taiwan, untuk mengetahui lokasi operasional para pelaku pemerasan online tersebut.

"Tahu lokasi berada di Sumut, maka tim Interpol Taiwan langsung berkoordinasi dengan Mabes Polri, dan selanjutnya meminta Polda Sumut untuk mencari lokasi yang dimaksud," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Sumut Kombes Pol Toga Panjaitan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kemarin.

Adapun modus yang digunakan para WNA tersebut, yaitu melakukan penipuan dengan cara menghubungi pejabat Tiongkok dan Taiwan. Para pelaku berpura-pura berperan sebagai jaksa, polisi atau lembaga hukum lainnya.

"Ada yang menghubungi pejabat dengan menginformasikan bila anak korban terlibat kasus narkoba, sehingga pelaku yang menyaru sebagai petugas meminta sejumlah uang agar dapat menyelesaikan perkara untuk tidak diproses hukum," kata Toga.

Selain itu, modus yang dilakukan yaitu dengan menuduh oknum pejabat di Tiongkok dan Taiwan melakukan korupsi, sehingga meminta sejumlah uang agar kasusnya tidak diungkap.

"Awalnya mereka mengecek rekening-rekening pejabat yang banyak uang dan mempertanyakan asal usul uang tersebut, sehingga membuat pejabat takut dan bernegosiasi dengan mereka yang menyaru petugas," ungkapnya.

Para pelaku selalu berkomunikasi dengan korbannya melalui telepon seluler dan menggunakan nomor Tiongkok maupun Taiwan sehingga semakin menyakinkan para korban.

"Seluruh korban merupakan pejabat aktif maupun pensiunan dari Tiongkok, dan Taiwan. Jumlahnya sudah puluhan," ucapnya.(cr8)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved