Panglima TNI Dapat Kritikan Pedas Gegara Bacakan Puisi Menohok Ini

Masinton mengatakan, akan menjadi preseden buruk jika ada anggota militer aktif yang melakukan manuver politik.

Editor: Tariden Turnip
KOMPAS.com/ MOH NADLIR
Panglima TNI Jenderal, Gatot Nurmantyo Saat Ditemui, di kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Kementerian Dalam Negeri, Jalan Taman Makam Pahlawan Nomor 8, Jakarta Selatan, Rabu (24/5/2017). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Anggota Komisi III asal Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengkritik Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang membacakan sebuah puisi yang menggambarkan keprihatinan atas situasi negara.

Baca: Rieke Diah Pitaloka Jamin Penangguhan Terdakwa UU ITE Nuril

Masinton mengingatkan Gatot fokus melakukan tugasnya terkait fungsi pertahanan negara.

"Sudahlah, fokus saja kepada tupoksi sebagai alat pertahanan. Enggak usah berpolitik. (Gatot) Enggak usah genit-genit dalam berpolitik," ujar Masinton, seusai menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan, Rabu (24/5/2017).

Baca: Tak Diladeni Berhubungan Seks 5 Bulan, Pria Ini Laporkan Istrinya ke Polisi

Ia mengatakan, apa yang dilakukan Gatot tak akan dipermasalahkan jika ia sudah pensiun.

"Setelah Beliau pensiun nanti, itu hak beliau sebagai warga negara. Maunyalon jadi apapun, terserah dia, itu monggo. Tapi sekarang kan posisi masih Panglima TNI. Jadi enggak usah cawe- cawe deh," ujar Masinton.

Masinton mengatakan, akan menjadi preseden buruk jika ada anggota militer aktif yang melakukan manuver politik.

Baca: Ustaz Al Habsyi Mangkir dari Sidang Perceraian dan Bilang Begini

"Pesan saya, jangan mengulangi masa orde baru," ujar Masinton.

Baca puisi Denny JA

Pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Balikpapan, Senin (22/5/2017) lalu, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo membacakan sebuah puisi berjudul 'Tapi Bukan Kami Punya' karya Denny JA.

Baca: Milisi Maute Kibarkan Bendera ISIS saat Baku Tembak di Mindanao

Berikut sedikit penggalan puisi yang dibacakan Gatot tersebut:

"Sungguh Jaka tak mengerti, mengapa ia dipanggil ke sini. Dilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengan gagah. Dari mata burung Garuda, ia melihat dirinya. Dari dada burung Garuda, ia melihat desa. Dari kaki burung Garuda, ia melihat kota. Dari kepala burung Garuda, ia melihat Indonesia."

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved