Baca Edisi Cetak Tribun Medan

Anak Terduga Teroris Mengigau Tiap Malam Cari Ayahnya

Yanti menjelaskan, keseharian suaminya yang menjadi terduga teroris adalah pelatih karate pasca-dipecat dari TNI AD karena mengedarkan ganja.

Tribun Medan/Royandi
Keluarga terduga teroris yang ditangkap oleh Densus 88 datangi Mapolda Sumut didampingi FUI dan ormas Islam, Kamis (8/6/2017) 

MEDAN,TRIBUN-Mengenakan gamis hitam dan cokelat, istri tiga terduga teroris, yang ditangkap anggota Detasemen Khusus 88 (Densus-88) Antiteror Mabes Polri, Selasa (6/6), mendatangi Markas Besar Polda Sumut, Kamis (8/6). Mereka mempertanyakan keberadaan suami mereka.

Saat mendatangi Mapolda, istri tiga terduga teroris membawa anak-anak mereka. Ada yang masih digendong dan ada yang sudah bisa berjalan sendiri. Mereka ditemani pengurus FUI Sumut.

Anak-anak terduga teroris ini ada yang menangis saat di gendongan, ada yang hanya duduk termangu, dan ada juga yang sempat menanyakan keberadaan ayahnya. Namun, ada juga yang lincah, bergerak ke sana ke mari.

Tiga terduga teroris yang ditangkap Densus-88 adalah Reza Alfino (38 tahun), warga Jalan Jermal-VII, Gang Masjid, Medan, Jhon Hen (41), warga Platina II, dan Azzam Algozhi alias Abu Yakup (48), warga Sari Rejo, Polonia.

Baca: Kapolda Diganti, Densus 88 Ciduk Tiga Terduga Teroris di Medan

Informasi beredar, Jhon merupakan mantan anggota TNI yang telah dipecat karena terlibat kasus peredaran ganja. Adapun Azzam Alghozi alias Abu Yakub adalah Ketua Laskar Forum Umat Islam Sumatera Utara (FUI Sumut).

Istri Jhon Hen, Yanti, paling terbuka menceritakan kedatangan mereka ke Mapolda. Ia juga mau menceritakan tentang keluarganya. Ia menceritakan hingga saat ini keluarganya belum tahu di mana keberadaan suaminya. Ia hanya tahu suaminya ditangkap polisi saat membeli minyak makan ke pajak.

Istri dan anak terduga teroris
Istri dan anak terduga teroris (Tribun Medan / Victory)

"Saya sedang jualan kemarin itu. Saya minta suami saya beli minyak goreng ke pasar. Dia bawa anak-anak ke pasar waktu itu. Semenjak itu saya tidak tahu lagi ke mana perginya suami saya," ujar Yanti di Mapolda Sumut, Kamis (8/7).

Belakangan, kata Yanti, polisi mengenakan pakaian sipil mendatangi warungnya untuk mengantarkan dua anaknya, Ni (8) dan Iq (7). Namun, polisi tidak ada memberi surat penangkapan suaminya.

"Tidak banyak bicara polisinya. Saya ajak bicara pun mereka diam-diam saja. Mereka tidak pakai seragam. Mereka hanya bilang kalau saya akan ditelepon nanti. Namun, hingga sekarang saya tidak pernah mereka hubungi," ujarnya.

Saat anaknya tersebut diantar, kata Yanti, mereka menangis tersedu-sedu dan langsung mendatangi dia. Terutama anak perempuannya.

"Ketakutan waktu itu anak-anak saya itu. Mereka menangis menayakan ayahnya ke mana," katanya.

Dua hari sudah suaminya tidak pulang. Yanti menambahkan, anak-anaknya masih mencari ayahnya. Bahkan, saat hendak mau tidur anak perempuannya mencari ayahnya. Bahkan, anak perempuannya itu kadang menggigau mencari ayahnya.

"Anak yang cewek ini paling dekat sama ayahnya. Sering nangis dia nanya ayahnya di mana. Kadang ngigau juga dia mencari ayahnya," ujarnya.

Ni mengatakan, sangat rindu kepada ayahnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved