WOW! Pemuda Berusia 21 Tahun Ini Berhasil Ciptakan Aplikasi Presensi Karyawan di Ponsel
Vincentius bercerita, saat masih duduk di bangku perkuliahan, ia mengikuti lomba yang diadakan salah satu perusahaan dengan membuat inovasi aplikasi p
TRIBUN-MEDAN.COM, JAKARTA - Vincentius Kurniawan (21), lulusan Program Studi Teknik Informatika Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tergerak untuk berinovasi membuat aplikasi presensi karyawan di dalam ponsel.
Vincentius bercerita, saat masih duduk di bangku perkuliahan, ia mengikuti lomba yang diadakan salah satu perusahaan dengan membuat inovasi aplikasi presensi karyawan.
Ide tersebut ia lanjutkan dengan memasukkan algoritma saat ia mengerjakan proyek tugas akhir atau skripsi.
Ide membuat aplikasi presensi karyawan berawal dari pengamatannya tentang mobilitas karyawan yang tinggi. Banyak karyawan yang harus bekerja di luar kantor.
"Tujuan buat teman-teman yang di dunia kerja itu butuh mobilisasi tinggi. Jadi kenapa sih absen (mengisi presensi) harus datang ke kantor, harus pake finger print, tapping, padahal kan kalau kerjanya di mal, working space, atau kerjanya yang harus ke client-client, kan susah," ujar Vincentius saat berbincang dengan Kompas.com, Sabtu (8/7/2017).
Baca: Saat Acara Pisah Sambut, Istri Mantan Kapolda Sumut Menangis
Baca: Tinggalkan Sumut, Irjen Pol Rycko Amelza Jadi Gubernur Akpol, Ini Tujuannya
Baca: Kapolda Sumut yang Baru Dianggap Jago Tangani Konflik
Oleh karena itu, Vincen pun berinovasi menggunakan sistem Android di ponsel.
Aplikasi presensi karyawan mampu membuat penggunanya memberitahukan kehadiran mereka dalam bekerja dari koordinat tertentu tanpa harus datang ke kantor.
Koordinat-koordinat itu ditentukan oleh perusahaan berdasarkan lokasi para karyawannya yang bekerja di luar kantor.
"Tujuannya absennya biar fleksibel pakai handphone. Jadi sistemnya itu dia bisa absen kalau di koordinat tertentu," katanya.
Aplikasi presensi karyawan diintegrasikan dengan teknologi global positioning system (GPS). Aplikasi tersebut mendeteksi wajah orang yang melakukan presensi atau face recognition.
Menurut Vincentius, kini inovasinya itu diminta salah satu perusahaan untuk dibuat sebagai bisnis.
Dia menyebut banyak hal yang masih harus digali dan dikembangkan dalam aplikasi tersebut sebelum benar-benar digunakan untuk bisnis.