Kisah Pilu Penderita Kanker Tulang

Ketty Ingin Sembuh dan Sekolah Lagi

Pada satu hari di bulan Februari 2017, Ketty ambruk. Kedua kakinya seperti tak mampu menopang berat tubuhnya.

Ketty Ingin Sembuh dan Sekolah Lagi
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
SITI Khadijah atau Ketty (11), duduk bersama adiknya di kediaman mereka di Jalan Langkat No 6 Lingkungan IV, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Senin (10/7). Ketty yang merupakan anak seorang buruh cuci dan penjemur ikan ini menderita penyakit Osteosarcoma, sejenis kanker tulang agresif, yang membuatnya tidak dapat berjalan dan berhenti sekolah. 

Sebuah bola melesat menghantam lutut Ketty. Nyeri yang menusuk langsung membuatnya terduduk. Hari itu, pertengahan Desember 2016, dia menerima rapor. Seperti biasa, nilai-nilainya bagus. Ketty naik ke kelas enam dan dia pulang dengan senyum yang lebar. Namun tak lama. Senyum ini berganti ringis dan tangis, sampai sekarang.

HANTAMAN bola membuat lututnya bengkak. Menyangka puterinya sekadar terkilir, Nilawaty, ibu Ketty, membawanya ke tukang urut. Bengkak tak juga surut. Malah membuatnya demam.

"Saya kemudian bawa dia ke puskemas. Tetap tak sembuh. Demamnya turun tapi kakinya tetap sakit," kata Nilawaty di rumahnya, Jalan Langkat No 6 Lingkungan IV, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Senin (10/7).

Dari hari ke hari kondisi kesehatan Ketty terus menurun. Mula-mula hanya nyeri, lalu sakit yang lebih menusuk dan membuatnya sulit berjalan. Pada satu hari di bulan Februari 2017, Ketty ambruk. Kedua kakinya seperti tak mampu menopang berat tubuhnya.

Untuk pertama kalinya Nilawaty menyadari betapa sakit yang diderita Ketty bukan penyakit biasa. Dan dokter yang memeriksa kemudian menyampaikan hal yang membuat dunianya seakan runtuh. Ketty menderita Osteosarcoma, sejenis kanker agresif yang menyerang tulang-tulang berukuran besar pada bagian yang memiliki tingkat pertumbuhan tercepat, seperti tulang paha, tulang kering, tulang lutut, tulang bahu, dan tulang panggul.

Osteosarcoma diyakini berangkat kesalahan kode genetik pada DNA seorang anak. Bisa juga disebabkan oleh faktor eksternal, terutama radiasi.

Ketty lahir di Ulim, Aceh Timur, 13 Juli 2005. Nilawaty dan suaminya Dhepriza memberi nama bayi mereka nama Siti Khadijah, mengikut nama istri Nabi Muhammad SAW, agar dapat meneladani perempuan mulia itu. Meneladani sifat dan perilaku, juga kecerdasannya.

Bahwa oleh kawan-kawannya Siti Khadijah disapa Ketty yang kesannya jadi agak kebarat- baratan, yang konon berawal dari penggalan 'ti' pada nama depannya (dan entah siapa pula yang kemudian menambahinya dengan 'ket'), tak lantas memelencengkan harapan itu. Ketty tumbuh menjadi anak yang selalu menyenangkan di antara kawan-kawannya, penurut dan patuh dan hormat pada orang tua dan orang-orang yang lebih tua.

Di sekolahnya, SD Muhammadiyah 04, Medan Belawan, Ketty selalu berprestasi. "Waktu naik- naikan dari kelas empat ke kelas lima dia rangking tiga umum. Pintar anaknya, banyak punya bakat juga. Dia sering lolos seleksi untk mengikuti berbagai perlombaan. Seperti lomba puisi, menari, dan lainnya," kata Jumini, gurunya.

Menurut Jumini, Ketty menonjol dalam pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. "Satu kali Ketty pernah bilang dia bercita-cita jadi duta besar," ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved