Breaking News

Edisi Cetak Tribun Medan

SEDIHNYA! Murid SD di Kaki Gunung Sinabung Terpaksa Belajar di Tenda Rusak

Sebanyak 82 murid belajar di sekolah darurat tersebut, karena gedung sekolah mereka retak-retak akibat letusan Gunung Sinabung.

TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) menyaksikan erupsi Gunung Sinabung, saat mengikuti kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar kelas, di SD Negeri 044831 Desa Gung Pinto, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (18/7/2017). Sejak gedung sekolah mereka rusak akibat diterpa erupsi Gunung Sinabung dan gempa bumi berkekuatan 5,6 SR pada Januari 2017 lalu, para murid terpaksa bersekolah di dalam tenda darurat, dan kini tenda kelas mereka rusak akibat diterjang angin kencang. 

TRIBUN-MEDAN.COM, KABANJAHE - Sekitar 80 kilometer di Selatan Kota Medan, tepatnya di Desa Gung Pinto, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, siswa SD Negeri 044831 terpaksa belajar di sekolah darurat, yang terbuat dari tenda, Selasa (18/7).

Sebanyak 82 murid belajar di sekolah darurat tersebut, karena gedung sekolah mereka retak-retak akibat letusan Gunung Sinabung.

Ada empat tenda darurat yang berfungsi sebagai tempat belajar mengajar di desa tersebut. Satu tenda masih berdiri bagus, tapi tiga tenda lainnya dalam kondisi setengah rusak hingga rusak total atau tak berfungsi
Satu unit tenda dibagi jadi dua ruangan belajar.

Di dalam masing-masing tenda ada papan tulis. Jejeran bangku dan meja, yang sudah kusam, tetap dipakai siswa menuntut ilmu.

Baca: Begini Nasib Sekolah Darurat di Kaki Gunung Sinabung, Musim Hujan Becek, Saat Kemarau Penuh Debu

Baca: Hari Ini Gunung Sinabung Erupsi Disertai Gempa Kecil

Pada hari kedua tahun ajaran2017/2018, siswa ke sekolah meneteng ember sekitar pukul 08.00 WIB. Mereka disambut guru-guru yang sudah lebih dulu tiba di sekolah darurat, yang berdiri sejak Maret lalu.

Setelah menyalami gurunya, para siswa ini meletakkan tas bawaannya di atas meja belajarnya. Dengan komando guru, para siswa silih berganti menyiram halaman sekolah yang sudah dipenuhi abu vulkanik Gunung Sinabung.

Usai menyiram halaman, mereka berbaris, kemudian masuk ke tenda. Namun, beberapa siswa terpaksa belajar di bawah terik matahari, karena tenda sekolah mereka rusak diterjang angin.

Kegiatan belajar mengajar mereka memang belum efektif. Para guru cuma mengajak siswa untuk berkegiatan di luar kelas. Namun, beberapa siswa ada yang memilih membaca di meja belajar.

Meski harus beraktivitas di bawah terik matahari dan ada debu vulkanik, para siswa tampak menikmatinya. Sekitar dua jam kemudian, tiba-tiba Gunung Sinabung bergemuruh dan terjadi erupsi.

Abu vulkanik berwarna putih dan hitam pekat menjulang tinggi ke udara. Perhatian siswa-siswa sekilas tertuju ke arah gunung. Namun, mereka tampak tenang dan kembali beraktivitas.

Mereka tidak takut lagi kalau Gunung Sinabung erupsi. Mereka hanya perlu melihat arah angin ke mana saat terjadi erupsi. Jika, arah angin ke arah sekolah, mereka akan masuk ke tenda dan mengenakan masker, jika beraktivitas di ruang terbuka.

"Dulu, awal-awal gunung meletus kami memang takut. Cuma karena sudah sering, kami tidak takut lagi. Sudah biasa kami lihat gunungnya meletus," ujar siswa kelas III, Insan Gegehta Sembiring.

Sekitar pukul 12.00 WIB, Kepala Sekolah SD Negeri 044831 Heriani Sembiring mengatakan, jam pelajaran sekolah sudah usai. Para siswa berbaris dan memberi salam kepada guru, dan beranjak pulang ke rumah.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved