Kisah Teknisi Jenazah yang Sudah Bekerja 32 Tahun, Jalal Mengaku Pernah Merasa Dipeluk Mayat
Berprofesi sebagai teknisi jenazah atau teknisi otopsi dan pemulasaraan jenazah merupakan tugaskemanusiaan yang penting. Namun, harus juga dibekali ke
Penulis: Arjuna Bakkara |
Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Berprofesi sebagai teknisi jenazah atau teknisi otopsi dan pemulasaraan jenazah merupakan tugaskemanusiaan yang penting. Namun, harus juga dibekali kesiapan yang ekstra, terlebih keberanian.
Satu dari Teknisi jenazah di Medan, Jalal, pria berusia 55 tahun ini mulai berhadapan dengan jenazah sejak tahun 1984. Pada awal bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Pirngadi Medan, ia mengaku mengalami kejadian tak lazim.
Puluhan tahun silam, Jamal pernah mengumpulkan jenazah tak beridentitas di kamar mayat RSUD Pirngadi untuk dikuburkan. Tiga hari setelahnya, jenazah yang ia tempatkan di sudut ruangan seolah ingin memeluknya.
Baca: Kisah Penggali Kubur, Dari Preman hingga Bertaubat karena Bertemu Imam yang Tak Basah Kena Hujan
"Dulu ada jenazah yang sudah mengering dan mengeras. Jadi saya taruh di sudut ruangan dengan posisi berdiri. Tiga hari kemudian, aku masuk ke ruang kulkas untuk keperluan autopsi, dan itu malam-malam. Aku terkejut, jenazah yang ku berdirikan itu, perasaanku menghampiriku dan memelukku" katanya saat ditemui di Kamar Mayat Rumah Sakit Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) di Jalan Lau Cih, Medan (3/8/2017).
Pertama kali Jalal merasa seram memasuki kamar mayat. Beberapa kejadian yang secara logika dan susah diterima akal sering ia alami.
Tak hanya itu, sewaktu memandikan jenazah, jasad yang ia terima malam harinya dinilainya hidup kembali. Padahal, sewaktu diantar pihak kepolisian, jasad tersebut memang benar dinyatakan sudah menjadi mayat.
Ia pun membawanya ke ruang IGD, beberapa jam kemudian orang yang ia mandikan pun benar-benar meninggal.
"Aneh juga, pas diantar polisi sudah jadi mayat. Pagi-paginya, saya curiga soalnya badannya jadi mereng. Terus saya mandikan, dan kasih air hangat ke mulutnya. Karena saya disembur, kami bawa lagi ke IGD, setelah di IGD dia pun mati lagi. Anehnya, pas datang malam-malam udah menjadi mayat," ujar pria yang kini menetap di RSUP HAM ini.
Jalal, ayah tiga anak ini mengaku, saat pertama memandikan hingga mengotopsi mayat, memang ia rasa seram terbawa hingga tidur. Lama-kelamaan rasa takutnya hilang, dan pekerjaan itu ia lakoni bagaimana adanya.
Hal yang sulit ia hadapi adalah ketika merekonstruksi jasad. Menyambung dan mencocokkan antara potongan tubuh satu dan yang lain, bukanlah hal yang mudah dan tentunya harus memiliki keterampilan khusus.
Ia menjelaskan, sebagai teknisi jejazah, ia harus siap 24 jam untuk ditugasi. Membersihkan tubuh mayat, merekonstruksi hingga membantu proses autopsi terkadang tidak mengenal waktu.
Apalagi dia bertugas sebagai teknisi autopsi khusus mayat tak beridentitas (Mr-X). Bahkan ia tidak hanya menunggu di rumah sakit, mulai menjemput mayat tindak pidana seperti pembunuhan dia juga terlibat.
Katanya, berprofesi sebagai teknisi otopsi membuat dirinya berubah. Rasa menghargai dan tidak membeda-bedakan orang lain lwbih tinggi. Juga rasa saling menghargai terhadap semua orang.
"Membersihkan dan memandikan jenazah dari berbagai kalangan mengajari saya lebih baik. Tidak ada gunanya membeda-bedakan, toh akhirnya sama-sama jadi mayat," ujarnya sambil tersenyum.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jalal_20170803_170406.jpg)