Selamatkan Bahasa dan Budaya Lokal dari Kepunahan, Ini yang Dilakukan Forum Komunikasi Panggabean
"Rangkaian munas yang menghasilkan rekomendasi internal dan eksternal ini ditutup dengan ibadah oleh Pdt Pantas Panggabean SSi dan Pdt Harry"
Penulis: Arjuna Bakkara |
Laporan Wartawan Tribun Medan / Arjuna
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Musyawarah Nasional (Munas) II Forum Komunikasi dan Sinerji Panggabean Indonesia menghasilkan beberapa rekomendasi, di antaranya menyangkut eksternal, soal bahasa dan budaya lokal.
Demikian disampaikan Prof Dr Himpun Panggabean MHum, didampingi Drs John Heart Panggabean, Ir Parlinggoman Panggabean, Reinhard Panggabean, Amir Simorangkir, Dra Odorlin Boru Sihite MSi, Ny John Heart Boru Tampubolon MPd, Nancy Panggabean SE, Tiolina Panggabean SH, Panogari Panggabean SH MSi, Dra Tina Boru Panggabean, W Marpaung, Reynold Panggabean, Ny Parlinggoman Boru Hutahaean, Talenta Marbun SE MSi, Lidang Panggabean, Ny Arnold/dr Diana Boru Tobing, dan lainnya.
"Marga Panggabean merasa ikut bertanggung jawab melestarikan bahasa dan budaya lokal, termasuk bahasa dan Budaya Batak yang kini terancam punah. Sehubungan dengan itu, Punguan Panggabean mengimbau agar pemerintah berperan maksimal dan aktif membina dan mengembangkan bahasa dan Budaya Batak sesuai dengan amanah UU No 249/2009 Pasal 42;1. Panggabean juga mengimbau marga-marga untuk menggunakan Bahasa Batak sesering mungkin di rumah, melibatkan generasi muda untuk aktif dalam kegiatan dan komunitas berbahasa Batak serta mempertahankan kebaktian-kebaktian berbahasa Batak di gereja-gereja berbasis Batak dan menggunakan Bahasa Batak di internet dan menulis buku berbahasa Batak,"kata Prof Himpun, Jumat (11/8/2017).
Disebutkan, mengenai unsur-unsur budaya, diharapkan agar marga-marga mempraktekkan tradisi budaya seperti martumba dan marturi-turian. Perlu ditekankan bahwa apabila Bahasa Batak punah, maka Adat Batak akan punah dan marga juga akan punah.
Baca: Wanita Ini Diberi Tumpangan Rumah, Balasannya Mengerikan, Malah Rebut Suami Penolong
Tahan M Panggabean menambahkan, pembukaan munas dilaksanakan di Tugu Monumen si Raja Panggabean di Tarutung dengan pemberian 20 ribu bibit ikan nila, 2.000 bibit kopi, dan andaliman serta durian 400 pohon.
Munas dilanjutkan di Danau Toba Cottage Parapat, berlangsung dengan baik selama dua hari, agenda laporan pertanggungjawaban pengurus lama, penyusunan program, dan pemilihan pengurus baru.
"Rangkaian munas yang menghasilkan rekomendasi internal dan eksternal ini ditutup dengan ibadah oleh Pdt Pantas Panggabean SSi dan Pdt Harry Panggabean STh," katanya.
Dilanjutkan Himpun, rekomendasi eksternal lainnya adalah, bahwa Forum Kemunikasi Sinerji Panggabean mendukung pembangunan kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia.
Berkaitan dengan itu, masyarakat di kawasan itu harus melakukan akulturasi dengan budaya wisatawan, melalui keramahan, kesantunan, dan kenyamanan. Masyarakat juga perlu dipersiapkan diri dengan keterampilan dan pengetahuan tentang kepariwisataan profesional.
Di samping itu, penduduk lokal juga harus mempunyai porsi kepemilikan atas mesin-mesin ekonomi yang lahir dari sektor kepariwisataan.
Atas dasar itu, dibutuhkan peraturan perundang-undangan yang menjamin porsi kepemilikan tersebut.
Sementara rekomendasi internal sebagai berikut:
1. "Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona", adalah merupakan falsafah dan nafas pengurus Punguan Panggabean yang harus ditanamkan sejak usia dini. Falsafah ini harus terpatri secara mental dan emosional, sehingga koneksi kekeluargaan tetap dipraktekkan secara kongkrit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/munas-ii-forum-komunikasi-dan-sinerji-panggabean-tribun_20170811_110113.jpg)