HUT Proklamasi RI
Kisah Empat Perempuan Belanda yang Bela Indonesia dan Tinggalkan Negaranya
"Saya diantar orangtua yang menangis-nangis. Mereka tidak keberatan saya berpihak kepada Indonesia. Mereka keberatannya saya pergi jauh."
Setelah itu, Kobus bersaudara itu sering mendampingi para suami mereka, untuk kumpul-kumpul bersama pemuda-pemuda Indonesia lain, atau datang ke Institut Kolonial, menonton dan bermain keroncong.
Ke lembaga yang didirikan pada 1910 untuk meneliti kawasan tropis jajahan Belanda itulah Dolly Zegerius sering datang bersama kekasihnya, Raden Mas Soetarjo Soerjosoemarno—seorang pria dari keluarga kesultanan Mangkunegaran Solo yang tengah menempuh studi topografi di Delft.
Dan di sana Dolly berkenalan dengan tiga gadis Korbus bersaudara.
Di usianya yang menjelang seabad, Dolly masih bisa mengenang awal pertemuannya lebih dari tujuh dekade lalu, dengan Kobus bersaudara. "Mereka main keroncong bagus sekali," katanya saat ditemui di rumahnya, di Jakarta, beberapa pekan lalu.
Siapa nyana pertemanan itu akan terus terjaga erat selama berpuluh tahun kemudian. Dan siapa sangka pula mereka akan sama-sama menjadikan Indonesia sebagai tanah air mereka, hingga usia begitu senja -dimulai dari perjalanan dengan kapal Weltevreden, Desember 1946 itu.
Kapal Weltevreden dipakai pemerintah Belanda untuk mengangkut tentara ke Indonesia.KONINKLIJKE ROTTERDAMSCHE LLOYD MUSEUM
Tiba di Indonesia
Tiga kakak beradik Kobus ini memang sudah sejak awal ingin hijrah ke Indonesia, Namun rencana keberangkatan mereka terus menerus tertunda karena kapal-kapal Belanda memprioritaskan pengerahan pasukan ke Indonesia 'untuk menertibkan situasi' sesudah Indonesia memerdekakan diri.
Kesempatan datang pada Desember 1946 dan tak disia-siakan kaum perempuan Kobus--Betsy, Annie, Miny, dan Mien, ibu mereka. Turut pula di kapal itu sahabat mereka, Dolly, serta sejumlah orang lain.
Dolly bersama putranya, Narjo, saat baru turun dari kapal Weltevreden di Jakarta, 1 Januari 1947.DOK. PRIBADI
Saat itu, Dolly sudah memiliki seorang anak, Narjo, yang berusia 1,5 tahun. Dan selama empat minggu dalam perjalanan di kapal, tak jarang Annie dan Miny merawat si Indo kecil itu.
Mereka tiba di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta, pada 1 Januari 1947.
Dipaparkan di buku Enkele Reis Indonesie karya Hilde Janssen, Dolly dan keluarga Kobus itu tidak sendirian. Dari dalam kapal turun 57 perempuan Belanda yang menikah dengan pria Indonesia, 11 pemuda Belanda yang ingin ikut berjuang membela Indonesia, 12 orang Cina, serta sekitar 200 mantan mahasiswa dan awak kapal asal Indonesia.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, puluhan perempuan Belanda itu melihat Indonesia. Dolly mengaku langsung merasa begitu akrab.
"Bayangan saya waktu pertama di Indonesia, kok kayak dejavu? Seperti sudah pernah lihat. Ndak asing sama sekali," kenangnya dengan mata berbinar.
Kakak beradik Kobus di rumah baru mereka di Surabaya, pada 1952. Dari kiri ke kanan (berdiri): Betsy, seorang tetangga, Annie. Dari kiri ke kanan (duduk): putra Miny, Miny, putri Betsy.DOK. PRIBADI
Seusai menjalani pemeriksaan paspor dan dokumen-dokumen perjalanan, Dolly, keluarga Kobus, dan para suami mereka serta para penumpang lain, masuk kereta yang dikirim pemerintahan baru Indonesia di Yogyakarta. Saat itu, Jakarta atau Batavia berada dalam kekuasaan Belanda.
Perjalanan kereta itu dikawal pasukan militer Belanda sampai ke garis demarkasi yang terletak di Kranji, Bekasi. Garis itu memisahkan wilayah kekuasaan Belanda dengan Republik Indonesia.
Keberadaan para perempuan kulit putih amat mencolok di antara ratusan orang Indonesia yang berkulit sawo matang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/empat-wanita-belanda-bela-indonesia_20170816_181759.jpg)