Laura Tyas Avionita, Setia Meneruskan Warisan Budaya Simalungun
"Kalau untuk acara-acara kegiatan budaya yang tidak dibayar kita selalu ikutin apalagi ada kegiatan sosialnya, walaupun saya harus ngeluarin dana.."
Penulis: Arjuna Bakkara |
Laporan Wartawan Tribun Medan / Arjuna
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sekelompok wanita setia mempertahankan budaya nusantara, meski menghadapi berbagai tantangan, dan satu dari wanita-wanita itu adalah Laura Tyas Avionita Sinaga.
Untuk mewujudkan kecintannya, Laura yang merupakan mahasiswi Pendidikan Seni Tari Unimed ini mendirikan Grup Tari Simalungun Home Dancer (SIHODA) Medan.
Laura mengatakan merasa nyaman berkesenian apalagi untuk pelestarian budaya nusantara. Bagi mereka penghasilan bukanlah yang paling utama.
"Kalau untuk acara-acara kegiatan budaya yang tidak dibayar kita selalu ikutin apalagi ada kegiatan sosialnya, walaupun saya harus ngeluarin dana sendiri,"ujarnya saat ditemui di Pelataran Fakultas Bahasa dan Seni Unimed, Jalan Williem Iskandar, Senin (11/9/2017).
Baca: Lihat PNS Terima Gratifikasi? Begini Cara Melaporkannya ke KPK dan Inspektorat
Mahasiswi semester delapan ini mengaku, malah tidak merasa rugi kalaupun harus mengeluarkan dana sendiri.
Dia beserta rekannya merasa beruntung bila masih dapat berpartisipasi dalam pelestarian budaya.
Kata perempuan yang akrab di sapa Laura ini, awalnya dia hanya iseng membuat group dan mengumpulkan orang-orang yang mencintai budaya terkhusus tari simalungun. Berkat kegigihannya, akhirnya dia berhasil mengajak rekan-rekan yang sejawat dengan dirinya.
Menurutnya, dalam menari atau menggeluti budaya banyak pengalaman ia dapatkan. Dia semakin paham arri toleransi dan menjaga keberagaman.
"Misalnya dengan menari di gereja walaupun saya seorang Muslim, saya jasi belajar tentang toleransi beragama. Saya juga belajar bahwa untuk mendapatkan sebuah hasil yg bagus diperlukan proses latihan yg cukup,"tambahnya.
Namun, dikatakannya banyak batu sandungan yang ia hadapi bersama rekannya di SIHODA. Alasannya, tidak semua orang beranggapan hal positif terhadap seorang penari.
Baginya, pandangan negatif orang terhadap penari seperti dirinya dan rekan-rekan di SIHODA tidak menjadi masalah. Sebab yang mereka lakukan adalah wujud nyata kecintaan terhadap budaya.
Kecintaan terhadap nilai budayalah mendorong Laura membentuk group SIHODA sejak 27 Januari 2014 lalu. Selain menggerakkan group, dia juga turut dalam pengembangan budaya dengan menari bersama beberapa sanggar dan komunitas, seperti Seniman Muda Simalungun.
Selain itu, ia juga beberapa kali mengajar tari di organisasi kedaerahan seperti Ikatan Mahasiswa Simalungim (IMAS) USU tanpa meminta bayaran tapi dengan tujuan mendapatkan pengalaman dan pengabdian. Karena, sejak awal Laura memang berprinsip menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada tari, bukan melihat apa yangg akan diberikan tari kepada dirinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/laura-sinaga-tribun_20170911_165821.jpg)