Ustaz Pembimbing Haji Rekam Dirinya saat Tawaf, Curang saat Ibadah Haji di Rumah Allah
Yang membuat saya geleng-geleng kepala, ada ustaz pembimbing haji yang sedang tawaf sambil merekam dengan kamera video di gawainya.
Tapi begitulah. Dengan larangan ketat itu pun masih saja ada yang sembunyi-sembunyi membawa kamera, dan dengan bangga menceritakannya saat pulang haji.
GETTY IMAGES
Kini tidak ada lagi pemeriksaan ketat. Petugas yang berjaga pun jarang menegur orang-orang yang berfoto. Mungkin karena sudah sangat sulit untuk mencegah orang membawa kamera, karena semua telepon genggam sekarang dilengkapi kamera. Tidak mungkin juga rupanya melarang orang membawa telepon genggam.
Tetapi dijaga dengan ketat atau longgar, bukankah sepatutnya larangan ini dipatuhi?
Waktu masih duduk di kelas 1 madrasah tsanawiyah, saya belajar sebuah hadis, yang kemudian melekat di benak saya hingga kini.
Bunyinya: "Mendengar dan taat itu kewajiban bagi setiap muslim, dalam hal yang dia sukai maupun tidak. Kecuali bila dia disuruh melakukan maksiat."
Maknanya? Patuhlah pada aturan, termasuk aturan yang dibuat manusia. Apalagi ini aturan yang dibuat pengelola mesjid suci. Wajib bagi kita untuk mematuhinya.
Saya pun teringat dengan pengalaman lain, ketika saya berkunjung ke sebuah kuil di Bangkok. Di situ saya memotret banyak objek. Kemudian di suatu tempat, tampak ada tanda dilarang memotret. Karena menghormati aturan kuil, larangan itu saya patuhi. Nah, bukankah akan sangat aneh kalau di tempat ibadah kita sendiri kita justru melanggarnya?
Tapi saya kok tidak pernah melihat tandanya, kata beberapa orang berdalih. Kita bisa bertanya balik, tidak melihat atau tidak peduli?
GETTY IMAGES
Tanda larangan memotret bertebaran di mana-mana. Hanya saja, orang memang cenderung hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Hal-hal yang bukan bagian dari kepeduliannya, akan terlewatkan, meski ada di depan mata.
Kita bisa kembali sampaikan pertanyaan ustaz tadi. Untuk apa pergi ke tanah suci? Untuk memenuhi panggilan Allah. Untuk menunjukkan bahwa kita ini orang yang patuh. Tapi perilaku kita justru menunjukkan hal sebaliknya. Kita dengan berbagai cara melanggar ketentuan-ketentuan. Itu kita lakukan di rumah Allah.
GETTY IMAGES
Hal lain yang juga terasa mengganggu saya adalah vandalisme.
Batu-batu di Jabal Rahmah dan Jabal Uhud, misalnya, dipenuhi oleh berbagai coretan. Ada yang memakai cat, ada pula yang pakai spidol. Sebagian bertuliskan huruf Arab, ada pula memakai huruf latin. Jangan heran, orang Indonesia pun turut "menyumbang karya" di situ.
Jabal Rahmah. Dan coretan berbagai jenis, dalam berbagai bahasa/KARIM SAHIB/AFP/GETTY IMAGES.
Di luar soal hal-hal yang terlarang tadi, banyak pula pemandangan terkait soal ketidakpedulian pada sesama.
Petugas-petugas penjaga ketertiban di kedua masjid suci itu sering harus berteriak mengingatkan orang. Tapi sering pula itu diacuhkan.
Apa yang jadi masalah utama? Jalan. Ini tempat jutaan orang berkumpul dan bergerak. Ada yang tersendat di suatu tempat, bisa menimbulkan kecelakaan yang menelan korban nyawa. Tapi banyak jamaah yang tidak peduli soal itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/selfie-saat-haji_20170915_154903.jpg)
