Edisi Cetak Tribun Medan

Pelanggan PLN Syok Kena Denda Rp 10 Juta, Arus Listrik pun Mendadak Diputus

"Beginilah gelap-gelapan di rumah. Listrik rumah kami sudah dicabut sama PLN, jadi terpaksa begini kalau mau beraktivitas di rumah,"

Pelanggan PLN Syok Kena Denda Rp 10 Juta, Arus Listrik pun Mendadak Diputus
EPA
Ilustrasi Listrik Padam 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Sambungan arus listrik sering sekali mengalami pemadaman (biarpet) yang meresahkan warga.

Di sisi lain, pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) tanpa toleransi, menindak tegas pelanggan yang diduga melanggar. Satu keluarga merasa syok akibat mendapat kenyataan terkena denda sebesar Rp 10 juta lebih.

Bukan hanya wajib membayar denda, rumah mereka gelap-gulita, alat-alat perabot rumah tangga tidak dapat digunakan, mengecas peralatan elektrobik pun terkendala akibat aliran arus listrik diputus secara sepihak.

Kejadian serupa jamak ditemui, diduga mungkin merupakan permainan petugas lapangan.

"Beginilah gelap-gelapan di rumah. Listrik rumah kami sudah dicabut sama PLN, jadi terpaksa begini kalau mau beraktivitas di rumah," ujar Ananda Idha Zulfia saat berbincang dengan Harian Tribun Medan/online Tribun-Medan.com di rumahnya, Jalan Karya Jaya, Kompleks Kencana Asri, Medan.

Baca: Penerbangan Ditunda, Gara-gara Penumpang Lempar Koin Keberuntungan, Astaga! Masuk Mesin Pesawat

Saat ditemui, Senin pekan lalu, Ananda tampak menggunakan penerangan lampu senter handphone, Ananda Idha Zulfia keluar dari kamar mandi di rumahnya.

Ia baru saja mencuci kain hanya bermodalkan penerangan seadaanya, karena aliran listrik dirumahnya diputus pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) selama sepekan, sejak awal Oktober.

Menurut Ananda, listrik di rumahnya akan kembali dipasang PLN jika keluarga membayar denda yang sudah di tetapkan yaitu Rp Rp 10.629.049, karena petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) dari PLN Area Medan Johor menemukan meteran listrik di rumahnya berlubang.

"Dendanya Rp 10 juta labih. Denda itu tidak bisa tidak dibayar. Kalau tidak dibayar sambungan listrik di rumah kami ini tidak akan disambung lagi katanya. Mahal kali dendanya. Padahal kami sama sekali tidak pernah merusak atau melubangi meteran," ujarnya.

Sekretaris Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen Padian Adi S Siregar mengatakan konsumen bisa dikenakan denda apabila terbukti merusak segel meteran, atau perangkat rusak.

"Sesungguhnya ini adalah kasus yang berulang, konsumen tidak pernah melakukan apa-apa tapi dituduh dan dikenai tagihan susulan sebanyak puluhan juta," ujar Adi.

Baca: Unggahan Putra Ahok yang Ramai Diperbincangkan di Media Sosial

Menurutnya ditemui berbagai kasus serupa, rata-rata konsumen tidak permah mengakui mengubah, menyambung, melubangi dan merusak segel perangkat listrik di rumahnya. Memang posisinya sungguh merugikan konsumen.

Ketika ada Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), konsumen tidak bisa melakukan apa-apa, karena perangkat di rumah atau segel meteran rusak. padahal rusaknya perangkat listrik itu karena ketidaktahuan pelanggan.

Persoalan ini memang dilematis. Di satu sisi PLN menganggap itu adalah alibi dari pelanggan, atau konsumen. Sesungguhnya kerusakan itu bisa terjadi akibat binatang, faktor alam, atau akibat orang lain, karena rumah tersebut ditempati orang lain sebelumnya, atau bisa permainan orang lapangan. 

Baca: NEWS VIDEO: PLN Denda Pelanggan 10 Juta Gara-gara Kondisi Meterannya Begini

Kualitas sambungan arus listrik yang rendah, akibat kerap padam, dirasakan warga Medan hampir setiap hari. Dalam sepekan terakhir, pemadaman bahkan berulang kali secara mendadak dalam sehari.

Terkait pemadaman, General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Sumut Feby Joko Priharto mengatakan, pemadaman yang kerap terjadi akhir-akhir ini, karena ada gangguan teknis pada gardu induk PLN.

"Kami memohon maaf atas gangguan listrik yang terjadi baru-baru ini. Ke depan PLN akan terus melakukan pembenahan teknis. Antara lain menambah gardu induk, terutama di pusat kota," kata Feby saat menemui Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Jumat (20/10).

Mengenai dugaan adanya kecurangan pada petugas lapangan dalam kasus temuan berlobangnya meteran listrik Area Manager PLN Medan Agus Tri Susanto, menjamin anggotanya tidak curang atas temuan meteran berlubang di rumah pelanggan bernama Anada dan Ratnawati.

Baca: Pimpinan PLN Minta Maaf, Mati Lampu Masih Kerap Terjadi di Sumut

Menurut Agua dengan adanya lubang tersebut sesuai aturan mereka harus mendenda Ananda dan Ratnawati.

"Saya mengikuti perkembangan kasus dari Ananda ini, sudah jelas ada temuan lubang di meteranya, jadi sudah cukup," ujarnya.

Meski begitu, Agus mengutarakan tidak tertutup kemungkinan masih ada pegawai mereka yang berbuat nakal, dengan berupaya melakukan transaksi di lapangan saat ada temuan pelanggaran, namun hal tersebut bisa dia jamin tidak dilakukan oleh karyawan tetap PLN melainkan karyawan outsourching yang mereka pekerjakan.

"Kalau dia outsourcing, kita kembalikan ke perusahaan dia. Kalau dia sudah karyawan tetap di PLN saya kira dia tidak akan berani melakukannya, karena kalau dipecat tentu dia akan sangat rugi banyak," ujarnya.

"Kalau ada yang jahat laporkan saja. Misalnya ada yang ada petugas yang datang, dan bilang meterannya bolong, kemudian dia bilang ke saya saja bayar Rp 2 juta karena ke kantor bayarnya Rp 11 Juta segera laporkan, biar kami pecat. Petugas PLN tidak bisa melakukan transaksi di lapangan," tambah Agus.

Rutin Bayar Listrik
Saat Tribun Medan bersama Christ Fendi Tarigan, Suami Ananda, menuju ke kantor PLN Area Medan Johor, Senin (16/15), untuk melihat meteran yang disebut P2TL berlubang, pihak PLN tidak dapat menunjukkanya. Alasan petugas, meteran tersebut sudah dikirim ke Laboratorium PLN Medan.

Selama dua bulan meteran listrik dirumahnya dicopot, Ananda masih membayar biaya listrik nominalnya tidak jauh berbeda dari pembayaran biaya listrik setahun terakhir. Pembayaran yang mereka lakukan untuk bulan Agustus Rp 601.876 dan bulan Oktober Rp 594,983. Daya di rumah Ananda yaitu 1300 VA.

"Saya juga heran selama dua bulan ini, dari mana mereka tahu jumlah pemakaian listrik kami, kan meteran kami sudah dicopot. Dari mana perhitungannya mereka lakukan. Kalau memang normalnya pemakaian listrik daya 1300 segitu, ngak jauh bedanya pembayaran yang kami lakukan di bulan-bulan sebelumnya," ujar Ananda seraya mengutarakan bahwa mereka membayar biaya listrik tersebut menggunakan kartu kredit.

Atas pembayaran rutin tersebut, Ananda menyakini mereka memang tidak mencuri listrik, seperti yang dituduhkan. Ia meminta PLN kembali mempertimbangkan denda besar yang dibebankan.

"Kami tidak melakukan pencurian listrik, kami minta PLN jangan sepihak begitulah mengenakan denda kepada pelangannya," ujarnya.

Kejadian serrupa dialami Ratnawati Nuryanti, tinggal di Jalan Karya Jaya, Kompleks Kencana Asri. Meteran listrik di rumah ditemukan berlubang dan petugas meminta membayar biaya denda, walaupaun dendanya berbeda.

Ratnawati diminta membayar biaya denda hanya Rp 6 juta rupiah karena daya listrik di rumah mereka hanya 900 VA lebih kecil dari daya di rumah Ananda yaitu 1300 VA.

"Iya meteran listrikku juga ada bolongnya kata petugas itu. Langsung dicopot juga meterannya kemarin itu," ujar Ratna.

Setelah meteran listrik diambil, Ratnawati langsung mendatangi PLN Cabang Medan Johor untuk mempertanyakan masalah pencopotan meteran listrik di rumahnya, namun pihak PLN mengutarakan tidak mau tahu siapa yang melobangi meteran tersebut.

"Apa pun kami bilang sama mereka ngak mau dengar orang itu. Kami harus bayar denda. Karena kami pikir susah kali melawan pemerintah ini, yah kami putuskan bayar dendanya. Kami minta dikurangi, tetap gak bisa katanya," ujarnya.

Atas denda yang dikenakan ke keluarga Ratnawati keringanan yang boleh diberikan oleh pihak PLN hanya berupa pencicilan dari biaya denda yang sudah ditetapkan.

"Hanya kami dikasi mencicil bayar dendanya, jadi kemarin itu kami cicil, langsung dipasang memang meteran yang baru," katanya.

Ratnawati menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak pernah mengutak-atik meteran di rumah mereka, sehingga mereka sangat heran kenapa bisa meteran listrik di rumahnya bolong.

"Manalah berani kita pegang-pegang meteran itu. Sudah lama kami tinggal disini, hanya orang PLN yang pernah utak atik itu. Makanya kami heran ini, kenapa bisa bolong saat diperiksa," ujarnya. (ryd)

Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved