Liputan Eksklusif
Stadion Teladan Babak Belur, PSMS Terancam jadi Musafir di Liga 1
Situasi terburuk, trauma gagal menjadi tuan rumah pada kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2008
TRIBUN-MEDAN.COM- Situasi terburuk, trauma gagal menjadi tuan rumah pada kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2008, kembali menghantui PSMS Medan. Hingga pekan kedua Desember 2018, kondisi fisik Stadion Teladan yang direncanakan sebagai homebase (kandang) masih babak belur.
Di Liga 1, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi, secara ketat menerapkan standarisasi Asian Football Confederation (AFC), termasuk untuk stadion. Apabila gagal memenuhi persyaratan, kontestan kompetisi diwajibkan mencari stadion lain sebagai pengganti.
PSMS pernah mengalami hal seperti ini di musim 2008. Bermain di kompetisi Indonesia Super League (ISL), PSMS mesti menerima nasib sebagai tim musafir, tidak memiliki kandang dan harus menyewa stadion-stadion di luar Medan untuk menjamu lawan-lawannya, setelah Stadion Teladan tidak lolos verifikasi.
Meski belum ada tanggal pasti, Liga 1 musim 2018 diancar-ancar digelar pertengahan Februari atau awal Maret. PSSI dan PT LIB kemungkinan melakukan verifikasi pada akhir Januari atau awal Februari. Artinya, waktu untuk melakukan renovasi Stadion Teladan tinggal enam sampai delapan pekan. Sangat sempit sekali. Perlu benar-benar dikebut agar bisa selesai.
Akan tetapi, memang, hingga pekan kedua Desember 2017, tidak ada aktivitas pekerjaan lain di Teladan kecuali renovasi terhadap rumput lapangan. Namun pekerjaan itu pun tidak dilakukan secara massal. Selasa (5/12), saat Tribun menyambangi Stadion Teladan, hanya ada dua lelaki yang berkutat dengan rumput di bidang tanah lapangan yang sepenuhnya tergenang air.
Mereka membongkar tumpukan rumput yang terendam air, mencacahnya menjadi beberapa bagian dengan parang, dan lalu menyerakkannya. Intensitas hujan yang akhir-akhir ini lumayan tinggi, memperparah keadaan, membuat lapangan jadi kelihatan lebih mirip kolam.
Padahal ada banyak sekali perbaikan yang harus dilakukan. Ruang ganti pemain tim tuan rumah dan tim tamu rusak parah. Ruang wasit, ruang konferensi pers, kamar mandi dan toilet, semuanya tidak layak pakai. Tribun menyusuri Stadion Teladan dan menemukan nyaris seluruh uriner (wadah untuk menampung dan membuang air seni) dan jamban tidak berfungsi. Bahkan banyak yang copot. Pula demikian shower (pancuran air). Hampir semuanya rusak.
Stadion Teladan mulai dibangun tahun 1951 dan selesai dikerjakan dan diresmikan pada 1953 untuk tempat penyelenggaraan pembukaan dan penutupan serta beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan di PON III. Sejak itu, fisik Stadion Teladan tidak banyak berubah. Hanya ada tambahan beberapa ruang di dalam stadion, serta tribun tertutup di bagian timur.
Namun meski belum genap tiga tahun, ruang-ruang dan bangunan tambahan tersebut sekarang kondisinya tidak kalah mengenaskan.
Tribun untuk penonton yang terbuat dari beton dan dicat dengan warna kombinasi biru muda, hijau dan merah, sebagian telah retak dan ada juga yang pecah. Toilet-toiletnya pun, baik untuk perempuan maupun laki-laki, seluruhnya tidak berfungsi.
Tribun utara, tribun selatan, dan tribun tertutup barat juga sama parah. Tempat-tempat duduk penonton di tribun utara dan selatan retak dan pecah di banyak tempat. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini. Tempat duduk penonton di tribun tertutup barat dan VIP terbuat dari kayu. Tempat duduk ini belum berubah sejak 1953.
Berbeda dari tribun-tribun penonton lain, tempat duduk tribun VVIP adalah single seat. Kursi-kursi tunggal yang disusun bertingkat dan dicat warna kuning. Kursi-kursi ini sebagian telah rusak dan copot. Kondisi toiletnya pun mengenaskan. Tidak beda dengan kondisi toilet di tribun timur dan kamar ganti pemain.
Fasilitas-fasilitas lain yang harus dipenuhi sebagai syarat verifikasi AFC, yakni jaringan internet dan scoring board serta jam digital, sama sekali belum ada. Scoring board atau papan skor di Stadion Teladan adalah papan skor "zaman purbakala", yang terbuat dari kaleng drum bekas yang disatukan dengan cara dilas.
Kondisi inilah yang membuat seluruh pecinta Ayam Kinantan --julukan PSMS-- benar-benar dibekap cemas. Bisa-bisa PSMS akan kembali jadi musafir. Kembali bermain tanpa kandang, kembali terjauhkan dari suporter, dan akhirnya kembali degradasi seperti di musim 2008.
Ironisnya, pekerjaan renovasi terhadap lapangan pun berjalan sangat lamban. Renovasi yang dimulai sejak pertengahan Oktober belum menunjukkan kemajuan berarti. Berkali-kali proses pengerjaan harus berhenti lantaran lapangan tergenang. Tiap kali tergenang, ketinggian air mencapai kurang lebih 30 cm. Bukan cuma lapangan, tribun barat dan timur juga ikut terendam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/stadion-teladan_20171210_145002.jpg)