5 Fakta Dilan dan Milea, Buku Laris Dari Pidi Baiq

Buat sebagian besar remaja cewek, mungkin karakter Dilan yang terdapat dalam buku karya Pidi Baiq adalah karakter cowok idaman.

Tayang:

TRIBUN-MEDAN.COM- Buat sebagian besar remaja cewek, mungkin karakter Dilan yang terdapat dalam buku karya Pidi Baiq adalah karakter cowok idaman.

Yap, lewat tiga buku karya “Imam Besar” The Panasdalam itu, yakni Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990, Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991, dan Milea: Suara dari Dilan, para remaja cewek se-Indonesia emang seolah tersihir sama karakter Dilan yang jago bikin puisi dan suka “ngide” kalo kasih hadiah ke pacar.

Kata beberapa pembacanya –yang HAI temui di SMAN 78 Jakarta–, Dilan itu bahkan dipuja-puji sebagai salah satu sosok yang romantis, simpel tapi memikat, bikin cewek ngerasa istimewa, tapi tetap bisa tampil apa adanya. Tsaaaaah, bisa aja!

“Dia itu kayak beda gitu lho, kalau misalnya ada cowok kayak dia, kayak beda banget, langka, nggak ngebosenin. Ciptain satu Dilan lagi di dunia dong mau,” bilang Alya, pelajar kelas X dari SMAN 78 Jakarta, histeris.

 Saking ngehitsnya cerita cinta Dilan dan Milea ini, nggak heran kalau jadi banyak pihak yang ngefans atau penasaran sama “keaslian” ceritanya.

Baca: Dibayar Semahal Apapun, 7 Aktris Ini Menolak Lakukan Adegan Telanjang dalam Film

Well, dari sang ayah, Pidi Baiq, HAI berhasil menghimpun beberapa fakta terkait Dilan dan Milea. Ini dia, 5 fakta Dilan dan Milea, buku laris dari Pidi Baiq.

1-Terinspirasi Karakter Asli

Yap! Dilan dan Milea itu emang karakter asli, guys. Seenggaknya, hal ini dibeberin langsung sama Ayah Pidi Baiq waktu HAI ajak ngobrol beberapa waktu lalu. Katanya, Dilan dan Milea itu tokoh nyata. Dilan orang Bandung dan Milea sekarang bekerja di Jakarta.

“Iya, beneran ada. Gini, saya tuh kalo ngarang suka bingung ngomong apa. Jadi kalo ada kejadian (asli)-nya, itu sedikit mempermudah. Makanya ya, karena ini cerita nyata, konfliknya juga tidak terlalu dramatis, sinetron, tidak terlalu film, kan konfliknya juga cuma apa, sih, alurnya juga biasa aja, gitu, ya kan gitu?,” repet Ayah Pidi sambil sesekali menyeruput kopi panasnya di warung tenda depan SMAN 78 Jakarta, usai mengisi sebuah acara.

2- Banyak Narasumber

Selain menulis berdasarkan kisah dan pengalaman dari dua tokoh utamanya, yakni Dilan dan Milea, Ayah Pidi juga ngaku kalo dia banyak mencari informasi dari narasumber lain. Apalagi, karena latar ceritanya adalah tahun 1990-an, Ayah Pidi pasti kudu banyak-banyak mencari data. Termasuk, nyari jejak nama minimarket yang dulu eksis di Buah Batu, tempat Milea melihat Dilan dan geng motornya. Inget bagian ini nggak?

3-Seminggu Selesai (?)

“Sebetulnya, seminggu juga selesai (ngerjain buku Dilan), tapi karena nggak mungkin, kan, saya terus-terusan (nulis) tanpa istirahat. Jadi, karena kebanyakan istirahat, jadi setahun selesainya,” beber Ayah Pidi sambil ketawa.

Meski Ayah Pidi Baiq bilang kalo novel yang ia tulis ini menceritakan tokoh non-fiksi, nyatanya pengembangan cerita tetap dilakukan sama doi. Bukan soal ceritanya, tetapi lebih kepada rangkaian alur yang dia tampilkan di setiap buku. Makanya nggak heran, kalau ia membutuhkan waktu cukup lama buat bikin sebuah novel. Toh, hasilnya tetep bisa bikin kita ngefans, kan?

Sumber: Hai.Grid.id
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved