Shutdown Amerika Berakhir, Pertarungan Selanjutnya Terjadi Dua Pekan Lagi

Pemerintah dibuka kembali sepenuhnya pada hari Selasa (23/1) ini dan Amerika Serikat kembali 'normal,'.

Editor: Tariden Turnip
Amerika Serikat alami shutdown akibat ketidaksepakatan Republik dan Demokrat 

TRIBUN-MEDAN.COM - Penutupan sebagian layanan pemerintah AS berakhir setelah Partai Republik dan Demokrat berhasil menyetujui undang-undang anggaran belanja sementara.

Senator Chuck Schumer mengatakan bahwa Demokrat setuju untuk mendukung undang-undang tersebut jika Partai Republik ikut akan menangani sebuah program yang melindungi para imigran muda dari tindakan deportasi.

Demokrat menolak untuk menyepakati RUU tersebut kecuali jika mereka mendapat jaminan perlindungan terhadap para remaja penerima program imigrasi era Obama.

Pemerintah dijadwalkan dibuka kembali sepenuhnya pada hari Selasa (23/1) ini dan Amerika Serikat kembali 'normal,' setidaknya untuk sementara.

Ribuan pegawai federal yang telah diliburkan tanpa dibayar untuk sementara, menarik napas lega.

"Itu pada dasarnya ibarat istirahat makan siang," kata Tom Chapel, seorang pakar di Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta, Georgia, kepada kantor berita Reuters.

Siapa yang jadi pemenang?
Anthony Zurcher, BBC News, Washington
Shutdown itu sudah berakhir, namun pertempuran tentang imigrasi dan anggaran terus berlanjut. Kedua belah pihak akan trus mencoba untuk mengklaim kemenangan, dengan berbagai tingkat keberhasilan masing-masing.

Partai Republik sangat senang bahwa - tidak seperti pertarungan di masa lalu - mereka lolos dengan relatif tanpa cedera. Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell menjanjikan sebuah debat terbuka dan memberikan suara untuk program perlindungan imigran muda yang disebut Dreamers, namun kenyataannya bisa berbeda jika tiga minggu berselang Demokrat memaksa dilakukannya lagi penutupan layanan pemerintah.

Demokrat, di sisi lain, dapat mengklaim bahwa mereka mengambil sikap konfrontatif - setidaknya untuk beberapa hari - demi sebuah topik yang sangat menyentuh jantung basis pemilih mereka. Entah itu cukup untuk memuaskan para pemimpin garis keras progresif atau pun para aktivis akar rumput, masih belum jelas.

Namun dalam pemungutan suara itiu, hampir setiap calon presiden 2020 dari Demokrat di Senat menolak kesepakatan itu. Bagi mereka, jaminan McConnell itu omong kosong yang ditulis di pasir.

Sementara itu, Donald Trump hampir sepenuhnya dikesampingkan dalam proses ini. Demokrat, dan bahkan beberapa Republikan, mengeluh bahwa dia tak bisa memberi kejelasan mengenai prioritas-prioritasnya. Namun, beberapa hari lepas dari sorotan mungkin tidak sepenuhnya buruk.

Publik Amerika mungkin akan segera melupakan penutupan layanan pemerintah ini. Pertarungan selanjutnya, yang akan terjadi hanya beberapa minggu lagi, mungkin akan berbeda.

Bagaimana reaksi politiknya?
Schumer, pemimpin Demokrat di Senat, menuduh Presiden Donald Trump tidak membantu mencapai kesepakatan bipartisan.

Dia mengatakan bahwa dia tidak berbicara dengan presiden yang berasal dari Partai Republik itu sejak pertemuan pada hari Jumat sebelum dimulainya 'shutdown' malam itu.

"Presiden si pembuat kesepakatan besar itu duduk-duduk saja di pinggir lapangan," katanya dengan kata-kata bersayap.

Senator New York itu mengatakan dia menaruh harapan besar pada pembicaraan mengenai apa yang disebut Dreamers, program yang melibatkan lebih dari 700.000 imigran muda yang dibawa ke AS sebagai anak-anak yang dilindungi di bawah program Deferred Action for Childhood Arrivals (Daca) era Obama.

Sumber: bbc
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved