Ternyata Ada Segitiga Bermuda di Angkasa, 'Keangkerannya' tak Kalah Dahsyat

"Semua ingin secepat mungkin lepas dari kawasan itu dalam perjalanan menuju Bulan, atau ke mana pun tujuan Anda."

Editor: Tariden Turnip
Fenomena Anomali Atlantik Selatan (SAA) berupa kilatan cahaya yang disebut Segitiga Bermuda di angkasa 

TRIBUN-MEDAN.COM - ''Sebelum menjadi astronot, saya sudah mendengar banyak cerita tentang astronot yang pernah melihat berkas-berkas cahaya putih dari radiasi saat mereka terbang di luar angkasa," kata Terry Virts, mantan astronot NASA.

Pada malam kelima penerbangan pertamanya -sebuah misi tahun 2010 dengan pesawat ulang-alik Endeavour- dia baru saja tidur saat itu.

"Saya ... memejamkan mata dan duar! Cahaya putih rakkasa yang begitu menyilaukan memberkas di mata saya - dan saya tidak mendengar apapun."

Seiring dengan makin banyak pengusaha hendak terlibat dalam bisnis penerbangan luar angkasa - seperti CEO SpaceX Elon Musk, yang baru saja meluncurkan roket berat baru di Florida - mereka akan harus pula menghadapi fenomena ganjil semacam ini.

Salah satu yang paling aneh adalah yang disaksikan oleh Tery Virts itu. Yakni apa yang disebut Anomali Atlantik Selatan (SAA), yang merupakan gabungan kilatan cahaya raksasa tanpa suara apapun.

Tapi SAA bukan hanya pemandangan tak lazim.

SAA menimbulkan malapetaka pada komputer di sekitarnya dan membuat manusia terpapar radiasi tingkat tinggi -sesuatu yang membuatnya diberi julukan 'Segitiga Bermuda ruang angkasa'.

Karena penerbangan antariksa berawak menjadi lebih umum dan astronot menjadi lebih bergantung pada komputer, tantangan yang dihadapi terkait SAA bisa menjadi lebih akut.

Untuk memahami SAA, Anda harus terlebih dahulu memahami sabuk radiasi Van Allen. Ini adalah dua area berbentuk donat dari partikel bermuatan yang mengelilingi Bumi dan dengan kokoh ditopang oleh medan magnetnya.

"Matahari mengeluarkan radiasi yang sangat besar," kata Virt, "dan sebagian besaradalah partikel seperti elektron yang meluncur dari permukaan Matahari ... Semua material ini berada di luar angkasa dan medan magnet Matahari bisa menekuknya. Ketika sampai di Bumi, ia terjebak dalam medan magnet kita dan membentuk sabuk radiasi di luar angkasa."

Kabar baiknya adalah bahwa sabuk Van Allen melindungi Bumi dari partikel elektronik bermuatan tinggi yang dilontarkan Matahari.

Kabar buruknya adalah terjadinya komplikasi.

Itu menyebabkan malapetaka pada satelit dan pesawat ruang angkasa lainnya seperti International Space Station (ISS) yang melewati daerah tersebut.

Bumi tidak sepenuhnya bulat; ada sedikit tonjolan di tengahnya. Kutub magnet Bumi juga tidak sepenuhnya sesuai dengan kutub geografisnya, namun miring sedikit, sehingga sabuk Van Allen pun juga miring.

SAA adalah tempat sabuk radiasi Van Allen bagian dalam berada pada ketinggian terendah dan pada titik terdekatnya dengan Bumi.

Sumber: bbc
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved