News Video

Direktur RSUD Deliserdang Buka Suara Terkait Gunting yang Menempel di Jasad Jamiran

Benda mirip gunting ditemukan di jasad Jumiran, hal ini sontak membuat kaget keluarga saat membuka kain pembungkus jenazah

Tribun Medan
Jasad Jamiran 

TRIBUN-MEDAN.COM - Benda mirip gunting ditemukan di jasad Jumiran, hal ini sontak membuat kaget keluarga saat membuka kain pembungkus jenazah di rumah duka, Selasa (1/5/2018).

Jumiran adalah pasien di RSUD Deliserdang, almarhum meninggal dunia dengan penyakit komplikasi yakni diabetes, paru-paru dan jantung.

Peristiwa ini pun beredar di media sosial facebook.

Netizen sempat penasaran soal tindakan medis yang dilakukan oleh petugas RSUD Deliserdang terhadap  Jamiran ini, hingga bisa benda seperti gunting itu menempel di dada jenazah.

Simak video jasad Jumiran;

Ayo subscribe channel YouTube Tribun MedanTV

Baca: Pasien Meninggal dengan Gunting Nempel di Dada, Ternyata Pasien Jamkesda

Baca: Gunting Menempel di Jasad Jumiran, Perawat Malah Tertawa saat Ditanya Pihak Keluarga

Baca: Begini Tanggapan Keras Kepala Ombudsman RI Sumut soal Gunting yang Menempel di Dada Jenazah

Menilik hal ini, Direktur RSUD Deliserdang dr Hanif Fahri SpKJ mengakui ada kesalahan yang dilakukan oleh anggotanya terkait penanganan yang dilakukan terhadap pasien atas nama Jamiran warga Desa Tanjung Sari Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Pasien itu meninggal dunia karena penyakit komplikasi Selasa, (1/4/2018) sore.

"Itu bukan gunting tapi penjepit pendarahan. Penjepit pembuluh darah itu terbuat dari nikel. Jika tidak dilakukan seperti itu darah bisa terus-terusan mengalir, tapi saya akui ada juga kesalahan anggota dalam hal ini," ujar dr Hanif Fahri  saat dikonfirmasi Harian Tribun Medan/ Online Tribun-Medan.com Rabu, (2/5/2018).

Ia menyebut seharusnya sebelum jenazah dibawa ke rumah duka anggotanya menginformasikan tentang tindakan yang dilakukan itu dan menjelaskan apa maksud dan tujuannya.

Saat itu Jariman  meninggal di dalam ruang ICU setelah dirawat selama dua minggu.

"Seharusnya dijelaskan dan ikut mendampingi ke rumah duka anggota. Kalau cuma ditutup saja itu pasti akan keluar terus-terusan darahnya karena sudah sempat ditutup pakai perban tapi gak bisa. Kalau satu atau dua jam darah masih akan mengalir tapi kalau sudah empat hingga lima jam darah pastikan sudah membeku dan bisa dilepas penjepitnya. Anggota saat itu enggak ikut mendampingi karena harus tangani pasien lain di ICU," kata Hanif.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved