Hari Lahir Pancasila
Hal Misterius saat Menggagas Pancasila yang hingga Kini Belum Terkuak
Indonesia memperingati 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila. Sejak pemerintahan Jokowi, 1 Juni pun menjadi hari libur nasional
Penulis: Hendrik Naipospos | Editor: Hendrik Naipospos
TRIBUN-MEDAN.COM - Pemerintah Indonesia memperingati 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila.
Sejak pemerintahan Presiden Jokowi, 1 Juni pun menjadi hari libur nasional.
Lima butir Pancasila kali pertama disampaikan pada 1 Juni 1945 oleh Presiden Soekarno dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Hal ini mendapat sambutan luar biasa dan akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila yang disepakati bersama menjadi dasar negara.
Hingga saat ini ada hal yang misterius, belum diketahui siapa pencetus nama Pancasila.
Dilansir dari Kompas.com, Bung Karno mengaku lima butir prinsip yang dirumuskannya diberi nama Pancasila adalah saran seorang temannya yang ahli bahasa, tanpa menyebut nama temannya itu.
Dalam merumuskan lima butir itu, Bung Karno mengaku senang kepada segala hal berunsur simbolik, termasuk angka.
Dia mencontohkan rukun Islam, jumlah jari, panca indera, hingga toko pewayangan Pendawa Lima memiliki jumlah lima. Oleh karena itu, rumusan dasar negara dia buat dalam lima hal.
"Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi," ujar Bung Karno.
Tonton video kolase pembahasan Pancasila;
Ayo subscribe channel YouTube Tribun MedanTV
Baca: Sambut Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni, Film Lima 2018 Tayang di Seluruh Bioskop, Berikut Kisahnya!
Baca: Di Pohon Inilah, Soekarno Merumuskan 5 Sila dalam Pancasila
Baca: Akui Salah Baca Teks Pancasila, Viral Video Gubernur Sulbar Usulkan Rombak Urutan Sila
Pemikiran Bung Karno soal Pancasila dihasilkan dari proses kontemplasi selama masa pengasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Di sana, Bung Karno mendalami ilmu agama lebih serius.
Tak hanya agama Islam, tetapi juga Kristen. Jiwa relijius Bung Karno inilah yang kemudian tercermin dalam pidatonya pada 1 Juni 1945.
Dia berkali-kali mengungkapkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan, namun tidak eksklusif untuk satu golongan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/boeng-karno_20150606_164046.jpg)