Kedai Tok Awang

Sebab Ronaldo Bukan Cuma Tampan dan Kaya

Sejak Piala Eropa tahun 2016, penyusutan peran Ronaldo sudah mulai terlihat.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/ADRIAN DENNIS
CRISTIANO Ronaldo 

WALAU usianya sudah sampai di angka 65, Ocik Nensi masih suka lihat yang tampan-tampan. Inilah pula yang jadi alasan terbesar kenapa sejak suaminya Tok Awang membeli televisi layar lebar dan berlangganan tv kabel, dia jadi sering ikut menonton pertandingan bola. Terutama Liga Spanyol. Menurut Ocik Nensi, banyak pemain klub Liga Spanyol yang wajahnya sebelas-dua belas dengan wajah aktor-aktor telenovela.

Di antara para pemain tampan ini, bagi Ocik Nensi, posisi Cristiano Ronaldo tetap yang teristimewa. Tak pernah tergoyahkan sebagai yang terdepan. Sebab selain tampan dia kaya juga.

"Kalau kutengok-tengok ada miripnya dengan abang kalian waktu muda. Kalahnya di tinggi badan dan gaya rambut saja," kata Ocik Nensi tiap kali ada pelanggan kedai Tok Awang yang menanyakan.

Tentu saja, sebagai fans Ronaldo garis keras, Ocik Nensi juga mendukung Portugal. Di laga kontra Spanyol, suara teriakannya hanya dikalahkan oleh Sangkot, sopir taksi online yang ikut berada di kubu Portugal melulu karena membenci Sergio Ramos.

Namun begitulah, lantaran pada dasarnya menonton hanya untuk cuci mata, Ocik Nensi tak paham filosofi bola. Tak paham strategi dan hitung-hitungan peluang. Maka ketika Wak Razoki dan Mak Idam berdebat seru perihal potensi peluang Portugal untuk melangkah lebih jauh dibanding pencapaian di Piala Dunia 2014, Ocik Nensi hanya jadi pendengar budiman.

Dia mengangguk-angguk saja kala Mak Idam menjelaskan, di tahun itu, Portugal dengan Ronaldo yang masih berada di kisaran usia emas seorang pesepakbola, harus menepi di fase penyisihan. Mereka gagal bangkit setelah dibabat Jerman 0-4 di laga pertama. Kemenangan atas Ghana di pertandingan ketiga tidak berarti lantaran hasil imbang 2-2 sebelumnya kontra Amerika Serikat membuat Portugal kalah selisih gol.

"Tiga pertandingan, Ronaldo cuma cetak satu gol. Ini gol ketiga dia dari tiga kali kesempatan bermain di Piala Dunia. Rekor yang buruk untuk kelas seorang bintang seperti Ronaldo. Sesaat setelah wasit meniup pluit panjang, walau menang lawan Ghana, menangis dia sampai harus dipeluk dan disabar-sabarkan sama kawan-kawannya. Sedih kali. Portugal mendapatkan hukuman yang setimpal akibat terlalu besar menggantungkan nasib pada Ronaldo. Ingatnya Ocik itu?" tanyanya.

Ocik Nensi yang sedang menyeduh teh menyahut, "mana pulak awak ingat, Dam. Entah nonton entah pun tidak, tapi kayaknya waktu itu Ocik lebih suka nonton Ganteng-ganteng Serigala."

"Ah, Ocik kalian ini tak pala kali didengar," sebut Tok Awak menimpali. "Dia enggak pernah benar-benar nonton bola. Menang atau kalah pun Portugal tak pedulinya dia. Yang penting dia bisa lihat Ronaldo."

Pace Pae yang duduk di sebelah Tok Awang, terkekeh, lalu tersedak. Kunyahan Roti Ketawanya tertelan tak sempurna. Segera setelah bisa kembali bernafas lancar, dia menggamit lengan Tok Awang. "Mama sayange, Sa lihat Tok Awang sedang cemburu kah?"

Belum sempat Tok Awang menyambut, Ocik Nensi dari tempatnya menyeduh teh melantunkan senandung. Jangan, jangan, cemburu buta... jangan, jangan, cemburu....

"Alamakjang, menyanyi dia," kata Tok Awang sembari tertawa. "Dipikirnya mantap suaranya macam Rita Sugiarto. Sudahlah, tak pala kali dibahas. Ikut nyanyi pulak Razoki bubar kita semua."

Wak Razoki menyunggingkan senyum masam. Celoteh Ocik Nensi dan Tok Awang memang sedikit meredakan ketegangan yang sebelumnya menyeruak antara dia dan Mak Idam. Dia menyanggah analisis Mak Idam yang masih menganggap Portugal bergantung sepenuhnya pada Ronaldo.

RONALDO saat berlatih bersama skuat tim nasional Portugal
RONALDO saat berlatih bersama skuat tim nasional Portugal (AFP PHOTO/ADRIAN DENNIS)

"Ronaldo itu bukan cuma tampan dan kaya. Dia datang dari galaksi lain. Dia pemain yang selalu mampu jadi pembeda. Sir Alex Ferguson pernah bilang, Ronaldo bisa bermain untuk klub mana saja di liga mana saja. Dia bisa main di Milwall, Queen Park Rangers, bahkan Doncaster Rovers, dan tetap berpeluang mencetak hattrick. Messi enggak akan bisa melakukannya. Dengan kelebihan-kelebihan kayak gini, tentu, wajar sekali kalau dia jadi andalan. Termasuk di tim nasional Portugal."

Namun, kata Wak Razoki, belakangan seiring pertambahan usia, peran-peran Ronaldo yang membuat ketergantungan terhadap dirinya sangat besar, sudah dikurangi. Di satu sisi, Ronaldo jadi lebih efektif. Di sisi yang lain, langkah ini memberikan jalan kepada pemain lain untuk berkembang.

"Sejak Piala Eropa tahun 2016, penyusutan peran Ronaldo sudah mulai terlihat. Zinedine Zidane melakukannya dengan cara yang lebih kentara di Real Madrid. Mulai dari rotasi hingga pergeseran posisi dari sisi lapangan ke penyerang tengah. Zidane membantu Ronaldo bertransformasi dari seorang predator egois menjadi jenderal yang bijak. Transformasi ini sangat membantu pekerjaan Fernando Santos."

Mak Idam mengelus-elus dagunya yang tak berjanggut. "Kalau itu cabe-cabean penggemar Tik Tok pun tahu, Wak. Okelah Ronaldo telah bertransformasi seperti uwak bilang. Namun Fernando Santos tetap saja enggak berani mengganti dia, kan? Kalau dia enggak nyerah sendiri setelah kena sorong lututnya di final Piala Eropa itu, Ronaldo pasti tetap main walaupun di lapangan enggak bisa bikin apa-apa selain lari-lari kambing."

Perdebatan kembali sengit. Wak Razoki dan Mak Idam tetap bertahan pada argumentasi masing- masing. Wak Razoki meyakini Portugal dengan Ronaldo yang telah bertransformasi akan melangkah jauh di Rusia. Setidaknya mendekati pencapaian mereka di Piala Eropa. Mak Idam berpendapat sebaliknya. Kepercayaan diri yang kelewat tinggi bisa jadi blunder di hadapan Maroko dan Iran. Terutama Maroko yang menurutnya bisa lolos dari grup B mendampingi Spanyol.

Jika pun ternyata Portugal tetap lolos dari fase grup, menurut Mak Idam, mereka akan terhenti di perempat final, di tangan Perancis atau Argentina.

"Perancis akan makin baik. Pogba, Griezmann, akan makin nyetel. Argentina juga bakal bangkit dan makin baik. Kemampuan terbaik Lionel Messi belum keluar. Portugal tidak begitu. Mereka enggak bisa berkembang lagi. Mereka sudah mentok. Bahkan bisa jadi mereka pulang lebih awal, tak mampu melewati adangan Uruguay atau Rusia yang sedang semangat-semangatnya," katanya.

Tok Awang dan Pace Pae sesekali menimpali debat, lewat celetukan-celetukan yang bikin suasana jadi makin panas. Di balik steling kaca, sembari meracik kopi susu, Ocik Nensi menyenandungkan Secawan Madu, versi Via Valen.(*)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Rabu, 20 Juni 2018
Halaman 1

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved