Breaking News:

TOPIK

Kedai Tok Awang

  • Maaf, Inggris, Sepak Bola Pergi ke Roma

    Lima penendang penalti Inggris adalah Kane, Maguire, Rashford, Sancho, dan Saka. Tiga nama terakhir gagal, dan ketiganya merupakan pemain pengganti.

  • Setelah Lebih Setengah Abad Menanti

    Terlepas dari kontraversi yang menyertainya, ini final paling ideal di Euro 2020. Selain nama besar, pertarungannya adalah juga di filosofinya.

  • Takdir Tuhan dan Dua Cocokologi

    SETELAH kekalahan di pertandingan pertama dan kedua babak grup, hampir-hampir tidak ada yang mengira Denmark akan “hidup” sebegini lama di Euro 2020.

  • Tiga Menguak Takdir

    Roberto Mancini dan Luis Enrique, sampai babak perempat final, cenderung "setia" dengan formasi 4-3-3. Masing-masing tiga pemain jadi andalan.

  • Auman Singa Lapar, dan Ledakan Dinamit Itu

    Denmark di Euro 2020 jadi perwujudan dari idiom-idiom pantang menyerah yang dengan berbusa-busa kerap dilontarkan oleh para motivator. Inggris juga.

  • Makin Dekat ke Jalan Pulang

    SATU cita-cita besar Inggris yang sampai sekarang belum kesampaian adalah memulangkan sepak bola ke “tanah airnya”.

  • Emas Jangan Jadi Suasa Lagi

    Belgia pernah digasak Italia dan membuat kiper Thibault Curtois mengakui mereka kalah segalanya. Bagaimana sekarang? Apakah akan terulang?

  • Grup Neraka Cuma Hiperbola

    Portugal didepak Belgia, Perancis ditekuk Swiss, dan Jerman bertekuk lutut dari seteru abadinya Inggris. Padahal ketiganya kandidat kuat juara.

  • Jangan Cuma Menang di Laga tak Penting

    Kemenangan-kemenangan Inggris lebih sering terjadi di babak-babak kualifikasi. Sebaliknya, Jerman banyak menang di laga putaran final.

  • Desing Peluru dan Banteng yang Malu-malu

    Kroasia tidak akan pernah takut menghadapi siapa pun. Hanya saja, dalam sepak bola, keberanian bukan satu-satunya modal.

  • Menguji Kekuatan Sepasang Gerendel Tua

    Italia dan Austria bertemu 35 kali sejak tahun 1912. Italia menang 18, Austria 11. Masalahnya, di 11 laga terakhir Austria tak bisa menang lagi

  • Yang Menggebrak Saat Kritis

    Menang, kalah, bahagia, nestapa, gelak tawa dan airmata. Juga kejutan-kejutan. Tidak ada yang pasti dalam kehidupan. Pun sepak bola.

  • Jalan Terjal Dua Juara

    Permainan Portugal belum berubah. Tetap Ronaldo sentris. Persoalan muncul ketika Ronaldo mandek. Portugal ikut rusak. Seperti laga melawan Jerman.

  • Sampai Kapan Jadi Singa yang Manis?

    Untuk kali kesekian Inggris kembali ke "penyakit kambuhan" itu. Padahal fase kualifikasi mereka hampir tidak tertandingi.

  • Saat-saat yang Bikin Berdebar

    Di laga terakhir babak grup ini tentu semua tim yang masih memiliki peluang akan berjuang sampai "titik darah penghabisan"

  • Masihkah Menggigit Saat Terjepit?

    Joachim Low tak boleh mengacuhkan fakta bahwa mereka tidak lagi memiliki tukang gedor kualitas wahid. Mereka cuma punya Serge Gnabry dan Timo Warner

  • Lebih dari Sekadar Pertandingan Bola

    Rivalitas antara Inggris dan Skotlandia memang menjadi warna tersendiri dalam sejarah sepak bola Eropa. Rivalitas yang berumur paling panjang.

  • Persembahan untuk Eriksen

    Ketika laga kontra Finlandia kemarin dilanjutkan, Denmark seperti kehilangan letupan dan kalah 0-1. Namun ini bisa dimaklumi. Mereka masih terkejut.

  • Tentang Neraka yang tak Terlalu Asing

    Rekor pertemuan memang Perancis unggul. Namun jangan dilupa, di EuroChampionship; Piala Eropa, Jerman adalah rajanya.

  • Saatnya Enrique Kasih Bukti

    Terlepas dari perdebatan soal Moreno, semua sepakat bahwa laga Spanyol kontra Swedia akan jadi momentum bagi Luis Enrique untuk membuktikan pilihannya

  • Spaghetti Rasa Lamborghini

    Sejak 2018, Mancini melewati 32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan, tujuh imbang dan hanya dua kali mengalami kekalahan.

  • Martin Garrix tak Bisa Main Bola

    Sinergi antara sepak bola dan musik mampu menghadirkan sesuatu sebelumnya tidak ada: emosional dalam benang merah keriang-gembiraan yang solid.

  • Mesin Panser atau Mesin Mercedes

    Setelah timnas Jerman di tahun 1990 dan 1996, di era sepak bola modern cuma timnas di tahun 2014 yang bisa disebut bermesin Mercedes. Selebihnya tidak

  • Generasi Emas Kedua Les Bleus

    Didier Deschamps berpeluang memenangi Piala Dunia dan Piala Eropa baik sebagai pemain dan pelatih pada dua edisi yang berdekatan.

  • Masih Terkenang Gol Van Basten

    Sejak Euro 1988 Belanda tidak pernah lagi sampai di titik yang sama. Pun saat mereka didapuk sebagai tuan rumah bersama Belgia di tahun 2000.

  • Akankah Muncul Lagi Bintang Kejutan?

    Masing-masing menyebut nama. Ada nama baru, ada nama lama. Namun nama dari Sudung, lah, yang kemudian membuncahkan tawa panjang."Martin Braithwaite!"

  • Tua-tua Kelapa

    Singgungan Lek Tuman tentang Ronaldo menggiring percakapan ke arah pemain-pemain berusia senja yang masih saja melanjutkan jejak.

  • Sepak Bola Nggak Pernah Libur

    Begitulah semarak sepak bola di Eropa memang sudah berakhir. Namun kesemarakan ini akan dengan segera digantikan kesemarakan yang lain. Piala Eropa!

  • Entah Apa yang Merasuki Barcelona

    Fakta lain menunjukkan, sebagai pelatih Betis, Setien tujuh kali menghadapi Barcelona dan hanya mampu satu kali menang. Enam laga lainnya kalah.

  • Kenapa PSMS Gagal ke Liga 1

    Kelihatannya saja manajemennya profesional, padahal tidak. Manajemennya masih seperti dulu. Manajemen kedai kelontong.

1 2 Next 
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved