Breaking News:

Kedai Tok Awang

Lebih dari Sekadar Pertandingan Bola

Rivalitas antara Inggris dan Skotlandia memang menjadi warna tersendiri dalam sejarah sepak bola Eropa. Rivalitas yang berumur paling panjang.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
scottishsporthistory.com
scottishsporthistory.com Ilustrasi pertandingan Skotlandia melawan Inggris di tahun 1872 yang dipublikasikan pada tahun 1975. Rivalitas antara kedua negara tercatat sebagai rivalitas terlama sekalipun satu di antara yang paling ketat di Eropa. 

DI kancah sepak bola Eropa, Skotlandia boleh jadi "bukan siapa-siapa". Tengoklah pencapaian-pencapaian mereka. Praktis duel dua seteru Kota Glasgow saja yang memancing perhatian. Selebihnya cerita khas medioker. Mereka baru tiga kali lolos ke putaran final Piala Eropa. Selain edisi 2020, mereka menjadi kontestan di Euro 1992 dan Euro 1996 –dan gugur di fase grup.

Di ajang Piala Dunia sedikit lebih lumayan. Meski tetap“anak bawang” dan tak pernah berhasil keluar dari persaingan grup, setidaknya mereka lolos delapan kali ke putaran final. Terakhir tahun 1998 di Perancis.

Namun di hadapan Inggris, segenap ke-medioker-an Skotlandia seolah sirna. Sejak berhadapan pertama kali di satu lapangan kriket dan ditonton sekitar 4.000 orang pada tahun 1872, total keduanya telah terlibat dalam 113 duel. Inggris memenangkan 48, Skotlandia 41, sedangkan 24 lainnya berkesudahan imbang. Jika menilik 'siapa Inggris' dan 'siapa Skotlandia' dalam sepak bola, tentu, bagi Skotlandia pencapaian ini tidaklah buruk-buruk amat.

"Memang banyak yang kayak begitu," kata Zainuddin mengawali komentar. "Namanya rivalitas. Penyebabnya beragam. Ada yang murni sport, ada juga yang merembet jauh ke luar lapangan, misalnya sejarah, strata sosial dan budaya, bahkan ideologi. Dan dalam sepak bola, seringkali faktor-faktor itu membuat perbedaan kualitas teknis jadi enggak terlalu berarti lagi."

"Iya, betul itu, Pak Guru," sahut Jek Buntal. "Awak teringat derbi Manchester. Bukan yang sekarang, ya. Sejak dibeli orang kaya Arab, City jadi tim super karena bisa ngontrak pelatih top dan pemain mahal, dan wajar kalok persaingan jadi makin ketat. Tapi dulu, waktu mereka masih miskin, persaingan justru lebih mencekam. Tiap jumpa MU degil kali main orang itu. Sampai palak Sir Alex. Dibilangnya City ini tetangga berisik."

"Sama kayak AS Roma lawan Lazio. Juga Liverpool dan Everton. Atau..," ucap Sudung menyambung. Namun, kalimatnya langsung dipotong Leman Dogol.

"Ah, kalok itu beda, Dung. Enggak pas. Yang kita bahas, ini, kan yang satu kuat yang satu kurang kuat. Bukan yang dua-duanya lepoh,” katanya diikuti tawa berderai.

Begitulah rivalitas antara Inggris dan Skotlandia memang menjadi warna tersendiri dalam sejarah sepak bola Eropa. Rivalitas yang berumur paling panjang dan barangkali hanya dapat disaingi rivalitas Inggris dengan Republik Irlandia, atau dengan Jerman dan Perancis.

Begitu ketat dan kerasnya rivalitas-rivalitas ini, hingga untuk meredamnya, pada tiap suporter sampai perlu diajak-ajak untuk menyanyikan 'Don’t Look Back in Anger', lagu band Oasis yang oleh sebagian kalangan –tentu dengan semangat agak dilebih-lebihkan– dipandang sebagai "lagu kebangsaan kedua" Inggris.

Di era modern, bentrok antar suporter memang tidak pernah pecah lagi seperti dulu. Kalau pun ada sekadar riak kecil. Bukan tawuran besar yang menyebabkan kematian. Kekuatan lagu Oasis mungkin sedikit banyak mempengaruhi, tapi langkah-langkah antisipasi pihak keamanan Inggris dan Skotlandia memang telah secara efektif mempersempit ruang gerak para hooligan. Jauh sebelum laga berlangsung, polisi telah mendeteksi orang-orang yang memiliki pandangan politik ekstem. Mereka kemudian diisolir dan dilarang masuk stadion. Bahkan ada yang sudah dicegat di bandara atau kawasan perbatasan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved