Kedai Tok Awang
Lebih dari Sekadar Pertandingan Bola
Rivalitas antara Inggris dan Skotlandia memang menjadi warna tersendiri dalam sejarah sepak bola Eropa. Rivalitas yang berumur paling panjang.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
"Braveheart, lah. Masak Ikatan Cinta."
Abad tiga belas, William Wallace menggalang dan kemudian memimpin pergerakan pertama Skotlandia untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasaan kerajaan Inggris. Wallace akhirnya mati, dipenggal, tapi kata ‘freedom’ yang diteriakkannya sesaat sebelum pedang algojo menebas lehernya, membangkitkan secara luar biasa semangat perlawanan rakyat Skotlandia.
Abad berganti, tahun demi tahun berlalu. Perlawanan, dan kebencian yang tumbuh pascakematian Wallace, tidak selalu muncul dalam bentuk purba. Skotlandia yang secara de jure merdeka pada 1326, secara umum boleh dikata berada di posisi antara Wales dan Republik Irlandia. Mesra tidak, terlalu frontal melawan juga tidak.
Dan di tengah situasi begini, sepak bola Inggris justru membikin harum nama sejumlah orang Skotlandia. Kenny Dalglish, Denis Law, Gordon Strachan, Graeme Souness, dan sudah barang tentu dua pelatih terbesar Manchester United, Alexander Matthew Busby dan Alex Ferguson. Keduanya mendapatkan gelar-gelar kebangsawan kehormatan yang tinggi dari Kerajaan Inggris.
"Kalok bicara sejarah, sampai besok pun nggak akan siap-siap kita ini. Entah betul pun entah tidak yang kelen cakapkan itu," kata Jontra Polta sembari mengaduk kopinya yang baru saja diantarkan Tok Awang. "Bagus kita omongkan hal yang lebih berfaedah. Antara Inggris dan Skotlandia ini siapa yang akan menang?"
Jontra Polta memberikan petunjuk dan gambaran-gambaran, dan Kedai Tok Awang segera riuh oleh analisis yang diyakini benar oleh pengampunya sendiri. Meski demikian, sebagian besar –untuk tidak menyebut semua– ternyata menjagokan Inggris. Dari semua lini, Inggris unggul. Mereka yang tidak, sebenarnya menempatkan The Three Lion –julukan tim nasional Inggris– juga sebagai tim dengan persentase peluang menang lebih tinggi. Namun, godaan hitung-hitungan Jontra Polta membuat mereka memilih memegang Skotlandia.
"Waktu lawan Kroasia sebenarnya main Inggris pun enggak bagus-bagus kali. Enggak meyakinkan. Macam mana, lah, kubilang, ya. Kalok dibandingkan Italia, ya, jauh. Terutama di lini tengah. Inggris enggak punya pemain yang betul-betul bisa mengendalikan sektor gelandang. Untung, lah, Luka Modric sudah tua. Sekiranya dia dua tiga tahun saja lebih muda, kujamin lain ceritanya," sebut Leman Dogol.
Zainuddin mengangguk. "Bisa kalah lagi kayak di Piala Dunia 2018, ya. Tapi, Man, kalau saya lihat lebih jauh, barangkali ada juga faktor gugup. Beban mental. Sekaligus beban moral juga. Itu, kan, laga perdana, dan rekor mereka boleh dibilang buruk kali. Sembilan kali main di laga perdana, Inggris enggak pernah menang. Lima kali orang itu kalah, empat seri," katanya.
"Eh, by the way, ocik dengar tadi kelen bahas-bahas Mel Gibson," sergah Ocik Nensi yang sejak tadi tenggelam dalam pergosipan seru dengan Tante Sela. "Kok enggak lanjut?"
"Malas, Cik. Enggak berfaedah," sahut Jontra Polta.
"Kenapa rupanya, Cik? Idola ocik juga dia? Mirip juga sama Tok Awang?" tanya Sudung pula.
Ocik Nensi menggeleng. "Mana pulak mirip. Kalok abang kelen ini lebih mirip Rhoma Irama."
"Makjang! Ngeri, ah! Tok Awang kayak Rhoma Irama. Ocik siapa? Yati Octavia?"
"Lenny Marlina, dong."(t agus khaidir)
Pernah dimuat Harian Tribun Medan
Jumat, 18 Juni 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/laga-lama.jpg)