Kedai Tok Awang
Lebih dari Sekadar Pertandingan Bola
Rivalitas antara Inggris dan Skotlandia memang menjadi warna tersendiri dalam sejarah sepak bola Eropa. Rivalitas yang berumur paling panjang.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Euro 2020
- Inggris vs Skotlandia
DI kancah sepak bola Eropa, Skotlandia boleh jadi "bukan siapa-siapa". Tengoklah pencapaian-pencapaian mereka. Praktis duel dua seteru Kota Glasgow saja yang memancing perhatian. Selebihnya cerita khas medioker. Mereka baru tiga kali lolos ke putaran final Piala Eropa. Selain edisi 2020, mereka menjadi kontestan di Euro 1992 dan Euro 1996 –dan gugur di fase grup.
Di ajang Piala Dunia sedikit lebih lumayan. Meski tetap“anak bawang” dan tak pernah berhasil keluar dari persaingan grup, setidaknya mereka lolos delapan kali ke putaran final. Terakhir tahun 1998 di Perancis.
Namun di hadapan Inggris, segenap ke-medioker-an Skotlandia seolah sirna. Sejak berhadapan pertama kali di satu lapangan kriket dan ditonton sekitar 4.000 orang pada tahun 1872, total keduanya telah terlibat dalam 113 duel. Inggris memenangkan 48, Skotlandia 41, sedangkan 24 lainnya berkesudahan imbang. Jika menilik 'siapa Inggris' dan 'siapa Skotlandia' dalam sepak bola, tentu, bagi Skotlandia pencapaian ini tidaklah buruk-buruk amat.
"Memang banyak yang kayak begitu," kata Zainuddin mengawali komentar. "Namanya rivalitas. Penyebabnya beragam. Ada yang murni sport, ada juga yang merembet jauh ke luar lapangan, misalnya sejarah, strata sosial dan budaya, bahkan ideologi. Dan dalam sepak bola, seringkali faktor-faktor itu membuat perbedaan kualitas teknis jadi enggak terlalu berarti lagi."
"Iya, betul itu, Pak Guru," sahut Jek Buntal. "Awak teringat derbi Manchester. Bukan yang sekarang, ya. Sejak dibeli orang kaya Arab, City jadi tim super karena bisa ngontrak pelatih top dan pemain mahal, dan wajar kalok persaingan jadi makin ketat. Tapi dulu, waktu mereka masih miskin, persaingan justru lebih mencekam. Tiap jumpa MU degil kali main orang itu. Sampai palak Sir Alex. Dibilangnya City ini tetangga berisik."
"Sama kayak AS Roma lawan Lazio. Juga Liverpool dan Everton. Atau..," ucap Sudung menyambung. Namun, kalimatnya langsung dipotong Leman Dogol.
"Ah, kalok itu beda, Dung. Enggak pas. Yang kita bahas, ini, kan yang satu kuat yang satu kurang kuat. Bukan yang dua-duanya lepoh,” katanya diikuti tawa berderai.
Begitulah rivalitas antara Inggris dan Skotlandia memang menjadi warna tersendiri dalam sejarah sepak bola Eropa. Rivalitas yang berumur paling panjang dan barangkali hanya dapat disaingi rivalitas Inggris dengan Republik Irlandia, atau dengan Jerman dan Perancis.
Begitu ketat dan kerasnya rivalitas-rivalitas ini, hingga untuk meredamnya, pada tiap suporter sampai perlu diajak-ajak untuk menyanyikan 'Don’t Look Back in Anger', lagu band Oasis yang oleh sebagian kalangan –tentu dengan semangat agak dilebih-lebihkan– dipandang sebagai "lagu kebangsaan kedua" Inggris.
Di era modern, bentrok antar suporter memang tidak pernah pecah lagi seperti dulu. Kalau pun ada sekadar riak kecil. Bukan tawuran besar yang menyebabkan kematian. Kekuatan lagu Oasis mungkin sedikit banyak mempengaruhi, tapi langkah-langkah antisipasi pihak keamanan Inggris dan Skotlandia memang telah secara efektif mempersempit ruang gerak para hooligan. Jauh sebelum laga berlangsung, polisi telah mendeteksi orang-orang yang memiliki pandangan politik ekstem. Mereka kemudian diisolir dan dilarang masuk stadion. Bahkan ada yang sudah dicegat di bandara atau kawasan perbatasan.
"Waktu Piala Eropa 1996, saat Inggris jumpa Skotlandia, penonton di Wembley hampir penuh. Sekitar 70 ribuan ada itu," kata Zainuddin.
"Wah itu pertandingan lejen kali. Paul Gascoigne masih main, masih paten, dan dia cetak gol paling keren. Tapi setelah itu sempat ada rusuh sikit di luar Wembley," ujar Jek Buntal.
"Sebenarnya apa, lah, yang bikin Inggris dan Skotlandia jadi musuh bebuyutan?" tanya Leman Dogol. "Kok, kayaknya gawat kali kutengok."
Dari balik steling, sambil membuat kopi pancung tanpa gula pesanan Jontra Polta, Tok Awang menyahut. Ada kesan sedikit mengejek pada nadanya. "Makanya jangan cuma Kakek Sugiono aja yang kau tonton, Leman. Sesekali nonton Mel Gibson."
"Film apa?"
"Braveheart, lah. Masak Ikatan Cinta."
Abad tiga belas, William Wallace menggalang dan kemudian memimpin pergerakan pertama Skotlandia untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasaan kerajaan Inggris. Wallace akhirnya mati, dipenggal, tapi kata ‘freedom’ yang diteriakkannya sesaat sebelum pedang algojo menebas lehernya, membangkitkan secara luar biasa semangat perlawanan rakyat Skotlandia.
Abad berganti, tahun demi tahun berlalu. Perlawanan, dan kebencian yang tumbuh pascakematian Wallace, tidak selalu muncul dalam bentuk purba. Skotlandia yang secara de jure merdeka pada 1326, secara umum boleh dikata berada di posisi antara Wales dan Republik Irlandia. Mesra tidak, terlalu frontal melawan juga tidak.
Dan di tengah situasi begini, sepak bola Inggris justru membikin harum nama sejumlah orang Skotlandia. Kenny Dalglish, Denis Law, Gordon Strachan, Graeme Souness, dan sudah barang tentu dua pelatih terbesar Manchester United, Alexander Matthew Busby dan Alex Ferguson. Keduanya mendapatkan gelar-gelar kebangsawan kehormatan yang tinggi dari Kerajaan Inggris.
"Kalok bicara sejarah, sampai besok pun nggak akan siap-siap kita ini. Entah betul pun entah tidak yang kelen cakapkan itu," kata Jontra Polta sembari mengaduk kopinya yang baru saja diantarkan Tok Awang. "Bagus kita omongkan hal yang lebih berfaedah. Antara Inggris dan Skotlandia ini siapa yang akan menang?"
Jontra Polta memberikan petunjuk dan gambaran-gambaran, dan Kedai Tok Awang segera riuh oleh analisis yang diyakini benar oleh pengampunya sendiri. Meski demikian, sebagian besar –untuk tidak menyebut semua– ternyata menjagokan Inggris. Dari semua lini, Inggris unggul. Mereka yang tidak, sebenarnya menempatkan The Three Lion –julukan tim nasional Inggris– juga sebagai tim dengan persentase peluang menang lebih tinggi. Namun, godaan hitung-hitungan Jontra Polta membuat mereka memilih memegang Skotlandia.
"Waktu lawan Kroasia sebenarnya main Inggris pun enggak bagus-bagus kali. Enggak meyakinkan. Macam mana, lah, kubilang, ya. Kalok dibandingkan Italia, ya, jauh. Terutama di lini tengah. Inggris enggak punya pemain yang betul-betul bisa mengendalikan sektor gelandang. Untung, lah, Luka Modric sudah tua. Sekiranya dia dua tiga tahun saja lebih muda, kujamin lain ceritanya," sebut Leman Dogol.
Zainuddin mengangguk. "Bisa kalah lagi kayak di Piala Dunia 2018, ya. Tapi, Man, kalau saya lihat lebih jauh, barangkali ada juga faktor gugup. Beban mental. Sekaligus beban moral juga. Itu, kan, laga perdana, dan rekor mereka boleh dibilang buruk kali. Sembilan kali main di laga perdana, Inggris enggak pernah menang. Lima kali orang itu kalah, empat seri," katanya.
"Eh, by the way, ocik dengar tadi kelen bahas-bahas Mel Gibson," sergah Ocik Nensi yang sejak tadi tenggelam dalam pergosipan seru dengan Tante Sela. "Kok enggak lanjut?"
"Malas, Cik. Enggak berfaedah," sahut Jontra Polta.
"Kenapa rupanya, Cik? Idola ocik juga dia? Mirip juga sama Tok Awang?" tanya Sudung pula.
Ocik Nensi menggeleng. "Mana pulak mirip. Kalok abang kelen ini lebih mirip Rhoma Irama."
"Makjang! Ngeri, ah! Tok Awang kayak Rhoma Irama. Ocik siapa? Yati Octavia?"
"Lenny Marlina, dong."(t agus khaidir)
Pernah dimuat Harian Tribun Medan
Jumat, 18 Juni 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/laga-lama.jpg)