Kedai Tok Awang

Saatnya Enrique Kasih Bukti

Terlepas dari perdebatan soal Moreno, semua sepakat bahwa laga Spanyol kontra Swedia akan jadi momentum bagi Luis Enrique untuk membuktikan pilihannya

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/JAVIER SORIANO
Pelatih Tim Nasional Spanyol, Luis Enrique 

  • Euro 2020
  • Spanyol vs Swedia

TIDAK semua tim masuk ke arena pertarungan Euro 2020 dalam kondisi yang baik-baik saja. Ada beberapa yang membawa serta konflik internal. Namun, di antara kelompok ini, adalah Spanyol yang boleh dibilang paling banyak mendapat sorotan.

Dua pemain mereka terpaksa dicoret lantaran terpapar Covid-19 –situasi yang membuat seluruh anggota skuat (termasuk jajaran pelatih dan ofisial) harus menjalani isolasi. Artinya, persiapan mereka secara teknis (dan psikologis) sedikit banyak juga terganggu.

Padahal, persoalan lain belum lagi tuntas. Iya, Luis Enrique, Pelatih Kepala Tim Nasional Spanyol, membuat gebrakan mencengangkan. Untuk kali pertama dalam sejarah keikutsertaan La Furia Roja –julukan timnas Spanyol– di kejuaraan besar, tidak seorang pun pemain Real Madrid menjadi bagian dari skuat. Dua pemain lain yang sebelumnya juga digadang masuk skuat, Iago Aspas dan Saul Niguez, juga tidak dibawa serta. Di bawah mistar tak ada nama kiper Chelsea, Kepa Arrizabalaga.

Enrique pun dihajar kecaman. Meski pemain-pemain yang ditinggal itu telah "berbicara", memberikan semacam pemakluman; seperti yang dilakukan Sergio Ramos lewat akun Instagramnya, kecaman terhadap Enrique tidak berhenti. Pun setelah ia menunjukkan "bukti awal" pada laga uji coba melawan Portugal, 4 Juni lalu. Skor imbang 0-0, dan Spanyol sangat dominan. Mereka menguasai bola sebanyak 66 persen.

"Khas Barcelona sekali. Sayangnya Barcelona di era Quique Setien. Oper sana, oper sini, nggak gol-gol juga," kata Jek Buntal.

Walau tidak pernah menyebut secara terbuka, sudah jadi rahasia umum orang-orang di Kedai Tok Awang bahwa Jek Buntal selalu memfavoritkan Spanyol di kejuaraan-kejuaraan besar. Dia suporter Real Madrid. Pembenci Barcelona, bahkan sampai ke pemain-pemainnya. Dia punya beragam ejekan kepada Sergio Busquets.
Pendek kata, Spanyol memang diragukan. Tentu, keraguan ini tidak untuk perkara lolos dari grup. Berada di Grup E, rasa-rasanya, dalam kondisi paling lemah sekalipun mereka tetap bisa lolos ke fase gugur. Sesial-sialnya sebagai runner-up.

Namun untuk mengulang pencapaian tahun 1964, 2008, dan 2012 [terutama 2008 dan 2012], sepertinya memang akan sulit. Satu di antara penyebabnya adalah tidak adanya striker yang betul-betul bisa diandalkan.

"Awak tak tahu, lah, pulak siapa striker orang itu di Euro 1964. Lahir pun awak belum, ya, kan. Tapi kalok di 2008 dan 2012, ada Fernando Torres. Tahun 2008 dia duet sama David Villa. Empat tahun kemudian, kalok tak silap jadi striker tunggal, dibantu sama Pedro. Sekarang siapa? Tak kenal awak," ucap Sangkot.

"Itulah, nampak kali kau jarang menonton Liga Spanyol," kata Leman Dogol menimpali. Leman "musuh" Jek Buntal. Dia suporter Barcelona. Tiap kali El Clasico digelar mereka bisa perang dingin sepekan penuh. Namun untuk kejuaraan-kejuaraan antarnegara dia pegang Argentina, melulu lantaran Lionel Messi yang diidolakannya sepenuh hati. Di Piala Eropa, dia pegang Italia. Selain Barcelona, Leman Dogol juga menyukai AC Milan.

"Kenapa rupanya, Bang? Ada yang mantap?"

"Memang, kalok dibilang mantap-mantap kali pun sebenarnya, ya, enggak. Tapi bisalah agak dibawa ke tengah. Namanya Gerard Moreno. Pemain Villareal."

Moreno menjadi sensasi di La Liga musim 2020/2021. Dia menjadi El Phicici; pencetak gol terbanyak, kedua (bersama Karim Benzema), tertinggal tujuh gol dari Lionel Messi yang melesakkan 30 gol dan unggul dua gol dari Luis Suarez. Dengan kata lain, di jajaran tukang gedor lokal, tidak ada yang mendekati kedigdayaan Moreno. Satu-satunya pesaing, Aspas (Celta Vigo, 14 gol), justru ditepikan Enrique.

Persoalannya adalah, Moreno minim pengalaman internasional. Di usia yang sudah sampai di angka 29, dia baru memiliki 11 caps dan melesakkan lima gol. Tiga gol terakhir diciptakannya ke gawang Malta dan Rumania di laga kualifikasi Euro 2020.

"Melawan Polandia, melawan Slovakia, atau bahkan mungkin melawan Swedia, Si Moreno ini bisa becalak. Bisa, lah, dia agak-agak patentengan. Tapi di hadapan Perancis atau Jerman, misalnya, atau Italia yang punya bek-bek ganas, kukira agak sulit dia bergerak bebas. Bukan soal skill saja. Ada pengaruh mental juga ini,” kata Mak Idam pula.

Dia, bersama Ane Selwa, Sudung, Jontra Polta, dan Pak Udo sejak tadi membahas insiden yang menimpa gelandang Denmark, Christian Erikssen. Bilang Jon, andai Erikssen kolaps dan tidak selamat, akan memberi pengaruh yang sangat besar pada kejuaraan ini.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved