Breaking News

Kedai Tok Awang

Masihkah Menggigit Saat Terjepit?

Joachim Low tak boleh mengacuhkan fakta bahwa mereka tidak lagi memiliki tukang gedor kualitas wahid. Mereka cuma punya Serge Gnabry dan Timo Warner

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/BERNADETT SZABO/MATTHIAS HANGST
(FOTO COMBO) Pemain Tim Nasional Portugal Cristiano Ronaldo (kiri) dan pemain Tim Nasional Jerman Thomas Mueller. Kedua pemain akan berhadapan dalam laga Portugal versus Jerman di Alianz Arena, Munich, Jerman, Minggu (20/06/2021) dinihari (WIB) 

  • Euro 2020
  • Portugal vs Jerman

PERKIRAAN bahwa Jerman akan dapat mengimbangi permainan Perancis di lini tengah tidak meleset. Bahkan boleh dibilang merekalah yang dominan. Namun perkiraan lain perihal kesulitan mereka untuk membongkar pertahanan Perancis untuk menciptakan gol, juga terbukti. Jerman hanya menguasai lapangan, mendikte tempo, tetapi sama sekali tidak punya greget dalam menuntaskan serangan.

Bola berpindah dari kaki ke kaki. Umpan pendek, umpan jauh, umpan silang. Dari sisi kiri bergeser ke kanan, ke tengah, ke belakang, pelan-pelan beringsut ke depan. Rapi dan tenang.

Masalahnya, menit ke menit lewat, Hugo Lloris tenang belaka di bawah gawang Perancis. Sedikit sekali dia mendapatkan gempuran yang mengharuskannya untuk betul-betul berjibaku.

"Ibarat kata oper sana oper sini, menggolkan tidak juga. Padahal siapa yang menang dalam pertandingan bola itu bukan yang paling lama menguasai bola. Bukan juga yang paling banyak mengoper," kata Lek Tuman sembari tertawa-tawa.

"Betul, Pak Kep," ujar Ane Selwa menimpali. "Perancis sesekali aja nyerang bisa cetak tiga gol."

Sangkot menegur Selwa. "Satu, Ne. Jangan pande-pandean pulak ane menambah-nambahi. Dua gol lain itu, kan, enggak sah. Offside!"

"Iya, tahu aku Perancis menang satu kosong. Maksudku, Kot, kalok, lah, enggak ada VAR, apa enggak makin telak kalah orang itu."

VAR memang menyelamatkan Jerman dari tamparan yang lebih keras. Tiga kosong di kandang sendiri, dari bebuyutan pula, jelas bukan perkara main-main. Namun skor akhir hanya 1-0. Wasit menganulir dua gol Perancis lantaran Kylian Mbappe dua kali "kepergok" berada di belakang orang terakhir Jerman. Sekali saat hendak melepaskan tembakan ke gawang, sekali lagi ketika menerima umpan. VAR mendeteksi kakinya menjejak di garis merah.

"Padahal cantik kali gol Mbappe itu, ya. Sudah dikepung pun masih bisa dia berkelit dan melepaskan tendangan melengkung kayak body Pisang Barangan. Gol Benzema juga kelas. Terutama prosesnya. Serangan balik cepat. Sayang, Si Pogba telat sekian detik aja mengirimkan umpan ke Mbappe. Sempat dikontrolnya bola, lalu balik badan. Coba kalok dia lebih cepat nengok pergerakan Mbappe di sayap kiri. Ah, keren kali itu," sebut Mak Idam.

Kekalahan membuat Jerman berada di posisi terjepit. Mereka mesti menang di laga kedua kontra Portugal malam nanti. Seri, apalagi kalau sampai kalah lagi, maka konsekuensinya jelas: Jerman, untuk kali keempat sepanjang sejarah keikutsertaan di Euro, tersingkir bahkan sebelum fase gugur dimulai. Sebelumnya mereka jeblok di Euro 1984, 2000, dan 2004.

"Saya rasa Jerman akan selamat. Mereka punya mental juara. Enggak gampang patah semangat. Sudah sering mereka buktikan. Di saat terjepit mereka justru menggigit," kata Tok Awang yang belum sepenggalan napas tiba di kedai. Ocik Nensi menyuruhnya membeli gula merah di kedai sampah. Bersamaan dengan kedatangan Tok Awang tiba pula Jontra Polta.

Tentu, seperti kata Tok Awang, semangat Jerman tak perlu diragukan. Sudah terkenal sejak lama. Melawan Jerman, jangan sesekali menganggap diri menang sebelum pertandingan betul-betul rampung. Apalagi sok merasa di atas angin sebelum laga dimulai. Brasil contohnya. Jerman meremuk-redamkan mereka sampai tujuh gol di hadapan pendukungnya.

Maka jika Brasil asli saja pun bisa diperlakukan sedemikian nista, konon pula sekadar "Brasil ala-ala" –Portugal kerap disebut dengan julukan "Brasilnya Eropa". Sikap terbaik adalah tetap waspada. Jangan pernah jemawa.

"Portugal tim berpengalaman. Juara bertahan juga. Artinya bukan sembarang. Dan jangan lupa, masih ada Ronaldo di sana," sebut Ane Selwa.

Cristiano Ronaldo sebenarnya sudah jauh berjarak dari usia emas. Tiga puluh enam jalan 37. Meminjam istilah birokrasi Indonesia, bagi Ronaldo seyogianya ini merupakan MMP atawa Masa Persiapan Pensiun. Masa mulai menepi dari hiruk-pikuk persaingan kompetisi tingkat tinggi dan pindah ke tempat yang lebih adem. Entah ke Amerika Serikat, ke Timur Tengah, atau ke satu di antara dua liga besar di Asia, Chinese Super League dan J-League.

PEMAIN Portugal Pepe (kanan) dan Cristiano Ronaldo saat berlatih di Stadion Allianz Arena, Munich, jelang laga kedua Grup F Euro 2020 kontra Jerman.
PEMAIN Portugal Pepe (kanan) dan Cristiano Ronaldo saat berlatih di Stadion Allianz Arena, Munich, jelang laga kedua Grup F Euro 2020 kontra Jerman. (AFP PHOTO/CHRISTOF STACHE)
Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved