Breaking News:

Kedai Tok Awang

Spaghetti Rasa Lamborghini

Sejak 2018, Mancini melewati 32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan, tujuh imbang dan hanya dua kali mengalami kekalahan.

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/FILIPPO MONTEFORTE
AFP PHOTO/FILIPPO MONTEFORTE PEMANASAN - Pelatih Tim Nasional Italia, Roberto Mancini mengawasi para pemain saat melakukan pemanasan dalam sesi latihan jelang laga perdana Euro 2020 kontra Turki, kemarin. Pertandingan digelar di Stadion Olympico, Roma, Sabtu (12/6) dinihari (WIB) 

DI antara kontestan-kontestan yang dianggap layak jadi unggulan di Euro 2020, adalah Italia yang paling jarang disebut. Terlebih-lebih di Kedai Tok Awang. Sejak Euro mulai menjadi percakapan-percakapan yang hangat di sini, Italia hampir-hampir tidak pernah jadi pembahasan.

Sekiranya pun dibahas, maka itu akan selalu menyangkut kegagalan-kegagalan dari klub Serie A untuk menjadi kampiun di kejuaraan regional. Entah itu Liga Champions atau Liga Europa. Juventus, AC Milan, AS Roma, menjadi bahan percakapan sekadar untuk meletupkan tawa. Pun Inter yang baru saja juara.

Hal ini agak mendongkolkan bagi Mak Idam. Sebagai suporter AC Milan, dia merasa otomatis mesti menjadikan tim nasional Italia sebagai favorit juga.

"Sebenarnya aku heran juga. Boleh dibandingkanlah kualitas skuat Italia sama yang lain. Sama Jerman atau Inggris sajalah, misalnya. Enggak beda jauh. Bahkan boleh dibilang setara, lah. Buktinya jadi unggulan juga, kan? Tapi Jerman sering dibicarakan. Inggris juga. Italia enggak. Kecuali mungkin sama orang-orang Italia aja. Artinya, kan, jelas. Italia enggak diunggulkan jadi juara," katanya dengan nada bicara berapi-api.

Tok Awang menyabarkan. Disebutnya bahwa barangkali para pengelola rumah-rumah taruhan, juga petaruh-petaruhnya, silau oleh kemengkilapan skuat negara-negara lain. Siapa yang bisa mengelak dari pesona Perancis? Inggris yang begitu-begitu saja pun masih jadi magnet yang sangat kuat. Namun Italia, sejak lama, memang jarang sekali berada di posisi unggulan teratas. Bahkan saat mereka menjadi tuan rumah pun tidak. Di Italia 1990, Italia ditempatkan di belakang Jerman dan Argentina yang pada akhirnya memang benar-benar sampai ke final.

"Tak masalah kali itu, Dam," ujar Wak Razoki. "Kalok aku malah bagus kayak gini. Enggak diunggulkan tahu-tahu juara. Ingat kau Piala Dunia 2006?"

Italia kala itu datang dengan komposisi yang terbilang "biasa saja". Skuat yang bahkan relatif tua. Sepuluh pemain berada di kisaran usia 28 dan 29, serta enam pemain di atas 30. Tertua, Angelo Peruzzi, 36 tahun.

Nyatanya, Italia tiba juga di final. Memang ada juga cibiran melesat. Italia diuntungkan karena berada di grup mudah dan mendapatkan lawan-lawan yang kurang keras pula di fase gugur. Tergabung di Grup G, Italia memuncaki klasemen setelah menggulung Ghana dan Republik Ceko, serta bermain imbang melawan Amerika Serikat. Di perdelapan final, Gli Azzuri –julukan tim nasional Italia– menyingkirkan Australia dan berikutnya mendepak Ukraina.

Secara tradisi dan sejarah, kelimanya tentu tak dapat dihadapkan bermuka-muka dengan Italia. Namun di babak empat besar mereka diadang Jerman, dan lolos juga.

"Ah, Jerman waktu itu belum kuat," sergah Leman Dogol. "Si Klinsmann masih membenahi tim setelah hancur lebur di tangan Voeller di Euro 2004."

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved